
Sekitar sepuluh orang berpakaian serba hitam, bertubuh besar dengan tongkat di tangannya, siapapun akan tahu jika mereka adalah orang-orang yang terlatih.
Apalagi wajah mereka yang serius, dan terlihat tak tersenyum, mereka pasti sangat kejam dan tak kenal ampun.
Di tatap orang-orang seperti itu, otomatis Erlina, dan Dita merasa gugup dan ketakutan.
Tapi Erlina lebih baik, dan segera mengeluarkan telepon untuk memanggil polisi.
Sementara Rexy sendiri, yang melihat Erlina gugup dan akan menelepon polisi segera menghentikannya, dan tersenyum, "Jangan khawatir! Kamu menjauh bersama Dita, lihat saja pertunjukan silat nanti, oke?"
"Tapi... Mereka terlihat kuat, dan kejam..."
"Tenang Lina, bukankah kamu tahu sendiri, jika aku ini sudah menjadi lebih kuat?" Rexy masih tersenyum, dan menenangkan Erlina.
Erlina memikirkan ucapan Rexy, dan ingat kejadian saat dia memeluk tubuhnya sangat erat ibarat alat penjepit besi.
"Tapi kali ini berbeda." Kata Erlina masih khawatir.
"Tenanglah, serahkan semuanya kepadaku," kata Rexy lagi, lalu melihat kearah Dita, "Kamu bawa Lina menonton di belakang."
Dita disisi lain memiliki kepercayaan mutlak, dan kepatuhan penuh terhadap Rexy. Mendengar perintah ini, dia segenap mengangguk dan berkata, "Baik Tuan. Hajar mereka semua."
Erlina, mendengar apa yang dikatakan oleh Dita segera mengerutkan kening, dan memarahi, "Kamu, apa yang kamu maksud menghajar mereka? Kamu tidak tahu, orang yang dihajar pasti adalah Rexy."
Dita tidak berpikir seperti itu, dan hanya dengan santai menjawab, "Tenang Nyonya. Karena Tuan sudah berkata seperti itu, dia pasti bisa mengalahkan mereka semua."
Tidak menunggu Erlina berkata lagi, Dita telah menarik tubuhnya menjauhi tempat Rexy berada.
Merasa bahwa tidak bisa lagi membujuk, Erlina dengan pasrah hanya bisa berkata, "Rexy, hati-hati!"
Rexy tersenyum mengerti, dan mengangguk.
Kemudian melihat kearah Drian yang sedang melihatnya dengan marah dan jijik, Rexy berkata, "4.000.000.100 Rupiah! Ini adalah kesempatan terakhir."
"Sialan! Habisi dia!" Dengan teriakan Drian, sepuluh pengawal itu segera bergegas ke arah Rexy.
Mengetahui pilihan Drian, Rexy menggelengkan kepalanya menyayangkan, dan berkata, "Sangat di sayangkan, kesempatan bagus kau lewatkan begitu saja."
Ucapan Rexy ini membuat marah Drian memuncak, dan berteriak lagi, "Jangan biarkan dia pergi. Patahkan kaki, dan tangannya."
Mendengar ini, Rexy tersenyum tipis, dan tidak berbicara lagi. Lalu melihat beberapa pria yang datang kepadanya, Rexy tersenyum menyeramkan.
Ketika melihat senyum Rexy ini, pria yang akan menyerang Rexy merasa bahwa akan ada hal buruk yang terjadi.
Tapi dia terlambat menyadarinya, dan ketika suara pukulan terdengar, pria besar yang memiliki berat lebih dari 90kg itu merasa kepalanya seperti di tubruk banteng, dan tiba-tiba tubuhnya terbang.
__ADS_1
"Buk!"
Tubuhnya terbang beberapa meter, dan jatuh tepat di depan Gerry yang berada di depan pintu restoran. Setelah jatuh di aspal, dia juga tidak lagi bergerak dan pingsan.
Kejadian ini sangat cepat, dan sebelum semua orang menyadari apa yang terjadi dengan pria itu, Rexy tampak menghilang dari tempatnya berdiri.
Lalu dengan suara pukulan sembilan kali berturut-turut, semua pengawal yang sebelumnya terlihat sangar dan kuat semuanya sudah tergeletak di aspal, tidak lagi bergerak.
"Ahk!" Ada teriakan terkejut dari para wanita di kerumunan.
Teriakkan itu membangunkan semua orang di kerumunan, dan pada akhirnya melihat bahwa sepuluh orang yang sebelumnya masih baik-baik saja sudah tergeletak tak bergerak di aspal.
"Pingsan!"
"Mereka semua pingsan!"
"Apa yang sedang terjadi disini?"
....
Ada kejutan dan ketidakpercayaan di antara kerumunan.
Karena dari banyaknya pasang mata yang sedang menonton, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dari semua orang di tempat kejadian, mungkin hanya Rexy yang dapat mengetahui apa yang sedang terjadi.
Berkat peningkatan sepuluh persen kekuatan fisik dan intuisinya, Rexy sungguh merasa bahwa tubuhnya bukan lagi tubuh manusia biasa.
Kekuatan meledak-ledak di tubuhnya seperti seorang Superman. Ketika dia bergerak, tubuhnya seringan bulu, dan bergerak sangat cepat.
Memukul mereka semua, Rexy masih ringan dan tidak menggunakan kekuatan penuhnya. Tapi Rexy masih tidak berharap, 50% dari kekuatan tinjunya masih dapat membuat mereka pingsan seketika.
Jika menggunakan 100% persen kekuatan, bukankah mereka akan mati?
Memikirkan ini, Rexy merinding, dan beruntung tidak menggunakan kekuatan penuhnya.
Kemudian Rexy tersenyum, dan melihat ke arah Drian, yang kini wajahnya penuh kejutan besar, dan ketidakpercayaan.
Drian sendiri tahu, bahwa para pengawal ini bukan hanya pria biasa. Mereka semua adalah mantan anggota ketentaraan, tapi hanya dalam beberapa kedipan mata, mereka semua tergeletak dan pingsan di tanah.
Rexy, siapa dia? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan seperti ini?
"Plak!"
Tamparan pelan pada pipinya membangunkan Drian dari kejutannya. Tapi segera, kejutan itu berubah menjadi ketakutan saat melihat senyum menyeramkan Rexy di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu masih mau menerima penawaran terakhirku?"
"Mau! Tentu saja mau!" Drian benar-benar ketakutan, dan buru-buru mengangguk.
Rexy mengangguk, dan tersenyum tipis, "Tapi, penawaran itu terlalu mahal. Bisakah kamu menurunkannya?"
"Bisa, tentu saja bisa. Satu miliar, tidak itu penawaran awal, satu juta. Ya! Satu juta!"
Rexy tersenyum tipis, tapi masih berkata lagi, "Itu memang harga yang pantas. Hanya saja, kawan! Aku tidak memiliki uang cash sekarang."
Nada Rexy terdengar tak berdaya, tapi ketika Drian melihat Rexy yang berkata sambil menunjukkan giginya, seluruh tubuhnya merasa merinding.
Karena dalam pandangannya, gigi Rexy yang sebenarnya biasa saja tiba-tiba muncul dua taring tajam tambahan, dan menunjukkan ancaman nyata pada dirinya.
Jika tidak segera menyetujuinya, Drian merasa bahwa dia akan mengalami nasib buruk hari ini.
Monster! Iblis! Dua nama ini muncul tiba-tiba di kepala Drian, dan dalam pandangan semua orang, pria yang di anggap kuasa ini tiba-tiba gemetar, dan bau amis tercium di udara.
Lalu, saat semua orang melihat ke celana Drian, ada noda basah disana.
Ngompol? Dia ngompol?
Ada kejutan, dan ledakan hebat di setiap kepala semua orang.
Belum sampai disitu, mereka bahkan akan mendengar kata-kata yang akan membuat siapapun mendengarnya merasa gila.
"Rexy, Kakak, Tuan, Bos...tidak, tidak perlu membayar..."
"Huh," Rexy mendengus dan mengerutkan kening saat mencium bau amis di depannya.
Tapi Drian, yang mendengar itu merasa bahwa sedang marah, dan buru-buru mengeluarkan kunci mobil, dan menyerahkannya kepada Rexy.
"Bos...bos... bajingan ini minta maaf. Sebagai permintaan maaf, bos, tolong ambil mobil bawahan sebagai hadiah."
Ketika mendengar ini, Rexy kembali tersenyum, dan dengan senang hati mengambil kunci mobil dari tangan Drian.
"Pergi, jangan mengotori mobilku dengan kencingmu!"
"Baik bos.." Drian buru-buru menjauh dari Rexy.
Kemudian, Rexy memandang Erlina yang masih membuka mulutnya tercengang, dan berkata, "Ayo Sayang, masuk. Aku akan mengantarmu pulang."
Erlina disana masih terkejut, dan tidak merespon kata-kata Rexy. Tapi Dita di sebelahnya sudah memprediksi kejadian ini, dan segera menarik Erlina.
Kemudian mereka bertiga masuk ke mobil yang baru saja di beli, dan dalam pandangan semua orang, dengan elegan Rexy pergi mengendarai mobil Porsche bersama dua wanita di dalamnya.
__ADS_1