
Woojin memerintahkan Han untuk memutar balikan mobilnya menuju Cafe, Woojin saat hafal dengan raut wajah pria yang sudah mengantar Valery kembali kerumah, dia adalah teman pria SMA-nya Woojin.
Dia menunda pertemuannya dengan dokter pribadinya, Woojin harus menemui pria itu yang dulu menjadi Rivalnya selama di SMA, hingga menempuh waktu yang cukup panjang akhirnya mobilnya Woojin berhenti di depan Cafe yang sudah buka itu.
Dia memerintahkan Han untuk meninggalkannya, dan mengutusnya untuk menemui dokter Bella yang mungkin sudah menunggunya, dengan satu tangan yang diletakan di saku celana dengan santai Woojin berjalan membuka pintu Cafe.
Woojin mencari sosok pria yang sudah lancang mendekati wanitanya, ingin sekali Woojin memberikan tampan keras pada pipinya atau menunjukkannya.
“kau mencariku? Tuan Jin atau Tuan Huang Woojin, ah ... Namamu sangat sulit untuk diucapkan” ucap Justin yang baru saja keluar dari dapur. Dengan santai di berjalan mendekati Woojin yang terus menatapnya dengan tajam.
“ada hal penting apa hingga membuat Tuan Woojin mendatangi Cafeku di pagi yang cukup cerah ini” ucap Justin lagi.
“ku rasa kamu sudah tahu alasannya”
Woojin dan Justin ini keduanya sedang memandang satu sama lain, mereka berdua memutuskan untuk mencari tempat untuk membicarakan hal yang sudah lama tidak mereka lakukan setelah sekian lama tidak bertemu.
“kapan kamu mengenal Valery?” tanya Woojin, pria itu sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya pada pria yang ada di hadapannya.
“oh ternyata alasan kesini karena wanita itu?” jawab Justin, dengan santai dia meminum Coffe yang ada di tangannya.
“menjauhlah darinya jika tidak--”
“tidak apa Tuan Woojin? Atau Kamu ingin menghancurkan usahaku lagi?”
“kita kembali lagi ke masa lalu, dimana kau merebut milikku dan sekarang aku yang akan merebut milikmu”
“Valery bukanlah barang yang bisa direbut ataupun dimiliki orang lain!”
__ADS_1
“benarkah? Apa kau jatuh cinta padanya? Wah..hebat sekali”
Dengan sangat keras Justin menepuk tangannya didepan Woojin yang menatapnya dengan tatapan marahnya.
“jangan libatkan apapun dengan Valery”
“ku ingatkan satu hal Woojin kau masih berhutang satu permainan dengan diriku, aku masih tidak mau kalah denganmu”
Justin menatap Woojin dengan tatapan dendam yang sudah lama dia simpan didalam lubuk hatinya yang paling dalam, dendam yang selama ini selalu membuatnya hingga ke titik dimana Justin ingin menghancurkan hidup Woojin, kini dendam itu kembali membara dihatinya setelah sekian lama, sudah waktu untuk membalas apa yang sudah pria itu lakukan dimasa lalu yang tidak pernah Justin lupakan hingga sekarang dan jangan lupakan rasa sakit yang teramat menyakitkan untuknya.
“Justin bisakah kamu melupakan permainan gila itu?”
Woojin, pria itu tidak berkutik saat Justin mengungkit tentang masa lalu mereka yang selalu menjadi mimpi buruk baginya disetiap malam dan menjadi hal yang selalu membuat Woojin menyesali semua yang telah terjadi pada dirinya di masa lalu dengan Justin.
“melupakan? Kau yang membuat permainan ini kau juga yang harus mengakhirinya, kali ini aku yang akan menjadi dalang dalam permainan dan kau adalah bonekaku”
“kau pikir aku akan mau menjadi bonekamu? Saat dulu aku yang memimpin permainan ini, aku tidak pernah memperalatmu ataupun menjadi boneka”
Woojin terdiam, rasa gugup mulai menguasainya dirinya secara perlahan, tangannya mulai bergetar saat dirinya ingin meminum Coffe yang ada di meja untuk menghilangkan rasa hausnya yang membuatnya sulit menelan air liur.
“kali ini kamu sendiri yang akan menghancurkan hidupnya, aku hanya akan menjadi pihak yang seperti malaikat di depannya”
“dia memang sudah hancur, kau ingin menghancurkan dirinya apalagi? Aku sudah memperkosanya dua kali”
“brengsek!”
Justin menarik pakaian Woojin sampai pria itu tidak bisa memalingkan pandangannya, dengan saat marah Justin memberikan tinjuan pada pipi Woojin sangat keras hingga merusak bibirnya dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
“kau akan selalu gagal dalam mengambil milik orang lain, ingatlah satu hal wanitamu yang memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada hidup denganmu”
Justin menarik lagi Woojin yang tadi masih tergeletak dilantai, dia melakukan hal yang sama lagi hingga Woojin sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, darah sudah banyak keluar dari mulutnya, orang yang ada disekitar mereka bahkan tidak berani melangkah mendekatinya.
“itu karena kau yang menghancurkan hidupnya brengsek! Aku pastikan jika kali ini kau akan kehilangan Valery, ingatlah itu Woojin”
Justin meninggalkan Woojin begitu saja, dia tidak ingin membuat Cafenya menjadi sepi karena perbuatannya, dan Woojin pria itu mencoba untuk bangun dari posisinya, berjalan dengan wajah yang sudah tidak rapi seperti awal, pakaiannya juga sudah berlumuran darah.
Bawahannya Woojin yang melihat tuannya seperti segera membantunya untuk masuk kedalam mobil.
Selama diperjalanan kembali pulang bayangan tentang masa lalu mulai terbenam di pikiran Woojin, di masa lalu Woojin bukanlah pria baik bisa dibilang dia pria brengsek yang suka mengganggu kehidupan orang lain dengan kekuasaan yang dia miliki, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuat permainan gila dengan rival di SMA-nya, awalnya permainan yang mereka lakukan cukup membuat Woojin senang dan akhirnya membuatnya kecanduan seperti orang gila.
Justin, pria itu menatap foto seorang gadis yang tersenyum di sebuah ayunan di taman bermain, dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya, gadis yang menjadi salah satu korban dari permainan yang dibuat olehnya dan juga Woojin, awalnya Justin memang hanya ingin menyakiti gadis itu tapi ternyata dia salah, Justin malah menaruh hati pada wanita itu hingga melanggar peraturan yang dibuat hingga akhirnya dia menyesali semua yang ada.
Akhirnya mobilnya sampai didepan rumah yang Woojin sewa beberapa minggu yang lalu, dengan wajah yang sangat lelah dia melangkah masuk kembali ke rumah. Saat masuk kedalam rumah dia melihat Valery yang sedang menikmati makan yang ada di tangannya, dia tidak terlihat terkejut saat melihat wajah Woojin yang penuh dengan luka tanpa diminta wanita itu segera mendekati Woojin yang tertunduk malu.
“apa yang terjadi?”
“bukan hal penting, jangan menggangguku”
Woojin menepis tangan Valery yang mencoba menyentuh luka di wajahnya, namun Valery mau menerima penolakkan segera menarik Woojin untuk duduk di sofa ruang tamu, dia mencari kotak P3K.
Beberapa menit kemudian dia kembali, Valery menuangkan alkohol ke dalam kapas lalu dengan hati-hati membersihkan sisa darah yang sudah mengering di bibir Woojin, pria itu hanya diam saja dia tidak merintih kesakitan atau pun mencoba menghentikan Valery.
Rasanya Woojin ingin sekali memperlambat waktu agar dirinya bisa melihat Valery yang begitu perhatian tidak ada ocehan cerewetnya atau wajah yang penuh cuek, hanya ada wajah yang ketenangan yang membuat Woojin merasa bersalah setiap kali melihatnya.
Woojin menggenggam tangan Valery yang membuat wanita itu langsung menatapnya, sedetik berikutnya keduanya saling memang dalam kesunyian yang menjadi teman mereka, namun Valery segera memalingkan pandangan dan pergi meninggalkan Woojin dengan kotak P3K yang ada di tangannya.
__ADS_1
“terimakasih Valery” ucap Woojin.
Valery tidak menjawab apa lagi menoleh ke arah pria itu, dia tetap melanjutkan langkahnya kembali kamar dan meninggalkan makan siangnya yang belum disentuh sama sekali, dia baru saja membuatnya namun Valery enggan untuk memakannya.