
Wanita itu, yang terlihat sangat cantik setelah mendapatkan pil dari Rexy terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akira, yang kini terlihat lima tahun lebih mudah memandang Erlina dengan penuh kejutan di matanya.
Dia tidak pernah berpikir, bahwa Rexy telah menghamili seseorang, dan masih wanita yang cantik pula.
Tapi, kejutannya tidak berlangsung lama dan dengan percaya diri berkata, "Meskipun kamu telah hamil, itu hanya menunjukkan sifatmu, tidak lebih. Lalu apa? Apa kamu akan menggunakan kehamilanmu untuk mengancam agar dia menikahimu?"
"Huh, kau tahu. Meskipun aku belum pernah sangat intim dengan Rexy, dia sudah bertemu ibuku, dan diakui sebagai menantunya."
"Apa kamu? Kamu hamil tanpa persetujuan Rexy, kamu tidak pantas menjadi pacarnya. Aku lebih pantas. Bukan hanya sebagai pacar, tapi juga sebagai istrinya di masa depan."
Ketika Erlina selesai mendengarkan kata-kata Akira, dia tercengang dan tidak mempercayai telinganya..
Wanita ini, bukankah sudah jelas-jelas bahwa dirinya yang lebih pantas menjadi pacar Rexy daripada dirinya?
Bukti kehamilan ini, bukankah itu sudah jelas? Dan menandakan bahwa mereka sudah sangat dekat? Sampai-sampai menghasilkan buah hati?
Tapi wanita ini sangat pintar, dan membalikan fakta dengan begitu pintarnya!
Bukan hanya tidak mengakui kedekatannya dengan Rexy, bahkan dia juga menjelek-jelekkan dirinya, dan mengaku jika sudah dapat restu dari orang tuanya.
Erlina tidak mempercayai yang apa Akira katakan, dan tidak begitu saja menyerah, "Kebohonganmu membuatku terkejut. Tapi faktanya adalah, Rexy lebih pantas denganku. Titik!"
"Kamu terlalu percaya diri! Bagaimanapun, Rexy lebih pantas denganku!"
"Tidak! Dia lebih cocok denganku!"
"Tidak denganmu! Tapi denganku!"
"Aku! Dia lebih cocok denganku!"
"Aku! Itu aku!"
"Aku! Pokoknya aku!"
"Aku!"
"Aku!"
__ADS_1
....
Ketika Erlina dan Akira masih bertarung untuk memperebutkan siapa yang lebih pantas menjadi pacar Rexy, Dita yang sejak awal melihat dari samping tidak tahan lagi, dan segera maju untuk melerai.
"Nona, Nona. Bisakah kalian tenang dulu."
Tapi, ketika Erlina dan Akira melihat Dita menghalangi, bukanya tenang, mereka malah menatap Dita dengan tajam, dan berteriak, "Diam!"
Di bentak karena berusaha melerai, otomatis Dita merasa takut, dan tidak berani lagi untuk berbicara.
Namun, karena dia sudah tertekan dan harus mengatakan sesuatu hal yang penting, Dita menekan ketakutan di hatinya dan dengan berani membuka mulutnya.
"Kalian! Apa yang kalian ributkan? Kalian tidak tahu, Rexy.... Tuan Rexy yang sedang kalian ributkan sekarang sedang ada di kantor polisi!"
"Apa? Apa yang kamu katakan?"
Teriakkan Dita menghentikan perkelahian mereka, dan secara bersamaan segera melihatnya.
Mendapatkan perhatian mereka, Dita dengan serius berkata, "Ya! Tuan Rexy sedang di bawa polisi."
"Apa? Bagaimana bisa? Apa yang sedang terjadi?" Akira tidak percaya, dan segera bertanya.
Karena tadi pagi, dia melihat Rexy masih baik-baik saja. Bagaimana bisa tiba-tiba di bawa ke kantor polisi?
"Nona Lina, karena kejadian tadi pagi, Drian tidak bisa menerimanya, dan melaporkan Tuan Rexy ke polisi. Barusan polisi datang, dan membawanya."
"Apa yang terjadi tadi pagi?" Erlina mengetahui apa yang Dita katakan, tapi Akira tidak, dan dengan cepat bertanya.
"Drian, apa maksudmu dia adalah Drian Pratama?"
Dita mengangguk, dan menceritakan semuanya kepada Akira. Dimulai dari kejadian dengan Gerry di dalam restoran, sampai kejadian di depan restoran.
Ketika Dita selesai menceritakan semuanya, Akira melihat Erlina yang masih tidak tahu apa yang dia pikirkan dan dengan dingin berkata, "Semuanya karena kamu! Awas saja, jika terjadi sesuatu kepada Rexy, kamu harus menanggung semuanya!"
Setelah mengatakan semua kesalahan kepada Erlina, Akira mendengus, menghentakkan kakinya, dan segera pergi.
Meninggalkan Erlina yang masih termenung dengan penuh penyesalan, dan ketakutan di wajahnya. Bahkan, matanya kini sudah sedikit merah.
Dita, yang melihat Erlina tampak sangat tertekan, dan akan menangis segera maju untuk memenangkan, dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Nona, ini bukan salah Anda. Aku yakin, Tuan Rexy melakukannya atas kemauannya sendiri. Aku juga yakin, jika ada kejadian seperti itu di masa depan, Tuan Rexy pasti akan melakukan hal yang sama."
"Tapi...ini semua karena dia ingin membuatku bahagia...jika saja--"
"Nona, semuanya sudah terjadi. Tidak ada salahnya Tuan melakukan hal seperti itu. Bagaimanapun juga, itu adalah pilihannya untuk membuat Nona bahagia."
Bukannya semakin tenang, Erlina malah semakin sedih, dan air mata mulai jatuh dari kedua mata indahnya.
"Tapi...tetap saja. Ini salahku, jika aku bisa menahannya, dia pasti tidak akan dibawa polisi..."
Bukan hanya Erlina yang berpikir seperti itu, tapi Dita juga berpikir demikian. Tapi dia masih tidak menyalakan Erlina, dan berpikir bahwa Rexy adalah pria sempurna, yang rela melakukan apa saja untuk kekasihnya. Bahkan jika harus masuk penjara.
Selain itu, Dita juga memiliki keyakinan buta pada Rexy, jika Tuanya pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah.
Jadi, Dita masih tersenyum dengan lembut, menenangkan Erlina lagi, dan berkata, "Nona, sebaiknya kita melihat Tuan dulu. Aku yakin Tuan pasti akan baik-baik saja. Aku juga yakin, Tuan pasti bukan orang biasa, dan dapat menyelesaikan semuanya dengan mudah."
Ketika mendengar tentang Rexy yang bukan orang biasa, akhirnya hati Erlina sedikit tenang, dan mengangguk.
Kemudian dengan cepat menutup pintu kamarnya dan pergi keluar untuk menuju ke kantor polisi.
Namun, yang tidak diketahui oleh mereka berdua adalah, ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua saat keluar dari gerbang.
Ketika mereka berdua pergi, orang itu menatapnya dengan sinis, dan segera mengikutinya dari belakang.
Di sisi lain, Akira yang telah kembali ke rumahnya, segera mengambil handphonenya, dan menekan tombol dengan nama "Ayah" di kontaknya.
Sementara aktor utamanya, Rexy yang sedang menjadi pusat perhatian sedang duduk di sebuah ruangan kecil, dan dengan seorang wanita di depannya.
Ruangan kecil yang hanya memiliki satu lampu di atasnya, dan tampak seperti ruang interogasi ini terlihat suram, dan dingin. Di tambah dengan wajah Arinda yang sangat dingin dan marah di depannya, suasana ini benar-benar mencekam.
Namun, saat melihat Arinda yang sedang mengerutkan kening sambil melihat beberapa arsip, dan rekaman di depannya penuh kedinginan, Rexy masih tenang, dan sengaja atau tidak mengagumi kecantikan dingin ini.
"Huh!"
Entah berapa lama, Arinda di depan berhenti melihat berkas-berkas di depannya, dan dengan dingin mendengus.
Kemudian, melihat wajah Rexy yang masih tenang, dan tersenyum, Arinda dengan dingin berkata, "Katakan dengan jujur! Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa berubah menjadi seperti ini hanya dalam beberapa hari."
Rexy tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Arinda, dan dengan bingung bertanya, "Nona, apa yang sedang kamu tanyakan?"
__ADS_1
"Brak!"
Arinda menggedor meja, dan dengan dingin menatap Rexy, "Jangan berpura-pura bodoh! Seminggu yang lalu, kamu masih menjadi orang bodoh, gendut, jelek, miskin, dan tidak berguna. Tapi tiba-tiba kamu berubah menjadi orang yang berbeda hanya dalam beberapa hari! Apa yang kamu lakukan? Siapa kamu?!"