
Seminggu berlalu ….
Valery bisa memastikan jika bayi ini masih ada dalam perutnya, jika ada kesempatan dirinya secara tersembunyi memakan makanan yang bahkan belum pernah dia lihat atau sekedar tahu apa namanya, nafsu makan dan tingkat emosinya sangatlah tinggi akhir-akhir ini belum lagi mual dipagi hari menjadi satu kegiatan rutin untuk Valery.
Secara alami naluri seorang ibu dalam dirinya muncul saat memikirkan masa depan anaknya, Valery tak mampu membuka mulut untuk mengatakan fakta apa yang seharusnya sudah Woojin tahu, karena pria itu adalah ayah dari anak dalam kandungannya.
Beberapa hari ini Woojin memang sibuk, membuat pria itu harus berpergian sepanjang hari dan terkadang membuat Valery begitu bosan di istana besar ini, tak ada yang ingin mengajaknya walau hanya mengelilingi area taman.
Semua sibuk dengan tugas kesehariaan mereka.
Hari ini Valery memberanikan dirinya untuk melangkah ketempat yang cukup menarik perhatiannya sejak dirinya sadar, dia sereing sekali mendengarkan pembicaraan pelayan yang mengatakan jika taman di istana ini, banyak sekali memiliki bunga atau tamanan yang jarang sekali ada. Hal itu malah memuat Valery semakin penasaran dengan bunga tulip yang bisa begitu beracun atau sebaliknya bisa menjadi obat penyembuh.
Dengan gaun putih dan mahkota bunga yang beberapa hari lalu dia buat bersama Woojin, langkah gadis itu terhenti didepan ruangan yang didalamnya begitu banyak tanaman yang bisa dilihat dari pintu kaca, diatas pintu bertuliskan ‘Garden hope’ lalu di pintu kaca itu tertuliskan ‘hanya orang-orang tertentu bisa memasuki area tersebut’
Valery menjadi ragu untuk masuk kesana, entah perasaan darimana dirinya begitu ingin masuk kedalam tanpa tahu tujuannya, mungkinkah hanya ingin tahu apa bentuk dari bunga tulip itu? Atau memang Valery hanya ingin melihatnya saja?
Semua iti kembali pada keinginan dari anaknya, Valery hanya merasa jika bayinya mempunyai ikatan dengan bunga tulip itu, mungkinkah terjadi sesuatu saat dirinya tidak sadar?
Tanpa sadar kedua tangan Valery mendorong pintu kaca tersebut dan secara hati-hati melangkah masuk kedalam, hal pertama yang mengalihkan pandangan Valery adalah bunga mawar hitam yang tertutupkan sebuah kotak kaca, seperti memang benar-benar tak boleh tersentuh sehingga sampai ditutup seperti itu.
Ada banyak sekali tanaman dan bunga yang tak Valery ketahui namanya, tapi jika diperhatikan lebih lama bunga disetiap tempat memiliki cahaya masing-masing yang secara alami memang terpancarkan di setiap kelopaknya, memang indah namun bisa menjadi hal berbahaya jika disalah gunakan.
“dia cantik sekali”
Valery terpesona pada bunga Aster berwarna merah itu, mungkin naluri seorang Aster masih ada didalam dirinya sehingga dia masih suka mengagumi pesona bunga tersebut, Valery tak berani untuk menyentuh bunga itu, dia tak mau mengambil resiko apapun sebelum tahu apa fungsi bunga ini berada disini.
__ADS_1
Karena Valery yakin, didalam sini tak ada tumbuhan yang biasa.
Selain banyak sekali bunga dan tanaman, di tengah-tengah semua itu adalah sebuah tempat yang biasa digunakan untuk menikmati secangkir tea, sudah hal biasa jika di taman area bunga pasti memiliki beberala meja dan kursi untuk menikmati pemandangan indah bersama orang yang kita sayangi.
Valery tersenyum, akan indah jika dirinya bisa benar-benar duduk disana bersama Woojin, kakak Hwang dan calon bayinya, tertawa riang dan bercerita berbagai masalah yang mereka lewatkan disana, mungkin rasanya akan menyenangkan tapi mungkin itu akan terjadi?
“apa yang kau lakukan disini?” ucap Tuan Hwang, dengan tergesa-gesa dia berjalan mendekati Valery yang sedang duduk disana.
Valery yang baru saja ingin menyentuh bunga tulip itu mengurungkan niatnya dan segera menatap Tuan Hwang yang berjalan mendekati dirinya, Valery begitu terkejut dan hampir saja terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri jika tidak berpegangan pada tiang.
“a--aku--aku hanya melihat-lihat saja Tuan Hwang” ucap Valery, dia tak tahu jika Tuan Hwang berada di rumah.
“kemarilah”
Tuan Hwang menyuruh Valery untuk di bangku, mungkin ada yang ingim pria tua itu sampaikan.
“bagaimana dengan kondisi bayimu?”
Valery benar-benar terkejut, dia langsung menatap Tuan Hwang dengan perasaan bingungnya, bagimana dia bisa tahu? Valery bahkan tidak pernah bercerita pada siapapun.
“jadi kamu belum memberitahu Woojin?” tanya Tuan Hwang lagi, tatapan terus menatal pada raut wajah Valery yang tampak begitu ketakutan.
“sebenarnya aku ragu, aku takut dan aku belum bisa menyakini ini”
“kalian berdua sangat mirip”
__ADS_1
Valery sadar, jika selama ini sifat dingin Tuan Hwang bukankah sebuah hal yang dibuat-buat tapi itulah dirinya walau dingin tapi nyatanya dia memiliki sisi hangat yang sama seperti Woojin, menyadari hal itu membuat Valery mencoba untuk berani dan sedikit berbuka pada sang calon mertuanya.
“anda juga sangat mirip dengan Woojin, aku pikir sifat dingin anda karena anda tidak menyukaiku tapi sekarang aku mengerti”
Tuan Hwang tersenyum, dia tidak menyangka gadis dihadapannya sangat mudah menyimpulkan yang selama ini orang lain sulit mengerti, mungkin karena karakter dirinya dengan Woojin memanglah tidak jauh berbeda. “jagalah kesehatanmu, dan cepat beritahu Woojin”
“apakah dia akan senang? maksudku mungkin saja Woojin belum siap menjadi seorang ayah”
“aku yakin dia akan bahagia, aku sudah mengujinya akhir-akhir ini dengan mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengingatkan dirinya dimasa lalu, tapi hasilnya Woojin tetap memilihmu dan sudah menetapkan pendiriannya untuk memberikan seluruh hidup padamu dan juga cintanya, awalnya memang sulit dipercaya tapi Woojin memang sudah berubah”
Mendengar itu membuat segala kegelisahan dalam hatinya menghilang begitu saja, Valery kini merasakan semua akan berjalan baik jika dirinya tidak menyerah hanya karena dirinya ragu, itu malah sebaliknya seharusnya dia lebih berani jika hanya memikirkan tanggung jawab yang harus dia tuntaskan seharusnya dia lebih memilih untuk membuat segalanya menjadi lebih sederhana dan mudah.
“aku bahagia mendengarnya, aku akan segera memberitahunya, untuk sementara ini aku harap anda bisa merahasiakan”
“aku mengerti, lain kali jangan sembarangan ketempat yang belum kamu ketahui, disini kami memiliki sesuatu yang tak banyak orang tahu dan berakibat fatal jika disalah gunakan” ucap Tuan Hwang, sini suasana menjadi lebih hangat dari sebelum yang terasa begitu tegang.
“aku minta maaf untuk ini, aku janji tak akan melakukannya lagi”
“aku dengar kamu sangat tidak nyaman tinggal disini? Apakah itu karena aku?”
Valery yang mendengar itu segera menggelengkan kepalanya, “tidak, aku hanya merasa tidak layak hidup dengan segala kemewahan yang anda miliki, aku biasa hidup dengan segala sesuatu serba sedeehana, sulit untuk membiasakan diri disini” ucap Valery, itu benar tapi masih banyak alasan lain yang membuat Valery ragu tinggal di istana besar ini.
“ Woojin tidak salah memilihmu untuk dijadikan tujuan akhir hidupnya, Valery buatlah dirimu nyaman tinggal disini, tak perlu memperdulikan peraturan yang ada jika memang tidak membuatmu nyaman”
Valery mengangguk, semua menjadi lebih baik saat secara perlahan baik Tuan Hwang dan Valery lebih terbuka satu sama lain, terkadang hal yang tak pernah Valery rencana memberikan kesempatan lainnya untuk lebih untuk memahami situasi yang terjadi, siapa menyangka juga jika datangannya Valery ke ‘garden hope’ memberikan sebush harapan baru seperti arti dari taman ini sendiri.
__ADS_1
note : mungkin beberapa bab lagi akan segera tamat, aku memutuskan untuk enggak menambah konflik lagi, sudah cukup, dan rasanya hanya membuat cerita ini tak bagus jika dipaksa untuk diteruskan.