
Rexy tidak terlalu berpikir dan segera memilih meja makan sendiri, lalu duduk menunggu Akira menyiapkan beberapa makanan untuk dirinya.
Sambil menunggu, Rexy melihat sekitarnya beberapa waktu.
Rumah makan Akira, yang memiliki luas sepuluh meter persegi, dan meja makan bersih serta elegan di setiap sudut ruangan, ini adalah ruangan yang nyaman. Apalagi meja dan kursi yang dikenakan adalah perabotan elegan.
Menurut pengalamannya, ini adalah rumah makan yang seharusnya lebih nyaman daripada rumah makan kebanyakan.
Untuk rasa makanannya sendiri, apapun yang dimasak oleh Akira semuanya adalah enak. Seharusnya kedua faktor ini adalah faktor penting untuk usaha catering.
Tapi, kenapa rumah makan ini sepi? Pasti ada yang salah dengan wanita ini!
Apa itu karena penampakan nenek-nenek tua sebelumnya?
Pikiran Rexy melayang ke segala kemungkinan yang ada, dan dia hanya memikirkan kemungkinan yang kedua.
Ada sesuatu yang menggangu bisnis Akira!
Sambil merenung, masakan Akira telah siap, dan telah tiba ke hadapan Rexy.
Rexy masih tidak menyadari kedatangannya, dan memandang ke segala arah.
Tindakan ini membuat Akira sedikit kesal. Ada wanita cantik memberikan makanan pada dirinya, tapi dia malah memandang sekeliling.
Apa yang menarik di sekeliling? Apa itu lebih menarik daripada dirinya?
"Brak.."
"Eh!" Rexy terkejut dengan suara meja yang di dobrak oleh Akira.
Suara itu mengganggu penyelidikannya, dan mau tak mau harus melihat wajah Akira yang sedang marah di depannya.
"Ada apa..?"
"Makanan mu sudah datang! Cepat makan!"
"Umh.." Rexy mengangguk, meski dia tidak mengerti kenapa Akira ini marah padanya.
Kebingungan Rexy tidak berlangsung lama, karena ada banyak makanan di depannya. Yang dimana itu membuatnya melupakan semuanya, dan mulai mengambil satu persatu makanan di piring dan memasukannya kedalam mulutnya.
__ADS_1
Makanan yang diberikan oleh Akira sebenarnya memiliki porsi untuk lima orang, tapi entah kenapa, Rexy memakan semua makanan itu dengan cepat.
Hanya perlu kurang dari tiga puluh menit, lima porsi makanan di piring menghilang, dan menghilang kedalam perut Rexy.
"Ini sangat enak!"
Sepanjang waktu Rexy makan, Akira selalu duduk di depannya, dan mengawasi sambil tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan!
Ketika Rexy melihatnya seperti ini, dia sedikit terlena dengan wajah Akira yang tersenyum didepannya.
Belum lama ini, sebenarnya dia sudah melihat wajah Akira yang tersenyum, dan itu memang indah. Akan tetapi, karena ada penampilan nenek-nenek tua yang menghalangi senyum cerah Akira yang bagaikan bunga mekar di musim gugur, dia tidak melihatnya dengan jelas.
Sekarang, ketika penampakan nenek-nenek tua telah menghilang, dan penampilannya yang menjadi lebih indah, Rexy mau tak mau harus memujinya.
"Tante, kamu sangat cantik saat tersenyum!"
Mendengar pujian Rexy, senyum Akira menjadi semakin lebar. Di umurnya yang sudah beranjak 30 tahun, pujian ini adalah hal baik, bukan?
Tapi, senyum Akira hanya sebentar.
Mengingat arti dari kata-kata terakhir Rexy, Akira segera menatap tajam ke arah Rexy dan berkata, "Jadi, menurutmu selama ini aku tidak cantik? Tante, apa menurutmu aku sudah tua?"
"Bukan tidak cantik, tapi aku tadi melihat Tante menjadi nenek-nenek tua jelek dan keriput. Aku pikir, manggil Tante tidak terlalu tua."
"Hei..."
Bodoh, atau polosnya Rexy, dia berani mengatakan kata-kata seperti itu kepada seorang wanita. Yang dimana wanita tidak suka di panggil jika dia sudah tua. Lebih parahnya lagi, Rexy mengatakan Akira seperti nenek-nenek tua yang keriput dan jelek.
Akira, yang mendengarnya otomatis merasa marah, dan ingin memukulnya.
Sayangnya, Rexy tidak peduli dengan ekspresi dingin Akira dan melanjutkan, "Barusan, Tante berubah menjadi nenek-nenek tua, dan setelah aku menciumnya, penampakan itu menghilang,"
Setiap kata demi kata yang dikeluarkan oleh Rexy, itu membuat tubuh Akira di depannya gemetar karena marah, dan menahan emosinya dengan mengepalkan jari-jarinya secara berlebihan.
Selain tatapan dingin penuh amarah, pandangan kebencian dan ketidakberdayaan adalah apa yang Akira berikan kepada Rexy di depannya.
Hanya saja, Rexy adalah pria yang polos, dan tidak mengerti apa yang sedang Akira pikirkan.
Jadi, dia dengan tenang melanjutkan analisisnya, "Setelah aku pikirkan lagi, tampaknya ada yang tidak beres dengan Tante. Maksudku, tampaknya ada orang yang ingin mencelakai Tante."
__ADS_1
Baru ketika mendengar kata-kata terakhir Rexy, kemarahan Akira langsung digantikan oleh kejutan dan buru-buru bertanya, "Apa maksudmu?"
Rexy tidak segera menjawab pertanyaan Akira. Di merenung sejenak, dan berkata, "Menurut rumor, Tante suka memakan pria muda, tapi nyatanya tidak. Itu mungkin hanya karena penampilan nenek-nenek yang menyelimuti Tante sebelumnya. Penampakan itu sangat menyeramkan, dan otomatis membuat orang berpikir seperti itu,"
"Karena penampilan nenek-nenek tua itu, pasti tidak akan orang yang mau datang ke rumah makan ini. Karena aku menemukan bahwa makanan, dan tempat ini memiliki kualitas untuk menarik pelanggan. Nyatanya tidak seperti itu. Ini hanya menunjukkan satu hal, ada seseorang yang berencana menggagalkan bisnis Tante menggunakan cara tercela."
Selesai berkata panjang lebar, Rexy melihat ke arah Akira dengan penuh perhatian. Apakah tebakannya benar?
Di depannya, Akira tersenyum santai dan mengangguk, "Itu hal biasa, bukanya dalam bisnis memang seperti itu?"
"Hal biasa?" Rexy tidak mengerti dan bertanya.
Melakukan dengan cara merubah citra seperti ini, dimana hal biasa itu?
Akira masih tersenyum santai dan menjawab, "Kamu masih muda, jadi kamu tidak mengerti. Biar aku beritahu, dalam dunia bisnis, intrik dan penghianat adalah hal yang wajar. Sama halnya sekarang, banyak pesaing bisnis menggunakan cara supranatural, atau sebagainya untuk menghalangi pesaingnya terus berkembang. Jangan berpikir terlalu berlebihan."
"Apa Tante sudah tahu dari awal?"
"Aku tahu."
Rexy merasa aneh. Karena dia sudah tahu sejak awal, kenapa tidak mencoba untuk melawannya, atau sekedar menghilangkan pesaingnya?
Melihat Rexy yang akan berbicara lagi, Akira segera menghentikannya dan berkata, "Jangan terlalu banyak berpikir. Hari sudah malam, lebih baik kamu istirahat untuk mempersiapkan hari esok."
Mendengar ini, Rexy harus mengangguk, meski dia masih memikirkan hal lain dan ingin terus berbicara.
Tapi, ini bukan urusannya, kan? Jadi, dia lebih memilih untuk melupakannya, dan tidak perlu banyak ikut campur.
Bangkit dari tempat duduknya, dan ingin mengambil dompetnya, sekali lagi Akira menghentikan tindakannya.
"Jangan pikirkan tentang harga makanan. Yang terpenting, kamu harus datang besok pagi, dan aku akan menganggap semua hal hari ini adalah gratis."
Rexy berhenti ketika mendengar ini, dan tidak lama kemudian tersenyum.
Bukan hal yang buruk juga bisa makan secara gratis. Apalagi, dia juga mendapatkan sentuhan, serta ciuman gratis.
"Terimakasih!" Dengan mengatakan ini, Rexy segera keluar.
Saat berjalan keluar, langkah kakinya juga cepat, seolah-olah dia takut Akira akan menghentikannya dan menarik kembali kata-katanya.
__ADS_1
Nyatanya, Akira tidak berniat menghentikannya sama sekali. Dia hanya memandang punggung Rexy dengan tenang, dan tersenyum lembut ketika Rexy menghilang dari pintu.