
Merasa bahwa sedang di permainkan, pelayan kecil itu tidak peduli lagi. Makanan yang telah ada di meja Anandita segera dia ambil kembali, dan buru-buru memindahkannya ke meja Rexy.
Setelah selesai, pelayan itu tidak lagi berbicara agar terlibat lebih jauh dalam masalah ini, dan buru-buru pergi menjauh.
Dalam keterkejutan Erlina, dan pandangan tak berdaya Anandita, Rexy dengan tenang mengambil daging udang di meja dan memasukannya kedalam bibir Erlina yang sedikit terbuka.
"Jangan bengong, ayo makan."
"Um," Erlina terkejut, dan spontan menyingkirkan tangan Rexy.
Dan setelah menelan udang di mulutnya, dia pura-pura marah, dan berkata kepada Rexy, "Kamu, kamu menyebalkan!"
Rexy tertawa kecil, dan kembali memberikan banyak makanan di depan piring Erlina.
"Sangat banyak! Bagaimana aku bisa memakan semuanya?"
"Apa yang kamu pikirkan? Jika kamu tidak bisa menghabiskan semuanya, kamu bisa membawanya pulang."
"Umh."
"Jangan pikirkan apapun! Sekarang aku ada di sisimu, apapun yang kamu butuhkan, aku akan memenuhinya. Jangankan hanya makanan, jika kamu sekarang meminta sebuah mobil, aku akan memberikannya." Mengatakan ini, sebenarnya Rexy bersungguh-sungguh, dan memang bisa melakukannya..
Tapi Erlina hanya mengangguk pelan, dan tidak berpikir banyak hal. Menurutnya, apa yang dikatakan oleh Rexy hanya untuk kenyamanan dirinya, dan itu memang bisa membuat dirinya senang, dan tersenyum lembut.
Sementara Anandita, yang sejak makanan berpindah tempat selalu mengawasi mereka berdua, dan otomatis mendengar apa yang Rexy katakan.
Perhatian dan janjinya pada Erlina, Anandita yang mendengarnya otomatis merasa sangat iri.
Bagi seorang wanita, pria dengan fisik tampan seperti Rexy saat ini, dan bisa memberikan kenyamanan hati serta kenyamanan fisik, itu adalah hal paling mereka impikan. Tidak terkecuali bagi Anandita.
Yang tujuan awalnya bersama Gerry adalah karena janji seperti itu. Tapi sekarang, dia entah pergi kemana. Ini membuat Anandita merasa iri dan marah pada Gerry.
Tapi, setelah melihat Gerry keluar dari dalam restoran dengan seorang wanita paruh baya, dan terlihat seperti orang penting, Anandita kembali tersenyum.
Gerry juga tersenyum, dan melihat ke arah Rexy di meja makan dengan pandangan sinis.
__ADS_1
Tapi, setelah tiba di depan meja Rexy, Rexy masih tidak menghiraukan keberadaannya.
"Oke, karena kamu ingin mati disini, aku akan mengabulkan keinginanmu." Batin Gerry sambil melihat kearah wanita yang dia bawa di sebelahnya.
Wanita di sebelah Gerry, yang melihat tatapan matanya langsung mengerti, dan melihat kearah Rexy.
"Tuan ini, Tuan Gerry ini barusan mengeluh bahwa Anda mengambil makanan yang dia pesan. Apakah itu benar?"
Rexy baru mengangkat kepalanya dan melihat kearah mereka setelah mendengar ini. Tapi dia masih tetap tenang, dan samar-samar melihat antara Gerry dan wanita yang berbicara.
"Kamu adalah?" Tanya Rexy pada wanita paruh baya itu.
"Oh! Aku adalah manager restoran ini, namaku Yunita. Disini aku ingin memastikan, apakah benar Tuan merebut pesanan Tuan Gerry ini?"
Rexy tidak langsung menjawabnya, dia terlebih dahulu melihat kearah Gerry di sebelahnya, yang tersenyum dengan sinis, dan menebak semuanya..
Jadi, ketika Gerry barusan pergi, dia memanggil manager restoran ini, dan memutar balikkan fakta.
Mengetahui ini, Rexy tersenyum tenang, dan menjawab, "Apakah benar itu yang dia katakan?"
Rexy tidak segera menjawab, dan berbalik bertanya, "Apakah ini cara kalian memperlakukan pelanggan?"
Manager wanita itu masih tersenyum, dan menjawab, "Tuan, ini adalah restoran terkenal, dan reputasi kami sangat di jamin. Apabila ada kesalahpahaman, kami harus memastikan kenyataannya, dan menindaklanjuti dengan adil."
Ketika mendengar ini, Rexy tersenyum lebih lebar, dan melihat bahwa wajah Gerry mulai berubah.
"Baguslah kalau begitu. Tapi, daripada hanya bertanya kepadaku, bukankah kita harus membutuhkan seorang saksi? Agar lebih adil?"
"Tuan ini sangat benar!" Manager wanita itu mengangguk setuju, dan mulai memanggil pelayan telah menjauh sebelumnya.
Dari saat ini, wajah Gerry terlihat mulai berubah dan sangat gugup.
Sedangkan Rexy tersenyum tenang dan kembali makan sambil menunggu kedatangan pelayan tiba.
Namun, saat Rexy sedang lengah, Gerry tiba-tiba mendatangi manager wanita itu, berbisik di telinganya beberapa saat, dan kemudian kembali melihat ke arah Rexy dengan senyum sinis.
__ADS_1
Rexy tidak menyadari ini, tapi Erlina melihatnya, dan tahu jika Gerry bermain mata.
Namun, saat akan memberitahukan hal itu kepada Rexy, Rexy hanya memberikan pandangan tenang pada dirinya. Dan ketika akan berbicara, pelayan telah tiba di depan mereka.
Pelayan wanita kecil, yang sudah tidak ingin lagi berada di sini merasa tak berdaya saat datang lagi. Dan saat baru tiba, dia mendapatkan tatapan penuh arti dari manager wanita.
Melihat tatapan ini, pelayan itu terlihat terkejut, tapi mengangguk diam-diam.
Rexy tidak tahu dengan main mata orang lain, dan setelah pelayan itu tiba, Rexy segera tersenyum dan bertanya, "Kamu, bukankah kamu melihat semuanya? Apa yang terjadi sebelumnya?"
Mendengar pertanyaan ini, pelayan itu ragu-ragu dan melirik kearah manager wanita beberapa waktu.
Seperti sebelumnya, manager wanita itu memberikan tatapan mengancam pada pelayan itu. Tapi kali ini Rexy melihatnya, dan tersenyum tipis.
"Jadi seperti restoran dan terkenal bekerja?" Batin Rexy sambil menunggu pelayan wanita itu berbicara.
"Tuan, kamu tadi menyuruh saya untuk mengambil pesanan Tuan ini secara diam-diam."
Benar saja, apa yang dikatakan oleh pelayan itu akhirnya membuat Rexy mengetahui semuanya.
Tapi Rexy tidak menyalahkan pelayan malang ini. Bagaimanapun, dengan identitasnya, dia tidak berani membantah manager restoran, yang akan membuatnya kehilangan pekerjaan.
Bukan hanya Rexy yang tidak terkejut dengan pengakuan pelayan itu, Erlina juga tidak terkejut. Karena dia memang sudah menebaknya dari awal, dan saat mendengar pengakuan pelayan, dia menarik tangan Rexy agar tidak memperpanjang masalahnya, dan buru-buru mengajaknya pergi.
Rexy sudah mengetahui semuanya, dan saat merasakan Erlina menarik lengannya, dan melihat wajahnya yang gugup, Rexy tersenyum tenang untuk menenangkannya.
Jika dimasa lalu, Rexy mungkin akan diam saja dengan perlakuan seperti ini, tapi sekarang? Dengan bantuan Eggy, dan semua yang telah dia alami, apakah Rexy akan tetap diam di perlukan tidak adil?
Jawabannya jelas tidak.
Mulai sekarang, Rexy tidak ingin lagi mengalami hal seperti ini. Bukan hanya sekarang, dimasa depan juga tidak akan.
Jadi, Rexy dengan tenang tersenyum, dan berkata, "Seperti ini, apakah memang seperti ini restoran bintang lima memperlakukan pelanggan?"
"Hei, pembohong tak tahu malu! Apakah kamu masih ingin membantahnya ketika bukti sudah jelas-jelas ada di depan matamu?"
__ADS_1
Bukan manager restoran yang menjawab, tapi Gerry yang terlebih dahulu maju, dan menjawab pertanyaan Rexy dengan kejam.