
Bab 60 - The Weeding ( The End )
Beberapa hari berlalu begitu saja …..
Segala yang awalnya hanya khayalan dimalam hari atau mungkin hanya sebuah harapan kecil yang tak pernah begitu diinginkan tapi siapa menyangka jika jalur kisah ini memiliki setiap keunikan tersendiri.
Jika di ingat dari pertemuan sederhana yang memang siapapun mungkin akan pernah mengalami sebuah pertemuan tak terduga, tapi takdir yang akan menentukan apa selanjutnya kisah dari pertemuan itu.
Bisa saja sebuah pertemuan yang tak akan lagi bertemu atau sebaliknya malah berakhir saling berdiri didepan altar.
Ini bukan sebuah akhir tapi awal baru untuk kisah cintaku.
Valery menatap dirinya penuh bahagia dari pantulan cermin kamarnya, dengan riasan make-up sederhana dan sebuah kain yang sangat panjang saat dipasangkan dikelapanya. Segalanya menjadi pelengkap untuk dikatakan betapa pernikahan yang semoga bisa menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk Valery.
Semua orang tentu saja begitu gugup dan juga bercampur bahagia, itu adalah perasaan Valery untuk saat ini. Dia hanya berharap semua ini bisa berjalan baik sehingga rasa cemaa dan segalanya bisa menghilang.
Kebiasaan baru bagi Valery saat sedang sendiri adalah berbicara dengan sang anak, sebelum menikah beberapa hari yang lalu Valery melakukan pemeriksaan dan dokter mengatakan bayinya sangat baik.
“Sayang, ibu sangat gugup tapi melihat ayahmu berlatih sangat keras membuat ibu tak ragu untuk menjadikan dirinya sebagai tujuan ibu” ucap Valery, dia tersenyum saat merasakan perutnya yang memberikan respon. “terimakasih telah hadir dikehidupan ibu, sayang”
Berulang-ulang Valery mengatur nafas dan sesekali dia menatap dirinya dicermin hanya untuk memastikan jika dirinya tidak terlihat gugup. Dengan gaun pengantin yang Woojin sendiri pilihkan untuk dirinya Valery merasa jika ini masih terasa mimpi untuknya.
Saat merasa para pelayan yang mulai memasuki kamarnya untuk segera membawanya keluar Valery sudah lebih dahulu menunggu didepan pintu dengan buket bunga ditangannya, dia ingin segera bertemu dengan Woojin dan melihat para undangan, lalu mengucapkan sumpah sehidup semati didepan semua orang dan Tuhan.
“Nona, sudah waktunya” para pelayan membantu mengangkat gaun yang memang panjang sampai bisa menyentuh lantai.
Valery mengangguk, dengan segalanya yang didominasi oleh warna putih dirinya mulai melangkah menuju ruang utama yang dirubah menjadi resepsi pernikahan.
__ADS_1
Sebelum pintu ruangan utama terbuka didepan pintu Valery melihat sang kakek dengan jas hitamnya berdiri disana, tak ada rasa yang lebih bahagia saat akan melangkah kealtar di dampingi oleh seorang yang sudah dekat dengannya, Valery tak sudah tidak memiliki sosok seorang ayah dan sahabat itulah mengapa melihat Tuan Hwang berdiri disama sudah membuat Valery begitu bahagia sampai dia ingin menangis.
“lihatlah dirimu, sangat cantik jadi jangan merusak hiasannya karena kau menangis” ucap kakek Hwang, dia mengulurkan tangan untuk mengantarkan Valery ke altar dengan sikap dinginnya seperti biasa.
Valery tersenyum, dia mengalungi tangannya dilengan pria tua itu “apa jika aku menangis, aku akan terlihat jelek?” tanyanya, dia sangat suka bersikap manja pada pria yang bahkan bagi Valery sendiri sudah menjadi penganti sosok ayah dalam hidupnya.
“apa yang kau bicarakan? Sudahlah Woojin sudah menunggu”
Tak lama kemudian pintu ruangan utama terbuka sangat lebar, saat Valery dan kakek Hwang melangkah berjalan diatas karpet merah, kelopak bunga mawar berterbangan kearah mereka.
Pernikahan impian yang bisa menjadi begitu indah saat terjadi, walau terkesan sederhana dari tampilan dekorasinya tapi tidak menutupi kekurangan apapun disana, semua orang sangat menyukai tema dan juga rancangan yang terkesan sederhana namun mewah.
Suara tepuk tangan terdengar hingga memenuhi seisi ruangan ini, mereka menyambut kedatangan Valery penuh dengan suka cita dalam suasana mengharukan ini.
Setiap langkah mendekati altar mengingatkan segala kenangan yang terjadi pada Valery, mulai dari pertemuan mereka pertama.kali disebuah gang kecil di malam hari lalu pertemuan kedua yang terjadi dikantor Woojin dan kemudian menjadi takdir yang tak terduga seperti ini.
Didepan altar Woojin begitu tampan dengan jas hitam dan dasi kupu-kupunya, yang Valery tatapan hanya tertuju pada dirinya dan jika dilihat dari dekat ada air mata yang belum jatuh tapi jika pria itu mengedipkan matanya mungkin saja akan segera jauh tapi pria itu malah memilih menghapusnya.
“sejauh apapun dirimu dipisahkan oleh dirinya, jika takdir sudah membuat dirimu menjadi takdir Woojin tak ada yang bisa menjadi penghalang untuk kalian bersatu”
Tuan Hwang melepaskan tangan Valery, walau tinggi tidak sama dengan Valery tapi dia masih bisa mengapai kening gadis itu untuk dia kecup beberapa detik. Terlihat jelas dimata pria itu betapa dia menanti moment ini sebelum dirinya pergi, “anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih-ku untukmu karena telah mencintai Woojin dengan tulus” ucap Tuan Hwang.
Dia menyerahkan tangan Valery untuk digenggam oleh Woojin.
Dengan bantuan Woojin, kini Valery sudah berdiri bersampingan dengan Woojin didepan seorang pendeta.
“dipagi yang cerah ini, kita semua akan menyaksikan kedua orang yang akan mengikrarkan sebuah janji untuk mengabdikan dirinya untuk saling mencintai, menjaga, dan saling percaya. Dengan ini siapkan saudara Woojin menerima Valery sebagai istrimu dalam keadaan sehat maupun sakit dan berjanji akan selalu mendukung dan menjadi suami yang baik dikehidupan selanjutnya”
__ADS_1
Woojin tanpa tidak begitu rasa saat menjawab pertanyaan sang pendeta. “Ya, saya bersedia mencintai Valery untuk seumur hidup, membuatnya bahagia, menerimanya sebagai istriku dengan keadaan sehat maupun sakit dan tentu akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik?”
Valery menahan dirinya untuk tidak menangis.
“apakah saudara Valery bersedia menerima Woojin sebagia suamimu dengan keadaan sehat maupun sakit, dan tentu menjadi istri yang selalu mendukung keputusan suami dan menjadi sosok yang dibutuhkan untuk Woojin?”
Valery mengangguk, sebelum dia menjawab Valery menyempatkan untuk melirik kearah Woojin.
“Ya, aku bersedia, aku akan menjadi istri yang baik untuknya, mendukung dalam setiap keputusan dan menjadi tempat baginya untuk membagi segalanya, menerima segala hal yang dia memiliki dan menutupi segala kekurangannya, dan selalu mencintainya sebagai tujuan akhirku”
Keduanya saling menghadap, terlihat jika hal inilah yang keduanya tunggu, yaitu melingkatkan cincin dijari manis mereka secara bergantian.
selanjutnya hal mungkin ditunggu semua, saat dimana sang mempelai lelaki mencium mempelai perempuan walau hanya bertahan beberapa detik.
Woojin menarik Valery untuk masuk kedalam pelukannya.
“kamu tahu, saat kamu mengucapkan janji itu, aku begitu ingin sekali memelukmu dan mengatakan jika terimakasih sudah memilihku Valery” ucap Woojin, dia sempat ingin menangis namun itu segera hilang digantikan rasa syukur dan bahagia yang terasa begitu luar biasa.
“aku tahu, Woojin jika ada kata yang lebih besar dari ‘aku mencintaimu’ aku ingin mengucapkanya setiap hari, dan terimakasih untuk penatianmu dan yakinan jika kita bisa bersama”
Baik Valery atau Woojin, keduanya memang sama seperti kisah lainnya tapi ada beberapa atau banyak sekali cerita yang bisa menjadi keunikan dari perjalanan panjang dari kisah mereka.
Intinya apapun kisah atau ceritanya, akan selalu menjadi misteri tersendiri yang tak perlu dituliskan lagi bagimana kisah selanjutnya, yang jelas jika pada akhirnya menjadi kisah manis walau sedikit mengurus emosi, kemarahan, ketidaksukaan dan bahkan pengorbanan.
Karena kisah ini tidak akan lengkap tanpanya akhir yang bahagia.
--- Tamat ----
__ADS_1
Note : wah, gimana? Maaf jika masih ada kekurangan untuk bab akhir ini, aku boleh curhat sedikit, aku gk pernah menyangka jika bisa mengakhiri Valery dan Woojin ini saat publikasi cerita ini awalnya hanya iseng ajah, tapi yang ngikuti dari awal cerita ini mungkin masih tahu jika aku jarang banget update teratur dan bahkan aku pernah pengabaikan cerita ini sampai berbulan-bulan tapi sekarang aku senang bisa menyelesaikan cerita ini sebelum aku mutusin untuk berhenti menulis.
Buat yang sudah baca cerita ini makasih banyak, maaf jika selama ini aku gk pernah memperbaiki setiap kalimat yang salah 🙏 .