
Seperti yang sudah Valery pikirkan dari jauh dari hari jika semua ini akan terjadi dengan cepat hingga akhirnya hanya ada antara hidup dan mati yang menjadi penentu hidup selanjutnya.
Dokter mengatakan jika darah yang keluar dari mulut Valery begitu banyak hingga membuat doktet harus harus mementingkan kestabilan tekanan darah Valery lebih dahulu daripada mencari luka atau penyakit yang wanita itu derita.
Dengan semua alat yang menempel pada tubuh Valery, membuat sara sakit dan kebingungan didalam pikiran Woojin kini membuatnya tidak berdaya, jika dihadapkan seperti kekasih mana yang tidak akan terluka melihat orang yang mereka cintai tergeletak dengan banyak alat sebagai tumpuan harapan terakhir bagi kehidupan yang belum ada kejelasan.
Woojin terduduk di sisi ranjang setelah dokter mengatakan jika Valery sudah melewati masa kritisnya setelah diberikan tiga kantong darah, wanita itu baru saja melewati masa kritisnya bukan berarti Valery bisa langsung sadar, dokter malah mengatakan jika Valery sekarang koma dan tak tahu kapan akan sadar, dengan sedih Woojin mengucap kening Valery lalu menciumnya sedikit lebih lama.
Setelah itu dia kembali duduk dan memegang tangan Valery yang dipenuhi dengan alat yang tidak begitu Woojin mengerti, tangannya tanpa pucat dan sangat dingin.
“Valery selama apapun dirimu tertidur di sana, aku tidak akan lelah untuk menunggumu kembali, walau banyak waktu akan yang aku lewatkan tanpa dirimu” ucap Woojin, dia mengikuti saran dokter untuk selalu mengajak pasien untuk mengobrol yang kemungkinan akan didengar oleh Valery.
“aku tidak akan bertanya apapun jika kamu tidak ingin aku menanyakan apa yang terjadi, tapi bisakah jangan tinggalkan aku”
Sekeras apapun Woojin untuk tidak bersedih tetap saja, ketakutan akan kehilangan Valery selalu menjadi mimpi buruk yang tidak ingin dia lihat, jika itu terjadi Woojin akan terus menyalahkan dirinya sebagai pelaku utama dari semua kekacauan ini yang terjadi.
“Woojin, kamu harus beristirahat, kamu tidak boleh begitu egois jika membiarkan jutaan orang kehilangannya pekerjaan cuman karena satu orang” ucap Dokter Bella yang kini sudah berada di belakang tubuh Woojin yang tidak pernah mengalihkan perhatian dari Valery.
“aku tidak akan meninggalkan Valery, dia hanya punya diriku saat ini”
“Woojin, kau ini seorang Ceo dari Grup Huang, bayangkan jika perusahaanmu yang kau bangun dengan usaha sendiri hancur hanya karena dirimu lebih mementingkan wanita yang bahkan tidak tahu hidup atau mati”
“bisakah kau pergi? Aku benar-benar muak dengan semua ini” ucap Woojin, dia sangat membenci jika orang lain tidak mau berpihak padanya, padahal jika Bella mengerti situasinya pasti wanita itu akan membiarkan Woojin seperti ini untuk beberapa saat atau mungkin lebih beberapa hari.
__ADS_1
“kenapa kau selalu seperti ini Woojin, aku yang selalu bersama beberapa tahun lalu, kamu bahkan tidak pernah mau melihatku sebagai seorang wanita, aku mencintaimu melebihi dia” ucap Bella, dia juga menarik Woojin untuk melihat ke arahnya, seperti yang dikatakan orang-orang jika di sebuah pertemanan antara wanita dan pria bohong jika salah satunya tidak menyimpan perasaan, itulah juga yang membuat Bella bertahan selama ini disisi Woojin tanpa memikirkan orang lain yang mencoba mendekatinya, rasa cintainya terhadap Woojin begitu besar hingga dia rela melakukan apapun untuk berada disisi Woojin walau caranya sangat salah.
“Bella, tenanglah jangan seperti ini, katakan padaku jika ucapanmu barusan adalah kebohongan, aku mohon ...” ucap Woojin, dia berusaha untuk memeluk tubuh Bella untuk menenangkan dirinya, walau mungkin akan ada penolakan dari wanita itu. Woojin tahu jika menyukainya sudah sangat lama namun dia tidak bisa menolak Bella fakta itu jika dirinya tidak bisa mencintai wanita itu yang selalu ada disisi di masa sulitnya.
“Tidak! Kali ini aku tidak bisa seperti itu Woojin! Itulah kebenarannya sekeras apapun kau untuk mengelak aku memang sudah mencintaimu Woojin”
Bella menarik tubuh Woojin yang akan meninggalkan dirinya, bahkan wanita itu sudah lancang mencium Woojin di hadapan wanita yang pria itu sukai, dia tidak perlu jika Woojin akan memarahinya yang atas perbuatannya, wanita itu sudah terlalu lama menderita membiarkan Woojin tidur bersama dengan Valery dan juga kemesraan lainnya yang terus membakar hatinya.
Dan Woojin, pria itu antara bingung dan juga terkejut pasalnya Bella sudah terlalu lancang, dengan sedikit kasar Woojin menarik bahu Bella untuk menjauh dari tubuhnya.
“cukup! Bukankah kita sudah membahasnya ini beberapa tahun yang lalu Bella? Haruskan aku sekarang memanggilmu Nona Kim?”
“Woojin, apakah kau lupa kita pernah tidur bersama sebelum kau bertemu dengan wanita, ah aku lupa beberapa kali”
“aku tegaskan kembali jika kita hanya melakukannya sekali dan itu terjadi karena sebuah kecelakaannya, saat itu kau tidak mempermasalahnya kenapa kau menjadi seperti ini?”
“Tidak! Bella! Kau tidak bisa seperti ini padaku! Tolong lupakan segalanya yang terjadi saat ini! Aku mohon tetaplah bersamaku” ucap Woojin, dia tidak mau membiarkan Bella pergi begitu saja, pria itu sampai menarik tangan wanita dan itu menahannya dirinya keluar dari ruangan.
“ tetap bersamamu apa kau gila Woojin? Aku tidak bisa terus melihatmu lebih memperdulikan wanita itu! Aku seorang wanita yang butuh kasih sayang dan sebuah hubungan”
“Bella, apa kau yang bicara? jangan melewati batasan yang sudah kita buat, kasih sayang apa lagi yang kau butuhkan? Selalu memberikannya bukan?”
“kau memang pria brengsek Woojin! Persetanan dengan semua batasan! Kau bahkan sudah melewati batasanmu sendiri, kau bahkan jatuh cinta pada wanita itu yang awalnya kau mengatakan jika hanya ingin mempermainkan dirinya, dan ingat satu hal Woojin aku submisif-mu, kita memang pernah tidur bersama tapi bukan selamanya aku akan menurut padamu!”
__ADS_1
Bella berhasil dari Woojin yang begitu kuat hingga membuat pergelangan tangannya, semua ini sudah diluar kendali dan juga pikiran Bella, dia tidak mengerti kenapa Woojin sangat mudah mempermainkan dirinya seperti wanita sebelumnya, dia melakukan semua ini seperti dirinya seorang dominan yang berkuasa atas segala hidup dirinya, dirinya yang selama ini selalu ada untuk pria itu dan memberikan segala kebutuhan termasuk biologisnya yang malah membuat Bella jatuh dalam lubang hitam tanpa tahu akan berdiri disana tanpa pertolongan apapun.
Dijalanan koridor rumah sakit yang sangat sunyi dan sepi. Bella mencoba menghapus segala kesedihannya entah itu air mata atau segala kesakitan hatinya yang terus di acuhkan oleh Woojin, walau memang Bella lebih tua dari Woojin tapi luaran sana banyak yang menikah tanpa memikirkan usia mereka, salahkah jika Bella ingin menikah dengan Woojin walau mereka pernah tidur bersama namun tidak sampai dirinya hamil karena Woojin selalu berhati-hati dalam melakukannya.
Dia tidak pernah berpikir akan seperti ini lagi setelah sekian lama mencoba menguatkan hatinya untuk tetap menerima Woojin dan menjadikan dirinya hanya wanita yang dia butuhkan, dengan sedih Bella berjalan ke arah parkiran mobil untuk segera pergi sebelum bertemu dengan Han yang akan menahan dirinya lebih lama lagi disini.
Dan benar saja saat Bella akan membuka pintu mobilnya dia melihat Han yang baru saja keluar dari mobil Woojin sambil membawa barang kebutuhan pria itu, dengan jas hitamnya Han mendekati Bella yang mencoba menghindari tatapannya.
“bukankah sudah kukatakan untuk berhenti menyakiti perasaanmu?” ucap Han, dia mengeluarkan sapu tangannya dari balik jas hitamnya.
“kau tidak akan mengerti apapun Han, kau hanya pria kaku yang tidak mengerti tentang cinta, di otakmu hanya ada uang dan pekerjaan”
“ jika hanya ada uang dan pekerjaan di otakku bukan itu termasuk kedalam hatiku, hingga saat ini aku masih mencintai dirimu”
“tidakkah dirimu lelah mengejarku terus Han?”
“lalu bagaimana dengan dirimu, kamu masih menaruh harapan pada Tuan Woojin bukan?”
“kau menyebalkan!”
“tunggulah disini, aku tahu jika setelah ini hal yang akan kamu lakukan adalah pergi ke klub dan minum banyak bir atau vodka hingga dirimu mabuk” ucap Han, dia mendorong Bella untuk duduk di kursi mobilnya dan kemudian dia mengambil kunci mobil Bella.
“Han! Berhentilah bertindak seperti kau adalah kekasihku!”
__ADS_1
“jika itu maumu kita bisa berkencan nanti”
Dengan gayanya yang selalu terlihat keren Han meninggalkan Bella begitu saja didalam mobil yang terkunci, jika bukan karena dia begitu ingin melindungi Bella, Han tidak akan menahan dirinya untuk tetap bekerja bersama Woojin.