
Waktu makan siang ….
Pelayan itu berkata benar jika Woojin dan kakek-nya kembali tepat saat semua hidangan menu makan siang telah di siapkan diruang makan.
Mata Valery tidak bisa berbohong jika semua hidangan begitu menggoda dirinya, namun ada beberapa hidangan yang membuatnya tak ingin memakannya, rasanya dja ingin membuang makanan itu atau setidaknya menjauhinya.
Hari ini entah sudah berapa banyak Valery pergi ke bathroom, wajahnya mencoba menahan untuk tidak muntah lagi saat melihat makanan yang membuat dirinya mual, dia duduk dihadapan sang kakek, calon mertua untuk Valery. Jadi sebaik mungkin Valery mencoba menjaga sikap dan etika makannya.
Padahal jika tidak ada pria tua itu mungkin Valery sudah memasukkan semua menu makanan itu kedalam piringnya, tapi kali ini dia hanya memilih memakan sup ayam dan entah itu namanya tapi rasanya begitu enak dan nyaman ketika Valery memakannya.
Makan siang itu berjalan dengan suasana tenang tapi begitu tegang bagi Valery, tak ada suara ketukan antara piring dengan sendok atau-pun sumpit, benar-benar suasana kerajaan yang sangat kental disana. Dibelakang mereka para pelayan bahkan tidak menimbulkam suara apapun membuat Valery semakin tidak kuat berada disana.
Ini bukan kehidupannya dan ini juga bukan gaya hidup Valery.
Dia menatap kearah Woojin yang duduk di samping sang kakek, pria itu belum berbicara dengannya sejak kembali dan bakan dari raut wajahnya seperti ada hal yang coba untuk dia tutupi dari Valery.
“Aku belum tahu siapa namamu?” tanya sang kakek, dia menatap kearah Valery seperti menganggap dia bukan gadis yang pantas untuk cucunya.
“a-aku? Ah? Namaku Song Valery Hye” ucap Valery, dia sedikit gugup karena semenjak dirinya sadar dia belum berbincang dengan kakek Hwang apalagi bertatap langsung, Valery hanya mendengarnya dari cerita Woojin kemarin.
“aku pernah berbisnis dengan marga Hye, setauku marga itu sangat jarang di sana”
Valery terdiam, dia tidak seharusnya menyebutkan marga yang sama dengan pamannya, dengan tangan yang gemetar Valery mencoba untuk mengalihkam kegugupannya dengan menikmati hidangan penutup. “orangtuaku sudah meninggal, dan aku tidak memiliki keluarga”
Woojin, sebenarnya pria itu ingin melakukan sesuatu untuk Valery tapi pertemuan yang dilakukan dirinya dengan Tuan Hwang benar-benar mengubah suasana hatinya sampai dia lupa jika sekarang ada Valery dirumah ini.
__ADS_1
“aku dengar kau bekerja menjadi sekretaris Woojin? Apakah diantara lain tidak hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan asisten?”
Valery terdiam, matanya terus menatap kearah Woojin, dia tidak bisa menjelaskan hubungannya dengan Woojin karena tidak akan sebuah hubungan diantara keduannya.
Hanya ada saling mencinta tanpa ada sebuah hubungan.
Woojin mengepal tangannya, dia tahu ini akan terjadi dan dia sangat tidak suka sang kakek memperlakukan orang yang dia cintai seperti itu, menganggap remeh orang lain hanya karena statusnya dan kehidupannya “aku lelah, aku ingin beristirahat”
Woojin bangkit dari kursinya, dia berjalan mendekati Valery dan membawa gadis itu meninggalkan ruang makan.
Tentu saja awalnya Valery ingin menolak namun jika dipikir dirinya akan terus terluka jika memaksakan diri mendengarkan ucapan sang kakek Hwang yang seakan memojokkan dirinya.
“Woojin”
“kenapa kamu tidak mengatakan jika kita saling mencintao Valery? Kenapa hanya diam? Apakah benar kamu tidak ingin menikah denganku?” ucap Woojin, sebisa mungkin dia menekan kalimatnya agar tak terlalu terdengar jika dirinya begitu marah sangat ini.
“kenapa kamu begitu marah? Lalu aku harus berkata apa? Jika kenyataan tak ada sebuah hubungan pasti diantara kita--” ucap Valery, dia berhenti untuk menahan diri agar tidak menangis “haruskah aku mengatakan jika kita pernah tinggal bersama dan tidur bersama? Atau mengatakan jika aku wanita yang pernah tidur denganmu? Cinta! Kalau hanya saling mencintai itu bukan bisa dikatakan sebuah hubungan Woojin”
Mungkin efek dari hamil atau hari ini Valery menjadi begitu emosional, tak kuat menahan semua gadis itu memilih untuk menangis walau tidak terlalu banyak, hanya meneteskan air matanya sebelum meninggalkan Woojin.
“Valery--”
Woojin yang juga merasa bersalah segera menahan gadis itu pergi dengan memeluk tubuh Valery dari belakang “maafkan aku, tolong jangan menangis Valery”
Ada sebuah perasaan senang saat tak sengaja tangan Woojin menyentuh perutnya, rasanya begitu hangat bagi Valery sehingga dirinya mengharapkan tangan itu kembali mengusap perutnya.
__ADS_1
“hari ini aku sangat lelah karena kakek terus membuatku kesal, aku bingung Valery, aku hanya ingin membuat semua menjadi mudah dan aku tidak ingin mempersulitmu, aku ingin kakek mengenal sosok siapa Valery dalam hatiku, aku ingin menunjukan jika kamu layak disisiku” ucapnya.
Hari ini sang kakek berbohong pada Woojin jika ada sebuah pertemuan penting dan membuat dirinya harus ikut dengan sang kakek, tapi apa? Itu hanya acara jamuan yang biasa sang kakek hadiri jika para pebisnis sedang berkumpul dan menjadi ajang perjodohan.
Dan benar, sang kakek malah memanfaatkan keadaan itu dengan memperkenalkan Woojin pada salah gadis pengusaha asuransi dan juga beberapa gadis lainnya, jika dulu Woojin di berikan kesempatan seperti ini dia tentu saja akan sangat senang tapi sekarang berbeda, didalam hatinya sudah ada Valery dan secara tradisi kerajaan Woojin sudah mengikat hubungan dengan Valery yaitu benang merah.
Lalu sekarang pria tua itu malah sengaja memancing Woojin kemnali dengan memojokkan Valery seakan gadis itu tak layak untuknya dan menunjukkan jika pilihannya tidak pernah salah, Woojin tahu jika dalam peraturan kerajaan tidak ada yang melarang jika calon raja memiliki permaisuri dan seorang selir. Tapi Woojin tak mampu membagi cintanya untuk wanita lain, sepenuhnya hatinya hanya milik Valery.
“Woojin, aku tidak suka berada disini, ini bukan kehidupanku dan bukan juga gaya hidupku, aku dibesarkan di Seoul, kota dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, jika dipikirkan ini semua terasa sangat asing bagiku” ucap Valery, dia melepaskan pelukkan Woojin, dia sedikit menjaga jarak pada pria itu.
“Valery, hanya disini aku bisa terus berada disisimu, hanya disini kamu akan aman dari segala kemungkinan pertemu dengan AfroDark itu”
Valery terdiam, itu benar jika dia kembali mungkin saja Levin akan menemukam dirinya, belum lagi selama dikurung di dunia ‘Shadow Soul’ lokasi itu memakai tempat tinggal Valery dulu.
“Valery, ayo kita menikah”
“M-menikah? Bagimana dengan Tuan Hwang?”
“ Valery apakah kamu sudah lupa, jika kita sudah membuat janji ikatan darah, tak ada yang bisa memisahkan kita apalagi menentang,” Woojin melangkah mendekati Valery, mengambil kedua tangan gadis itu dan kembali berkata “kamu percaya padaku Valery?”
Valery menatap Woojin, dia ingin sekali berkata percaya tapi bagimana jika pria itu tahu jika dirinya sedang hamil jika itu benar, hal yanh bisa Valery lakukan hanya menganggukkan kepalanya.
“aku akan membantumu menyakini kakek” ucap Woojin, dia kembali memeluk tubuh Valery, mencium beberapa kali pangkal kelapa Valery.
‘aku harus bagaimana?’
__ADS_1