
Memanfaatkan kesempatan pintu kamar Erlina yang tidak terkunci, Rexy dengan tenang mendorongnya, dan masuk kedalam.
Ruangan Erlina masih sama. Masih banyak pakaian-pakaian yang berserakan di ruang tamu, lantai dan sofa.
Hanya saja, Rexy tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini, dan mengendap-endap berjalan kedalam.
Pertama Rexy melihat ke dapur, lalu ke kamarnya, dan tidak menemukan keberadaan Erlina. Memikirkan kejadian sebelumnya, Rexy tersenyum dan berjalan ke kamar mandi.
Benar saja, saat berada di depan pintu kamar mandi, Rexy mendengar suara air yang mengalir, dan Erlina yang sedang bernyanyi.
Membayangkan tubuh Erlina yang sempurna, dan dada besarnya saat mandi, Rexy merasa tubuhnya mulai panas. Namun, dia tidak buru-buru masuk kedalam, dan berbalik ke ruang tamu.
Meskipun Rexy sudah bertekad untuk menjadi pria bajingan, dia memiliki hati nurani, dan tidak akan mengintip wanita mandi.
Sambil menunggu Erlina selesai mandi di ruang tamu, Rexy melihat beberapa pakaian yang berserakan, dan memilih untuk merapikannya.
Dengan merapikan ini semua, Rexy berpikir bahwa Erlina mungkin akan berterimakasih dan membuatnya punya alasan untuk mencium bibir Erlina.
Hanya saja, Rexy tidak menyadari, bahwa Erlina yang baru keluar dari kamar mandi melihatnya membereskan pakaiannya, dan langsung memberi pandangan marah pada dirinya.
Karena intuisinya, Rexy menyadari tatapan Erlina, dan berbalik. Namun, saat berbalik dan melihat Erlina yang hanya terbalut handuk, Rexy tidak menyadari kemarahan Erlina dan tersenyum menyeringai.
"Sudah selesai mandi?"
Erlina tidak menjawab pertanyaan Rexy, dan hanya memberikan satu kata, "Pergi!"
"Um."
Mengetahui bahwa Erlina tampaknya marah, Rexy berjalan ke arahnya dan tersenyum, "Sebagai calon suami yang baik, aku membantumu membereskan pakaian yang berserakan. Bagaimana? Apa kamu tidak akan memberi penghargaan?"
"Pergi!"
Kata Erlina masih sama, dan Rexy juga masih tersenyum.
"Jangan marah-marah di pagi hari. Tidak baik untuk kesehatan. Apalagi, sangat disayangkan jika marah sehabis mandi, kan?" Berkata seperti ini, pandangan Rexy jatuh pada rambut Erlina yang basah, dan pada kaki putihnya yang masih bersinar karena air yang belum mengering.
"Kamu, apa yang kamu lihat? Keluar, pergi dari rumahku!" Merasa bahwa pandangan Rexy mulai tidak bersahabat, Erlina segera berteriak.
Tapi, Rexy masih tersenyum, dan mencoba menenangkannya.
Hanya saja, cara menenangkan wanita yang Rexy ketahui adalah memeluknya.
__ADS_1
Jadi, tidak memperdulikan kemarahan Erlina, Rexy mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Erlina yang hanya memiliki balutan handuk.
Sementara Erlina, mengetahui gerakan tangan Rexy, dia mengerutkan kening dan buru-buru mundur untuk menjauhinya.
Tapi, Rexy masih lebih cepat daripada dirinya, dan tidak butuh waktu lama untuk membuat tubuhnya sudah berada di pelukan Rexy.
Merasakan bahwa tubuh besar dan hangat Rexy memeluk tubuhnya, seluruh tubuh Erlina menegang.
Meski ini bukan pertama kalinya Rexy memeluk dirinya, tapi ini berbeda. Tubuhnya hanya memiliki balutan handuk yang kapan saja bisa terlepas. Yang akhirnya hanya bisa membuat Erlina terdiam dan tidak berani bergerak.
Jika bergerak dan mencoba melepaskannya, pasti ikatan sederhana handuknya akan terlepas. Yang pada akhirnya membuat pria mesum ini melihat seluruh tubuhnya.
Jadi, alih-alih melawan, Erlina lebih memilih untuk mengangkat kepalanya, dan mencoba memarahinya.
Namun, tak disangka oleh Erlina adalah, Rexy sudah menutup matanya, dan menggerakkan wajah ke arahnya.
Mengetahui apa yang akan Rexy lakukan, dan dirinya yang tidak bisa bergerak, dilema ini akhirnya hanya bisa membuatnya berteriak.
Tapi, bibir Rexy tiba lebih cepat dan menutup mulutnya.
Belum selesai memproses kejutan ini, Erlina merasakan Rexy menarik tubuhku lebih keras. Yang akhirnya membuat dirinya tidak bergerak dan menempel ke tubuh Rexy.
Mata Erlina terbelalak. Dia ketakutan dan berusaha untuk melepaskan diri secepat mungkin.
Tapi, Rexy semakin berani dan menggerakkan tangan ke seluruh tubuhnya.
Merasakan ini, Erlina yang ketakutan segera menggigit lidah Rexy, dan membuatnya mengerang.
Untungnya, usaha Erlina tidak sia-sia dan Rexy segera melepaskan dirinya.
"Maaf, maaf Lina! Aku kebablasan!"
Erlina hanya ingin memarahi Rexy, tapi dia meminta maaf dulu, dan sebelum sempat mengatakan apa-apa, Rexy segera berlari keluar pintu.
"A-aku, apa sungguh menakutkan hingga membuatnya berlari secepat itu?" Melihat Rexy yang berlari sangat kencang, dan menghilang dari pintu, Erlina bergumam.
Tapi, tak lama kemudian dia kembali marah dan berteriak, "Bajingan mesum! Dia bodoh! Mesum! Mesum! Aku pasti akan hamil! Oh Tuhan..!"
Di luar pintu, Rexy mendengar suara teriakan Erlina, dan tersenyum.
"Maaf Lina, karena aku harus menciummu untuk masa depan kita. Terimakasih juga, karena sudah memberikan 10000 poin di pagi hari."
__ADS_1
"Aku berjanji, mulai sekarang aku akan mulai menatap masa depan kita, dan anak-anak kita."
Berkata anak-anak, Rexy masih berpikir dengan ciuman yang kedua kalinya, Erlina kemungkinan mengandung lebih dari satu bayi.
Jika apa yang dikatakan oleh Rexy didengar oleh Erlina, mungkin dia akan muntah darah jika tidak bunuh diri.
Hamil di luar nikah, dan masih memiliki banyak bayi? Siapa yang akan bisa tahan?
Untungnya Erlina tidak mendengarnya. Jikalau pun Erlina mendengar, mungkin Rexy hanya akan menikahinya sekarang, dan menciumnya setiap waktu.
Setelah selesai memanen poin dari Erlina, Rexy berjalan ke rumah Akira, dan bersiap untuk memanen poin lainnya.
Hari ini masih pagi, dan tidak banyak orang yang Rexy temui di jalan. Tapi Akira sudah membuka rumah makannya, dan menunggu tamu di dalam.
Ketika Rexy tidak jauh dari rumah Akira, dia melihat nenek-nenek tua sebelumnya sedang berdiri di depan pintu rumah makan Akira.
Pada waktu yang bersamaan, Rexy melihat beberapa orang yang terlihat sedang mencari makanan di depan pintu Akira tiba-tiba berbalik, dan berkata pada temannya, "Masih tutup!"
Penemuan ini membuat Rexy semakin marah dan yakin, bahwa nenek-nenek tua itu adalah adalah pembawa sial buat usaha Akira.
"Sialan kau nenek! Kau berani menghancurkan usaha Kira, dan aku akan menghancurkanmu untuk selamanya!"
Dengan perasaan marah, Rexy dengan cepat berjalan ke arah rumah Akira, dan berhenti di depan nenek-nenek tua itu.
"Kau! Apa kau ingin mati!"
Sejak awal melihat Rexy, nenek-nenek tua itu sudah ketakutan, dan ketika Rexy mengatakan ini, dia semakin ketakutan.
Tapi, dia hantu biasa dan tidak bisa berbicara. Bagaimanapun dia menggerakkan mulut keriputnya, Rexy tidak bisa mendengar apapun.
Gerakan mulut nenek itu membuat Rexy berpikir jika hantu itu sedang mengejeknya.
Rexy semakin marah, dan menggeram, "Sialan! Kau menghinaku! Mati!"
Saat bersamaan, Rexy menggerakkan lengannya, dan memukul wajah nenek-nenek tua tak bersalah itu.
"Hei!"
"Bam!"
Ada suara ledakan dan panggilan saat Rexy menghancurkan hantu nenek-nenek menyebalkan itu.
__ADS_1