
Dengan teriakan Rexy, otomatis semuanya berhenti dan melihat kearahnya.
Untuk Drian sendiri, merasa bahwa ini adalah momen yang bagus untuk menjatuhkan reputasi Rexy di depan Ibu Sona dan Akira.
Jadi, dia tersenyum sinis, dan tidak membiarkan kesempatan langka ini begitu saja.
"Hei, kau orang luar, siapa kau? Ini urusan keluarga mereka, jangan ikut campur urusan orang lain! Apakah kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh keluarga mu?"
Rexy sudah muak dengan anggota keluarga ini, dan ketika mendengar kata-kata yang dikatakan oleh Drian, otomatis dia sangat marah.
Tapi, ketika melirik Akira disebelah, yang saat ini menundukkan kepalanya, dan sangat terpukul oleh kata-kata ibunya, dia tidak memiliki waktu untuk mengurus pria tak berguna disana.
Rexy lebih memilih untuk mengulurkan tangan ke arah pinggang Akira, dan menariknya kedalam pelukannya.
Hanya cara ini yang Rexy ketahui untuk menenangkan kesedihan wanita. Dan entah cara ini memang berguna, atau memang Akira sedang membutuhkan seseorang untuk memberinya kenyamanan, dia tidak menolak pelukan Rexy.
Dia juga menyadarkan kepalanya di pundak Rexy, dan tubuhnya yang gemetar perlahan-lahan sedikit normal karena mungkin elusan lembut tangan Rexy di punggungnya.
Disisi lain, Drian yang berniat untuk memisahkan Akira, dan malah melihatnya semakin dekat dengan Akira menjadi semakin marah, dan cemburu.
"Kamu, lepaskan tangan kotormu darinya!"
Rexy melirik kearah Drian samar-samar, dan tidak memperdulikannya.
"Apakah kamu bisu?" Drian semakin marah ketika melihat bahwa Rexy tidak menganggapnya.
Menurutnya, pria ini jauh lebih rendah daripada dirinya. Semua aspek tidak lebih bagus daripada dirinya. Tapi, dia tidak mendengarkan perintahnya. Lebih parahnya lagi, dia memberikan pandangan samar-samar seolah dirinya tidak layak ada di depan matanya.
Beraninya dia?
"Anak miskin, sebaiknya kamu lepaskan putriku. Kamu tidak pantas untuk menyentuhnya!" Bukan hanya Drian, bahkan Ibu Sona juga mengatakan hal yang sama.
Tepat ketika Rexy mendengar ini, dia mengangkat kepalanya.
Awalnya, Rexy ingin berkata, tapi Akira di pelukannya memegang lengannya. Akira memberikan sebuah kode untuk tidak melanjutkan pembicaraan ini, dan membawanya pulang.
__ADS_1
Karena bagaimanapun, dari pembicaraan sebelumnya, Rexy mengetahui sedikit masa lalu Akira.
Dia lebih memilih menikah dengan seorang pria biasa, daripada orang yang diinginkan oleh ibunya. Namun hasilnya, dia di khianati. Pria miskin yang dibantu untuk sukses, tiba-tiba meninggalkan dirinya setelah apa yang Akira berikan.
Sama untuk saat ini, dia memperkenalkan Rexy, yang sebenarnya juga berpenampilan seperti pria biasa. Dimana itu membuat ibunya marah, dan mengungkit masa lalu.
Sebagai seorang anak, Akira tidak ingin berdebat dengan orang tuanya, yang bisa membuat hubungan keluarga mereka renggang.
Akira sebenarnya berterima kasih karena Rexy masih mengerti dirinya, tapi Akira yang paling tahu, jika Rexy adalah pria muda yang polos, dan tidak memiliki kelebihan untuk melawan kata-kata pihak lain.
Jadi, untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, Akira lebih memilih untuk segera pergi dari sini.
Meski Rexy polos, dia mengerti kekhawatiran Akira. Ya, walaupun itu tidak benar-benar mengerti perasaannya.
Itu hanya Eggy, yang baru mengatakan misi baru. Yaitu menampar wajah mereka berdua untuk menyenangkan kesedihan Akira, dan hadiahnya masih 1000 poin.
Tentu saja, yang dimaksud menampar bukan menggunakan tangan, tapi menampar dengan kata-kata yang membuat mereka malu.
Ditambah dengan kata-kata kejam yang keluar dari mulut mereka berdua, dan ditambah dengan kemarahan dihatinya, serta misinya, bagaimana Rexy akan melepaskan kesempatan ini begitu saja?
Jadi, meskipun Akira menolak, Rexy akan tetap melakukannya.
"Jika kamu sadar, itu bagus!" Drian tersenyum sinisme.
"Hehehe, lalu apakah kamu lebih pantas darinya?" Rexy bertanya lagi.
"Bukankah sudah jelas! Lihat diriku dan dirimu! Bandingkan, siapa yang lebih baik? Aku memiliki sebuah perusahaan yang bernilai ratusan juta rupiah, sedangkan kamu? Beli baju yang layak untuk pertemuan saja tidak mampu?" Mengatakan ini, Drian memberi pandangan sarkasme, dan penghinaan kepada Rexy.
Rexy masih dengan tenang tersenyum, "Dari aspek kekayaan, kamu memang layak. Tapi, dari aspek lainnya, kamu tidak layak sama sekali. Baru saja, ketika Akira disudutkan oleh ibunya, dan membutuhkan seseorang untuk memberinya kenyamanan, dimana kamu? Apa yang kamu lakukan? Selain menghinaku, dan melarangku untuk menenangkannya, apa yang kamu lakukan?"
Wajah Drian yang sebelumnya tersenyum sinis langsung kaku, dan terdiam.
Setiap kata demi kata yang dikatakan oleh Rexy, itu bagaikan skak mat yang tidak lagi memiliki peluang untuk dibantah.
Akira sendiri, ketika mendengar setiap kata-kata yang diucapkan oleh Rexy juga terkejut, dan mengangkat kepalanya untuk melihat pria muda di depannya ini. Dia tidak pernah berpikir, pria muda yang biasanya sangat polos akan memiliki pemikiran yang tajam.
__ADS_1
Menganalisis setiap kejadian demi kejadian, dan membalikkan pertanyaan kepada lawan.
Ibu Sona juga sama, dia juga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rexy. Tapi, kejutan itu lebih sedikit daripada amarah yang dia rasakan dari ucapannya.
Menyudutkan Akira? Dengan kata lain, dirinya menganiaya putrinya sendiri, kan?
Hanya saja, sebelum dia sempat berbicara, dia melihat Rexy melihat kearahnya, dan membuka mulutnya.
"Untuk Ibu Sona, kamu juga sama. Aku tidak mengerti, bagaimana kamu sebagai seorang ibu akan mengatakan hal seperti itu kepada putrinya sendiri."
Ada kerutan dan amarah nyata yang nyata saat ibu Akira mendengar kata-kata Rexy, "Apa katamu? Kamu menyalahkan caraku mendidik putriku!?"
Rexy mengangguk pelan, dan tidak menyembunyikan.
"Siapa..." Sona yang ingin membentak segera dihentikan terlebih dahulu oleh Rexy.
"Bukannya aku ingin ikut campur urusan keluarga kalian, hanya saja, caramu mengatakan sesuatu tentang kemiskinan dan mengungkit masa lalu Akira itu sangat menggangu diriku. Pertama, masa lalau adalah masa lalu, dan Akira pasti juga belajar dari masa lalunya,"
Rexy berhenti sejenak, kemudian melihat antara Akira dan ibunya sebelum bertanya, "Apakah Ibu tidak pernah berpikir, kenapa Akira tidak menikah selama ini?"
Ibu Akira mengerut kening, melihat kearah Akira, dan tidak menjawab. Karena sebenarnya, dia juga tidak mengerti.
"Biar ku tebak. Akira pasti trauma dengan masa lalunya, dan tidak memikirkan untuk menikah selama lima tahun ini. Kemudian, ketika dia bertemu denganku, dan tahu kebaikanku, Akira mulai melupakan masa lalunya, dan berniat menjalin kasih lagi. Tapi, kamu menghalangi kebahagiaannya. Apa itu? Bukankah itu sangat buruk?"
Apa yang Rexy katakan sebenarnya adalah omong kosong belaka. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Akira. Jangan katakan tahu pikiran Akira, Rexy saja baru bertemu dengan Akira tidak lebih dari lima kali.
Tapi, karena ibu Akira melihat di anggukan Akira, mau tak mau mereka semua menganggapnya seolah-olah seperti itu.
Sebagai orang tua, Sona pasti mengutamakan kebahagiaan putrinya, dan ketika mengetahui semua ceritanya, dia sedikit bersalah, dan memahami kemauan putrinya.
Tapi, dia masih tidak sepenuhnya percaya pada Rexy, dan berkata, "Apa yang kamu katakan sepertinya memang benar,"
"Tapi, sebagai orang tua, aku harus memastikan kebahagiaan putriku. Pria yang dapat menjaga, dan merawatnya adalah kriteria lain. Yang utama adalah, bagaimana kamu bisa membahagiakan putriku tanpa memiliki kekuatan finansial? Bagaimana dengan finansialmu? Berapa gaji bulananmu? Apa pekerjaanmu?"
Drian, yang mendengar ini dari disamping ibu Akira tersenyum, dan melihat kearah Rexy dengan sarkasme.
__ADS_1
Sementara Akira, dia merasa gugup dengan apa yang akan dijawab oleh Rexy. Karena dirinya yang paling mengetahui, bahwa Rexy adalah seorang pengangguran.
Ketika semua mata tertuju kepadanya dengan semua jenis tatapan, Rexy dengan tenang membuka mulutnya, "Aku adalah pengangguran profesional."