1001 Cara Menjadi Yang Terhebat

1001 Cara Menjadi Yang Terhebat
Menyelamatkan Erlina


__ADS_3

Orang yang berada di mobil yang sedang berjalan keluar adalah Drian dan Anandita.


Dalam pandangan Rexy, mereka berdua tampaknya telah menjadi pasangan dan tampak mesra.


Tidak!


Sebenarnya, Rexy melihat bahwa itu Anandita yang kegatelan dan sangat ingin dekat dengan Drian.


Memikirkan wanita ini, mau tak mau Rexy sedikit berterimakasih kasih padamu.


Karena, dengan penolakan dimasa lalunya, Rexy akhirnya dapat mengetahui wanita apa sebenarnya Anandita ini.


Wanita yang materialis, dan rela memberikan tubuhnya untuk mendapatkan apapun.


Seperti saat ini, ketika Gerry sudah tidak berguna lagi, dan dia menemukan pria yang lebih baik, dia meninggalkan masa lalunya, dan lebih memilih orang lain.


Drian sendiri, mungkin dia juga tidak akan pernah melihat Anandita, karena dengan kekayaannya, segala jenis wanita dapat dimilikinya.


Namun, wanita seperti Anandita tetaplah wanita murahan. Dia pasti memberikan tubuhnya kepada Drian, dan melakukan beberapa penawaran.


Mendapatkan wanita seperti Anandita, dan dengan penawaran uang yang diminta, otomatis Drian akan menerimanya begitu saja.


Melihat dua orang ini, Rexy benar-benar jijik.


Jika saat ini Rexy masihlah pria yang bodoh, dan polos seperti dimasa lalu, dia mungkin tidak akan melihat dunia yang lebih tinggi.


Namun, Rexy juga sedikit berterimakasih kepada Anandita. Karena jika bukan karena wanita ini, mungkin Rexy tidak akan bertemu dengan Eggy, dan akan tetap menjadi pria yang bodoh, dan jelek.


"Dunia benar-benar berubah dengan cepat. Aku tidak pernah membayangkan, dalam beberapa hari, aku akan melihat dunia yang tidak pernah aku bayangkan."


"Eggy, Erlina, Arika, kalian semua adalah orang yang sangat istimewa dalam hidupku."


"Mulai hari ini, aku akan benar-benar berubah, dan hanya akan membahagiakan kalian semua!"


Rexy bersumpah pada dirinya, dan langit malam.


"Oh.. sebentar! Tampaknya juga ada Arinda."


Ketika mengingat ini, Rexy sedikit menghela nafas panjang tidak berdaya.


"Lupakan saja! Sekarang yang penting adalah menyelamatkan Erlina!"


Rexy membuang semua pikiran di dalam hatinya, dan segera terbang kearah rumah itu.

__ADS_1


Terbang beberapa waktu di rumah itu, Rexy menemukan sebuah fentilasi udara di dinding, dan langsung masuk kedalam.


Setelah masuk, Rexy kembali ke mode menghilang, lalu berubah menjadi bentuk manusianya, dan berjalan mengikuti keberadaan Erlina melalu hatinya.


Rumah ini tidak terlalu besar, dan setelah berjalan beberapa waktu, Rexy menemukan beberapa orang bertubuh besar di ruang tamu, serta Dita yang sedang di ikat di bangku dengan mulut di tutup menggunakan lakban. Tapi tidak Erlina disini.


Melihat Dita, dan beberapa preman yang sedang bermain kartu di ruang tamu, Rexy tersenyum, dan tidak terlalu khawatir dengan Dita.


Yang perlu di khawatirkan sekarang adalah keberadaan Erlina.


Mengikuti hatinya, Rexy akhirnya berhenti di sebuah kamar tidur, yang pintunya tidak tertutup.


Berdiri di luar, Rexy melihat Erlina sedang terbaring di tempat tidur hanya dengan sedikit pakaian yang menutupi bagian-bagian penting tubuhnya.


Dari wajahnya yang cantik, Rexy melihat ada air mata yang jatuh, dan terlihat ketakutan. Tapi dia tidak bisa bersuara dan bergerak.


Karena saat ini, mulut Erlina juga sedang di tutup menggunakan lakban, dan empat anggota badannya di ikat di kasur.


Sementara di depannya, Rexy melihat Gerry tersenyum menyeramkan, dan sedang sibuk membuka setiap pakaian di tubuhnya.


"Gadis, aku tidak menyangka, bahwa kamu memiliki tubuh yang sangat indah dan wajah sempurna!"


Mendengar ini, Erlina di tempat tidur tampak semakin ketakutan, dan segera menggelengkan kepalanya dengan gemetar..


Ekspresi ketakutan Erlina membuat Gerry di depannya tertawa keras.


"Hahaha..."


Sambil tertawa, semua pakaian di tubuh Gerry telah menghilang, dan berjalan kearah Erlina di tempat tidur.


"Ooooh.. jangan takut, sayang! Aku pasti akan membuatmu merasa bahagia!"


Kali ini, Gerry sudah naik ke kasur, dan mencoba untuk menyentuh wajah Erlina.


Sementara Erlina, melihat tangan Gerry sudah datang semakin ketakutan, dan segera menggelengkan kepalanya, dan berjuang sekuat tenaga.


Namun, karena semua anggota tubuhnya diikat, Erlina hanya bisa menggeliat, dan membuat mata Gerry semakin merah, seperti seekor serigala kelaparan.


Kemudian, ketika Erlina melihat tangan Gerry semakin dekat, dan usahanya sia-sia, dia hanya bisa menutup matanya dan berteriak dalam hati.


"Rexy... Tolong..."


Erlina sudah pasrah, tapi setiap detik waktu terus berjalan, jantung Erlina berdetak semakin kencang, dan kencang.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, tapi ketika waktu telah berjalan selama satu menit, Erlina tidak merasakan sentuhan apapun di wajahnya.


Selain suara "klik" dan teriakan kesakitan di telinganya, indera Erlina tidak merasakan apapun. Dan saat mendengar suara seperti tulang patah, dan teriakan melolong kesakitan, Erlina semakin takut, dan tidak berani untuk membuka matanya.


Bahkan, ketika Erlina merasa ada seseorang yang melepaskan semua ikatan, dan lakban di mulutnya, Erlina masih ketakutan dan tidak berani bergerak, atau bahkan sekedar membuka matanya.


"Lina, kamu baik-baik saja?"


Ketika mendengar ini, dan tampak mengenali suaranya, Erlina masih ketakutan, dan tidak berani membuka mata, atau merespon.


"Lina, ini aku.."


Baru ketika mendengar ini, dengan takut-takut Erlina akhirnya membuka matanya secara perlahan.


Ketika melihat Rexy di depannya, Erlina terdiam sejenak sebelum melompat dan memeluknya.


"Rexy...! Hiks...hiks..."


Sambil memeluk Rexy, Erlina juga mulai menangis di pelukannya.


Rexy tersenyum, dan dengan lembut membelai punggung Erlina, "Semuanya sudah berlalu. Kamu baik-baik saja sekarang."


Setelah mendengar itu, Rexy merasa bahwa Erlina sedikit tenang, dan hanya memeluknya dengan erat.


Tidak berpikir lebih banyak, Rexy segera mengambil seprei di tempat tidur untuk menutupi tubuh Erlina, yang saat ini hanya menggunakan sedikit pakaian. Kemudian keluar, dan berjalan ke ruang tamu tanpa menyembunyikan tubuhnya.


Sebenarnya, ketika ada teriakan di kamar, semua orang mendengarnya, tapi mereka tidak berpikir aneh-aneh. Dan hanya berpikir pasti Gerry sedang bermain-main untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa dia sedang bersenang-senang.


Karena bagaimanapun, tidak ada orang yang datang untuk menggangunya. Jadi, mereka hanya melihatnya sejenak, dan kemudian bermain kartu lagi.


"Uhuk...uhuk.."


Baru ketika mendengar suara ini, dan melihat Rexy keluar dari kamar sambil membawa wanita di pelukannya, mereka semua terkejut, dan bangkit.


Salah seorang preman dengan kepala botak, yang terlihat sangat, dan tampak pemimpin mereka berdiri, dan menuding Rexy dengan jarinya.


"Kau---kau--"


Namun, ketika botak itu melihat wajah Rexy, dia langsung tergagap, dan tidak bisa lagi menyelesaikan kata-katanya.


"Kau, kau apa? Apa kau ingin memberiku pelajaran?" Sambil berkata, Rexy memberikan pandangan main-main pada pria botak itu.


Pria botak itu tidak menjawab, tapi matanya langsung melebar, dan dengan suara "buk", dia berlutut di lantai.

__ADS_1


"Bos...bos...saya...saya tidak tahu jika itu Anda bos... Maafkan aku bos... Jika tahu bahwa itu adalah wanita bos...botak kecil ini pasti tidak akan mengambil pekerjaan ini...bos.. maafkan botak kecil ini, bos!"


Dalam keterkejutan semua orang, mereka semua melihat bos botak mereka, yang biasanya di juluki Bondet, pria yang yang tidak takut angin dan hujan sedang berlutut sambil membenturkan kepala botaknya di lantai, dan memohon untuk hidupnya.


__ADS_2