
Eggy tidak berkata, dan segera bola cahaya lain memasuki kepala Rexy.
"Itu adalah ikatan hati dengan wanita yang harus kamu miliki di masa depan." Eggy menjelaskan.
Bersamaan dengan Eggy sedang menjelaskan, dalam pikiran Rexy, dia tiba-tiba memiliki perasaan di hatinya bahwa Erlina sangat jauh dari tempatnya saat ini.
Itu bukan di dalam kota, tapi ada di daerah luar kota, dan tempatnya sangat terpencil.
Selain Erlina, Rexy juga bisa merasakan keberadaan Akira, yang saat ini tampaknya sedang di rumah.
Namun, Rexy tiba-tiba juga merasakan keberadaan Arinda yang sedang ada di dekatnya, dan mau tak mau ini membuatnya berpikir.
Perasaan ini di sebut ikatan hati. Karena dua wanita yang sudah terikat dengan hatinya terasa, itu sudah di pastikan. Tapi, kenapa Arinda juga muncul sekarang?
Wanita polisi ini, apakah dia juga memiliki ikatan dalam hatinya?
Eggy mengetahui kebingungan Rexy dan menjelaskan, "Ya, seperti yang kamu pikirkan, polisi kecil itu sekarang sudah menjadi bagian darimu."
"Jika ada seorang wanita yang kamu temui, dan tiba-tiba misi muncul, dapat di pastikan bahwa dia akan menjadi bagian dengan dirimu."
Rexy terkejut, tapi dia tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini, dan segera berubah menjadi seekor nyamuk.
Lalu terbang melalui celah pintu dan keluar.
Saat keluar, memang ada dua orang yang sedang menjaga pintu dengan senjata lengkap di tangannya. Jika seandainya Rexy melakukan kekerasan, bukan tidak mungkin dia akan berhadapan dengan dua orang ini.
Dan itu adalah hal yang tidak ingin Rexy inginkan.
Apalagi, kantor polisi saat ini juga sedang ramai dengan petugas yang lembur.
Dengan menjadi seekor nyamuk, otomatis tidak ada yang menyadari jika Rexy telah keluar dari ruang interogasi.
Tapi, sebelum keluar untuk menyelamatkan Erlina, dan Dita, Rexy berputar-putar dulu di ruangan.
Setelah menemukan barang bawaannya, dia pindah ke mode tak terlihat, dan berubah menjadi manusia.
Pada awalnya, Rexy masih takut jika ada yang melihat keberadaannya, akan tetapi, setelah berubah menjadi manusia, dan tidak ada yang menyadarinya sama sekali, Rexy kembali tenang, dan dengan mudah mengambil barang-barangnya.
Perasaan berjalan-jalan di kantor polisi sebagai tahanan, tapi tidak ada yang melihat keberadaannya, bagi Rexy ini adalah perasaan yang luar biasa.
__ADS_1
Mulai saat ini, bisakah dirinya di sebut sebagai "Hantu"?
Rexy tersebut, dan dengan tenang berjalan keluar.
Namun, ketika melihat Arinda yang sedang menatap komputer dengan cemberut di wajah dinginnya, Rexy tersenyum dan berjalan kearahnya.
Berdiri di belakang wanita yang sebelumnya seperti seekor harimau, tapi kini tidak menyadari dirinya sama sekali, Rexy menyeringai dan mengulurkan kedua tangannya.
"Aah!"
Ada teriakan terkejut yang keluar dari bibir Arinda.
Teriakan itu sangat keras dan membuat semua orang di kantor polisi secara tersentak melihat kearahnya.
"Kapten, apakah ada yang salah?"
"Tidak! Aku hanya terkejut."
"Ooohhh...tapi kenapa wajah kapten berubah menjadi merah? Bukan hanya sekedar merah, bahkan tubuh kapten juga tampak ketakutan?"
"Apakah ada hantu lainnya?"
Orang yang bertanya adalah Jupri, dan saat bertanya, dia juga memberikan tatapan bercanda kepada Arinda.
Tapi, mereka semua menahan tawanya karena takut Arinda akan mendengarnya.
Hanya saja, Arinda sudah mengetahui bahwa bawahannya sedang mengejek dirinya, dan segera memberikan pandangan tajam.
"Sepertinya kalian memang kurang pekerjaan. Jika begitu, dua hari ini kalian harus terus kerja lembur. Tidak ada waktu istirahat."
Segera, semua bawahan Arinda terdiam, dan menyesali perbuatannya. Tapi mereka tidak berdaya, dan hanya bisa menatap Jupri dengan tajam, dan penuh kebencian.
Jika bukan karena orang ini, yang dua kali membuat Kapten marah, bagaimana mungkin semua orang akan menerima hukuman lembur dadakan.
Jupri sendiri juga tidak berdaya dan sangat sedih.
Biasanya, kata-kata yang dia ucapkan barusan bukanlah suatu masalah. Tapi entah kenapa, kata-kata yang biasanya cuman candaan belaka dapat membuatnya sangat menderita.
Apakah Kapten sedang mengalami hari merah? Sehingga emosinya sangat tidak stabil?
__ADS_1
Arinda sendiri, dia tidak peduli dengan tatapan tak berdaya, dan murung anak buahnya. Melihatnya seperti ini, Arinda merasa sedikit senang, karena bisa menghilangkan kebingungan di hatinya.
Arinda memang kebingungan, karena barusan, dia merasa ada tangan yang tiba-tiba meremas kedua dadanya. Tapi tidak ada orang yang ada di dekatnya.
Perasaan itu sangat nyata, dan tidak di buat-buat.
Arinda yakin, jika itu adalah tangan seseorang. Selain itu, tiba-tiba Arinda juga memikirkan seseorang.
"Kring...kring..."
Arinda mengerutkan kening, dan sudah menebak di pikirannya. Akan tetapi, suara panggilan telepon di sebelah mengganggu penyelidikannya.
"Ya, halo! Siapa...?" Arinda mengangkatnya.
"Ini aku, Sandoro." Suara seorang pria, terdengar berat, dan buru-buru keluar dari telepon. Dia adalah atasan Arinda.
Ketika mendengar ini, Arinda segera membuang semua pikiranya, dan dengan tersenyum berkata, "Ooh..ketua, ada apa malam-malam telepon?"
"Aku dengar kamu menangkap seorang pemuda bernama Rexy Sanjaya, apakah itu benar?"
Arinda mengangguk, dan berpikir bahwa atasannya hanya bertanya biasa.
Jadi, Arinda dengan nada sedikit membenci menjelaskan, "Itu benar! Dia di curigai telah merampas mobil secara paksa, dan memukuli seseorang. Bukan hanya itu, dia juga bertindak melawan polisi."
"Menghitung tindakan yang sudah dia lakukan, seharusnya dia akan mengalami hukuman yang sangat berat. Kejahatan harus di berantas dengan tegas. Jangan khawatir Pak, aku pasti akan bertindak dengan adil."
Setelah Arinda mengatakan semua tuduhan Rexy, tidak ada lagi suara di telepon selama beberapa waktu.
Sekitar beberapa saat sambil di barengi dengan suara mendesah yang terdengar, pihak lain berkata, "Lepaskan dia!"
Satu perintah itu membuat Arinda berhenti, dan terdiam membatu di tempat.
"Apa? Apa yang Bapak katakan?" Arinda terkejut selama beberapa waktu, dan tidak mempercayai telinganya.
Dengan suara yang terdengar tak berdaya, pihak lain menjawab, "Gadis, kamu tidak salah mendengarnya. Aku memang menyuruhmu untuk melepaskannya."
"Apa? Pak, apakah Anda salah memberikan perintah? Dia adalah seorang penjahat, preman, bajingan, dan sangat buruk. Bagaimana mungkin penjahat seperti itu di lepaskan begitu saja."
"Tidak! Pasti Bapak bercanda, kan? Orang seperti itu, jika di lepaskan begitu saja, bagaimana nasib masyarakat?" Arinda sungguh tidak terima, dan segera menjelek-jelekkan keburukan Rexy.
__ADS_1
Akan tetapi, pihak lain juga tidak berdaya, dan menjelaskan dengan sedih, "Gadis. Aku tahu apa yang kamu maksud. Tapi aku bisa apa? Ini adalah perintah dari atasan tingkat provinsi. Polisi kecil seperti kita, apa yang bisa dilakukan?"
Ketika mendengar ini, Arinda segera menjadi bodoh, dan terdiam untuk waktu yang lama.