
Setelah mendapatkan sesuatu untuk Akira, dan Eggy telah menghilangkan iblis itu, Rexy berjalan keluar dari kamar Akira.
Masih dengan hati yang baik, Rexy tersenyum saat kembali ke mejanya. Dimana Akira sudah ada di sana dan menyiapkan sarapan.
Melihat Rexy yang tersenyum seperti itu, Akira menebak pasti Rexy sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dan itu membuatnya bersemangat.
Tapi, ketika Akira melihat tonjolan di bagian bawah tubuh Rexy, dia terkejut, dan malu. Wajahnya memerah dan tidak berani melihat lagi.
"Itu sangat besar saat bangun. Pria mesum ini, pasti melakukan hal-hal aneh di kamarku." Akira berpikir seperti itu, dan tidak berani melihat Rexy.
Disini lain, Rexy tidak menyadari kelainan Akira. Jikalau pun Rexy tahu, mungkin dia akan menunjukkannya kepada Akira dengan senang hati.
Sekarang, Rexy masih dalam suasana hati yang baik, dan segera duduk tanpa mengatakan apapun. Dia tidak melihat rasa malu Akira dan hanya melihat makanan yang penuh di atas meja.
Bagi Rexy, tampaknya makanan adalah yang lebih penting daripada Akira sekarang.
Jadi, dia tidak memperdulikan kelainan Akira yang terus menundukkan kepalanya, dan dengan cepat memakan sarapannya.
Seperti ini, karena Akira masih memikirkannya, dia tidak berbicara dan hanya ada suara Rexy yang makan di ruangan.
Sama seperti sebelumnya, Rexy merasa bahwa nafsu makannya sangat besar dan tidak pernah puas. Itu hanya kurang dari sepuluh menit, semua jenis makanan yang ada di meja telah masuk kedalam perutnya.
"Hah...ini enak! Aku puas!"
Setelah itu, Rexy melihat Akira yang menundukkan kepalanya, dan bertanya, "Ada sesuatu yang berbahaya di kamarmu, hampir saja aku tidak bisa keluar."
"Ya pastilah. Karena aku lupa membereskan pakaianku! Kamu pasti tidak ingin keluar dari kamarku. Apalagi kamu sudah berteriak penuh kepuasan!" Akira mengumpat dalam hatinya, tapi dia tidak berbicara, dan hanya tersenyum.
Rexy tidak bisa membaca pikiran Akira, jadi dia masih tidak tahu apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
Dengan polos dan perasaan yang tanpa beban, Rexy mengeluarkan barang-barang dari celananya.
Pertama itu adalah kaktus berwarna merah muda yang Rexy lihat pertama kalinya. Kaktus yang digunakan untuk menggaruk punggung. Dan yang kedua adalah pil yang di berikan oleh Eggy.
Dalam rasa malu dan keterkejutan Akira ketika melihat barang-barang yang Rexy keluarkan, dengan tenang Rexy berbicara, "Aku tadi melihat mainan seperti kaktus ini sangat berguna dan sangat nyaman untuk menggaruk kulit yang gatal."
"Aku tidak tahu, ternyata kamu punya mainan yang bagus. Jadi, aku memilih satu hal ini, dan berharap kamu bisa memberikannya kepadaku."
Sambil berbicara, Rexy memegang kaktus merah mudah itu di tangannya, menekan tombol yang bisa membuatnya bergetar, dan menunjukkannya kepada Akira dengan senyum berharap.
Namun, saat ini Rexy hanya melihat wajah Akira sedikit merah, dan sedikit membuka mulutnya.
Melihatnya seperti itu, Rexy berpikir bahwa Akira tidak mau memberikan mainan itu.
Jadi, dia menunjukkan Pil berwarna hitam dari Eggy dan berkata lagi, "Jangan terlalu pelit. Kamu sudah punya banyak seperti itu di lemari. Sebagai gantinya, aku akan memberikan pil ini. Ini bukan pil biasa, jika kamu melarutkannya kedalam air dan meminumnya, kamu pasti akan sangat terkejut."
Tidak menjawab, Akira dengan cepat mengambil kaktus di tangan kanan Rexy, dan berteriak, "Mesum! Pria mesum dengan pikiran kotor! Kamu pikir aku wanita apaan!"
Ada apa wanita ini? Bukankah aku hanya menginginkan satu mainan untuk menggaruk punggungku? Kenapa dia sangat marah? Bukankah dia masih memiliki lebih dari lima di lemari?
"Eh, Akira, aku hanya meminta satu saja, tidak banyak. Apakah tidak boleh?"
"Jangan meminta dariku. Pergi, beli sendiri! Bawa pil aneh mu itu pergi juga!"
"Eh, tunggu! Bukankah itu hanya alat untuk menggaruk rasa gatal? Kenapa kamu sangat pelit? Apakah memang sangat mahal?" Rexy masih meminta dan tidak tahu kenapa Akira tiba-tiba marah.
"Sialan! Mesum! Sudah tahu itu digunakan untuk apa, dan masih bertanya! Pergi, pergi! Jangan datang kesini lagi!"
"Sebentar, sebentar! Tenang, kenapa kamu marah-marah. Jika memang itu sangat mahal, Pil ini juga bisa di gantikan untuk membelinya. Ini juga sangat mahal, dan aku yakin hanya ada satu-satunya di dunia. Minum dulu, kamu pasti akan merasakan apa itu keindahan."
__ADS_1
Kata-kata Rexy membuat Akira tersentak, dan langsung berdiri. Lalu mengambil garpu di meja dan menodongkannya ke arah Rexy.
"Pergi apa tidak! Jika kamu tidak pergi, aku aku mencungkil adikmu!"
Kata-kata dingin penuh ancaman itu, Rexy tiba-tiba merasa bahwa ada rasa dingin di selangkangannya.
Rexy tidak tahu bagaimana Akira tiba-tiba marah. Tapi yang jelas, saat melihat wajah cantiknya merah karena marah, dan tatapan dinginnya, Rexy yakin, sesuatu yang buruk akan terjadi di selangkangannya.
"Aku...aku...akan pergi. Maaf...aku tidak akan meminta lagi." Selesai berkata, Rexy segera berlari ke pintu keluar, dan menghilang dari pandangannya Akira.
Karena ketakutan yang berlebihan, Rexy tidak sempat membayar makanan yang dia makan, dan meninggalkan pil hitam di atas meja.
Setelah Rexy menghilang dari pandangannya, Akira menghela nafas panjang dan kembali duduk.
"Astaga! Dia melihat semuanya, sialan! Aku harus bagaimana?" Akira merasa sangat malu dan menutupi kedua wajahnya.
Apa yang tidak di ketahui oleh Rexy, mungkin adalah semua mainan itu bukan Akira yang membelinya. Itu diberikan oleh seorang sahabatnya, yang memang suka mengirimkan hal-hal seperti itu pada dirinya.
Sebagai seorang Janda dan hidup sendirian, semua orang pasti Akira sangat kesepian, begitulah dengan sahabat Akira. Ditambah dengan sahabatnya yang suka blak-blakan, dia mengirimkan sesuatu seperti itu untuk menghilangkan stres Akira.
Sebenarnya, Akira memang kesepian, tapi dia tidak menginginkan hal-hal seperti itu, apalagi menggunakannya.
Sampai malam kemarin, setelah pergi berkencan dengan Rexy, Akira merasa ingin menggunakannya, dan benar-benar menggunakannya sebelum tidur. Sialnya, baru pertama kali mencoba, Akira lupa merapikannya, dan Rexy melihatnya.
Tidak hanya melihat, Rexy bahkan mengeluarkan, dan menunjukkannya kepada Akira. Rasa malu itu, siapa yang akan tahan.
Belum sampai disitu, Rexy bahkan memberikan sebuah pil untuk memperkuat staminanya.
Apakah dia berniat untuk mempermalukannya?
__ADS_1
"Permisi, apakah kamu masih berjualan?"
"Siapa yang berjualan! Pergi! Pergi! Aku tidak menjual apapun!"