“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 8 - disappointed


__ADS_3

Jam sudah menunjukan waktunya untuk makan siang, awalnya Valery ingin menikmati makan siang bersama para investor atau karyawan di tempat yang memang sudah disewa untuk mereka semua oleh Woojin, namun tiba-tiba nafsu makannya menghilang saat dia sampai di tempat itu, dia melihat pria menyebalkan itu yang sedang menikmati coffee. Padahal baru saja dia meninggalkan tempat itu beberapa menit yang untuk pergi ke toilet tapi saat kembali pria itu sudah ada disana, di tempat dimana Valery duduk sebelumnya.


Dengan cara jalan yang terkesan cuek, Valery mengabaikan keberadaan Woojin di sana, dengan wajah dinginnya, Valery mendekati tempat Woojin berada. Valery hanya ingin mengambil tasnya, setelah itu dia akan pergi mencari makan sendiri di luar yang mungkin bisa membuat nafsu makannya kembali lagi. Dan sekalian menikmati kota itu, sebelum dia harus kembali nanti pada pukul tiga sore nanti, karena dia harus pergi ke pulau hawaii untuk melihat project hotel yang akan segera berjalan, yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka meeting tadi.


“mau kemana?” tanya Woojin.


Saat melihat Valery yang mendekatinya hanya untuk mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Woojin begitu saja membuat dia tidak suka dengan sifat Valery, sebelum gadis itu melangkah dari tempatnya, Woojin segera menarik lengan itu.


“bukan urusan anda!”


Valery sudah bisa menebak itu akan terjadi, dia hanya terus membelakangi Woojin pada sedikitpun menoleh ke arahnya, tangannya bergerak memberikan tanda jika dia tidak suka disentuh oleh Woojin.


“kau mengabaikanku!”


Woojin bangkit dari posisi awal, dengan sekali tarikan Woojin pada mengubah posisi Valery menjadi menghadapnya. Dua tangan Woojin mengunci pergelangan tangan Valery.


“Ryui Valery! Sekali lagi kau mengabaikanku, kubuat kamu tidak bisa berdiri keesokan harinya!” ucap Woojin, matanya menatap tajam kearah Valery, setiap kata yang dikeluarkan penuh dengan penekan namun dia tidak mengeraskan suaranya.


Menerima tatapan tajam itu, Valery hanya bisa terdiam, dia berhenti memberontak saat pria itu berkata 'ku buat kamu tidak bisa berdiri keesokan harinya!', ada sinyal bahaya di dalam alarm tubuh Valery yang mengatakan jika dia tidak boleh bertindak sesuka hatinya, apalagi bertindak seperti tadi. Tak lama kemudian tubuh Valery mulai gemetar saat pria itu menunjukan seringainya yang saat menyeramkan untuk di lihat.


“kau mengerti!” ucap Woojin, setelah mengatakan itu Woojin melihat mata Valery yang berkaca-kaca, setelah itu pandangan teralihkan pada pergelangan tangan yang mulai memerah karena ulahnya 'wanita ini ingin menangis? Apa sebegitu menyakitkan?'


Valery yang sedari tadi menahan amarah, kekesalan nya dan juga kekecewaannya sedari tadi mencoba untuk tidak mengeluarkannya namun seperti air matanya tidak bisa menahan lagi, Valery berlari meninggalkan tempat itu, dengan satu tangan yang menghapus air matanya. Sejauh mungkin dia berlari meninggalkan gedung itu, hingga kakinya terhenti di sebuah taman yang terlihat sepi.


Valery melangkah mendekati bangku taman, di sana dia mencurahkan semua emosinya dengan tangisan yang tak bersuara.


“aku benci! Kenapa pria itu sangat menyebalkan! Dia pikir dengan kekuasaan yang dia miliki, dia bisa bertindak sesuka hatinya! Dia pikir semua wanita itu hanya mainan!”

__ADS_1


“don't cry girl” ucap seorang wanita paruh baya yang mengulurkan sapu tangannya kepada Valery, wanita itu terlihat sangat mirip dengan Merry.


“thank you grandma....” ucap Valery yang menerima sapu tangan itu, dia tersenyum menatap wanita itu yang kini sedang duduk disampingnya, dalam hati Valery merasa senang karena di saat seperti ini ada seseorang yang peduli padanya, “aku merindukan Nenek Merry”.


“if you are angry because of someone, you should not run away like this.”


[jika kamu marah karena seseorang, seharusnya kamu tidak melarikan diri seperti ini.]


“Then what should i do?”


[lalu aku harus bagaimana?]


“if you don't like it leave all your hatred, the more you hate it the more it will hurt you, this life is not to hate but try to be adult, smile and be happy” ucap sang nenek yang memberikan nasihat yang mungkin bisa membantu Valery dalam masalahnya.


[jika kamu tidak menyukainya tinggalkan semua kebencianmu, semakin kamu benci terhadapnya itu akan semakin menyakitimu, hidup ini bukan untuk membenci tapi mencoba bersifat dewasa, tersenyum lah dan bahagia-lah]


[terima kasih nenek, aku sangat menghargai nasehatmu, kamu mengingat aku pada seorang yang begitu aku sayangi, yang sudah pergi meninggalkanku]


“you love him very much?” tanya nenek itu yang memegang kedua tangan Valery.


[kamu sangat menyayanginya?]


Valery hanya mengangguk sebagai jawabannya, dia bisa merasakan kehangatan yang nenek itu berikan pada Valery melalui tangannya.


“I have to go, my granddaughter is waiting for me at her school”


[aku harus pergi, cucuku sedang menungguku di sekolahnya]

__ADS_1


Nenek itu meninggalkan Valery sendirian di taman, Valery hanya bisa melihat punggung nenek itu yang semakin menjauh.


“nek, aku merindukan kehidupanku, saat sebelum kamu pergi” ucap Valery yang mengeluarkan foto Merry bersama Valery sangat mereka sedang berkunjung ketaman sambil memakan Ice Cream yang masih disimpan di dalam dompetnya.


Tak lama kemudian sesosok Woojin yang sedari tadi bersembunyi tidak jauh dari Valery, dia sedikit ragu untuk melangkah mendekati Valery, dia juga merasa bersalah. Semenjak bertemu dengan Valery, Woojin saat berbeda dari biasanya, dia tidak pernah menyentuh wanita terlebih dahulu, apalagi memaksa mereka untuk terus menatapnya, Woojin bukan seseorang yang seperti itu, biasanya wanita yang lebih dahulu mendekatinya.


Semakin dia memikirkan itu semakin membuat Woojin pusing, dia membatalkan niatnya untuk mendekati Valery, dia berbalik arah dan meninggalkan Valery yang masih duduk dibangku taman itu.


“Shit! Kenapa aku jadi memikirkan wanita itu!” ucap Woojin, dia menendang kaleng yang ada di hadapannya, namun kaleng itu kembali memantul ke arah kepala Woojin.


“Akh! kaleng sialan!”


Valery yang masih duduk dibangku taman itu terkejut mendengar suara seseorang yang suaranya tidak jauh darinya, kemudian Valery bangkit dan mencari titik suara itu berada.


“Woojin?”


Valery melihat Woojin yang terduduk di tanah, dia melihat luka darah yang mengalir dari kelapa Woojin.


'apa yang pria ini lakukan disini? dan bagaimana dia bisa terluka?'


“kau baik-baik saja?” tanya Valery, dia sedikit berjongkok untuk bisa melihat keadaan Woojin.


Woojin hanya bisa tertunduk malu, dia tidak mau menjawab pertanyaan Valery, jadi dia memilih untuk diam.


Valery mencoba mencari mencari sesuatu dari tasnya, tak lama kemudian dia menemukannya, dengan kasar dia menarik dagu pria menyebalkan itu, lalu memasangkan hansaplast di kening Woojin yang terluka.


“mau makan siang bersama?” tanya Woojin

__ADS_1


note : semoga bisa menemani malam minggu kalian, happy reading


__ADS_2