
Manager Khan yang ketakutan segera melompat sambil berteriak, dan buru-buru bersembunyi di belakang Rexy.
Lalu memiringkan kepalanya, melihat dari belakang punggung Rexy, tapi tidak melihat apapun selain dapur kosong, dan penuh dengan perabotan.
Akan tetapi, kebisingannya di depannya terdengar semakin jelas, dan membuat seluruh tubuhnya gemetar.
"Tuan... Tuan muda Rexy...apa Anda benar-benar... dapat melihatnya?"
"Ya," Rexy mengangguk, dan dengan santai menjelaskan, "Ada sepuluh anak kecil berkepala pelontos sedang bermain-main menggukan wajan, dan sebagainya. Mereka sepertinya sedang bernyanyi."
"Ooh...ada satu yang datang kemari. Dia sedang menarik bajumu dan sepertinya mengajakmu untuk bergabung." Berkata seperti ini, Rexy melihat baju manager Khan.
Manager Khan sudah ketakutan, ditambah ini, seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan keringat dingin muncul di keningnya.
"Tuan....tuan...muda... Jangan..bercanda, saya sungguh ketakutan."
"Aku tidak bercanda," jawab Rexy serius, dan berbalik melihat Manager yang telah ketakutan.
"Diam dulu, aku akan mencoba untuk berbicara dengannya."
Manager Khan mengangguk, dan berdiri di tempatnya tidak bergerak.
Lalu, dalam pandangan Manager Khan, dia melihat Rexy berlutut, dan berkata, "Bocah, apa kamu akan pergi sendiri, atau aku usir?"
Tidak ada jawaban yang Manager Khan dengar.
Akan tetapi, dia melihat bahwa wajah Rexy yang sebelumnya tersenyum kini terlihat marah, dan berkata, "Karena kamu yang meminta, jangan salahkan aku menampar seorang bocah."
Selesai berkata, Manager Khan melihat Rexy menggerakkan tangannya, dan menampar udara tepat di depannya.
"Dar!"
Ada suara ledakan seperti petasan yang terdekat dari depannya, dan membuat tubuh manager Khan berhenti gemetar, tapi segera digantikan oleh mulut, dan matanya yang terbuka lebar.
Rexy tidak melihat ekspresi Manager Khan, dan berdiri membelakanginya.
Lalu bertepuk tangan, dan berkata dengan dingin, "Kalian para bocah, apa kalian akan pergi sendiri atau mati?"
Kembali ke pandangan Rexy, sembilan bocah itu berhenti, dan secara serentak melihat kearah Rexy.
Pada awalnya, penampilan mereka hanyalah bocah biasa, yang hanya memakai celana putih, dan kepala pelontos tanpa wajah menyeramkan.
Dan setelah mendengar ancaman Rexy, tiba-tiba wajah mereka berubah menjadi tua dengan mata merah dan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ooh..jadi ingin mati?"
Mereka tidak menjawab, dan dengan suara aneh dan melengking yang terdengar di ruangan, mereka semua berlari ke arah Rexy.
"Bagus!"
Rexy mengangguk, mulai mengayunkan tinjunya.
__ADS_1
"Dar!"
"Dar!"
....
Setelah suara "dar" sembilan kali berturut-turut terdengar di ruangan, Rexy berhenti dan berbalik.
Saat berbalik, Rexy menemukan bahwa wajah manager Khan sudah pucat dengan keringat bercucuran, dan kaki yang gemetar. Dari kakinya yang terus gemetar, Rexy juga melihat celananya mulai basah, dan perlahan-lahan bau pesing mulai tercium.
"Manager Khan, apa kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan Rexy sangat bodoh. Jelas-jelas pria ini tidak sedang baik-baik saja.
"Tuan.. muda..tadi, suara..suara apa tadi?"
"Bukan apa-apa. Itu hanya suara dari bocah-bocah nakal yang meninggal."
"Jadi, jadi..."
"Ya," Rexy mengerti pikiran Manager Khan.
"Seperti yang telah bos Harry katakan, disini memang banyak makhluk ghaib yang menggangu. Tapi tidak perlu khawatir, semuanya sudah menghilang."
Tujuan Rexy berkata seperti itu adalah untuk merendahkan ketakutan Manager Khan. Tapi setelah mendengar apa yang Rexy katakan, wajah manager Khan menjadi semakin pucat dan ketakutan.
Karena manager Khan adalah seorang pria yang sangat takut akan hal-hal tersebut.
Rexy sudah berjalan kearah gudang yang satu ruangan dengan dapur.
Tapi ketika dia menunggu Manager Khan untuk membuka gudang, Rexy melihat bahwa Manager Khan masih belum bergerak dari tempatnya.
"Itu... Tuan muda.... bisakah saya menunggu disini?" Masih dengan ketakutan yang jelas, manager Khan berkata hampir seperti memohon.
Untuk kali ini, Rexy akhirat tahu jika Manager Khan ini tidak berani masuk kedalam.
Jadi Rexy mengangguk dan berkata, "Oke! Berikan kuncinya, kamu tunggu saja di luar."
Mendengar itu, Manager Khan buru-buru memberikan kunci gudang penyimpanan kepada Rexy, dan segera berlari menjauh. Bukan hanya berlari menjauh, Manager Khan bahkan keluar dari dapur dan menunggu di luar.
Mengingat fenomena barusan, manager Khan berpikir bahwa akan lebih aman di luar dapur daripada di dalam sana.
Pilihannya tepat!
Karena setelah beberapa saat, Manager Khan mendengar suara teriakan aneh dan lolongan mengerikan dari dalam sana.
"Suara itu pasti dari gudang penyimpanan."
Tak berapa lama setelahnya, Manager Khan mendengar teriakkan Rexy, dan suara ledakan yang lebih keras dari sebelumnya.
Setelah itu, ruangan kembali sunyi, dan hanya langkah kaki yang terdengar.
__ADS_1
Dari suara yang semakin mendekat, Manager Khan merasa itu sedang menuju kearah pintu keluar.
Tepat ketika suara itu semakin dekat, tubuh Manager Khan kembali tegang.
Bagaimana jika itu bukan Rexy yang keluar? Bagaimana jika monster di sana yang menang dan keluar untuk melampiaskan amarahnya, dan memakan dirinya?
"Kreek.."
Saat suara pintu terbuka terdengar, Manager Khan sudah semakin ketakutan dan tidak berani membuka matanya.
"Sentuh."
"Setan, Iblis, hantu, penunggu yang Budiman, apapun itu. Tolong lepaskan yang tua ini. Jangan memakan tubuh kerempeng ini!"
Merasakan sentuhan di pundaknya, Manager Khan segera berkata dengan cepat, dan memohon dengan tubuh gemetar hebat.
"Apa yang kamu lakukan?"
Tapi, saat mendengar suara manusia dan bukan suara aneh, Manager Khan dengan takut membuka matanya perlahan, dan akhirnya bisa bernafas lega.
"Tuan Muda, Anda sungguh menakut-nakuti saya, dan membuat jantung pria tua ini hampir copot."
"Bukan hanya kamu. Jantungku saja juga hampir copot saat melihat makhluk aneh tanpa kepala dengan kapak besar di dalam sana. Sungguh sangat mengerikan!"
"Meskipun dia tidak memiliki kepala, dia bisa melihatku dan berbicara. Selain itu, ada juga banyak belatung besar keluar dari lehernya."
"Sungguh menjijikkan. Bahkan ada beberapa organ dalamnya yang keluar dan berserakan di lantai...."
Belum selesai Rexy bercerita, Manager buru-buru menghentikannya, dan berkata, "Tuan muda, tuan muda... Bisakah kita pergi dulu?"
"Nanggung, tinggal kamar mandi dan tempat tidur karyawan yang perlu kita periksa. Sebelum makan malam tiba, kita harus cepat."
"Ya, ya! Tuan muda benar. Tapi, tiba-tiba saya merasa tidak enak badan, dan..."
"Tidak masalah! Kamu bisa menunggu di depan dulu jika takut. Lagipula, apa yang ada di tempat berikutnya terlihat lebih menyeramkan."
Mendengar persetujuan Rexy, Manager Khan tidak memperdulikan kewajibannya lagi dan segera menyerahkan semua kunci ruangan kepada Rexy, lalu berkata, "Terimakasih Tuan Muda. Terimakasih, saya akan pergi dulu."
Setelah itu, Manager Khan berlari ke ruang depan dengan cepat, dan tidak terlihat sedang sakit. Saat berlari, bahkan Rexy melihat ada senyum di wajahnya.
"Pria Tua yang penakut."
Rexy menggelengkan kepalanya, dan menuju ke tempat lainnya sendiri.
Seperti yang Rexy katakan, di kamar mandi dan tempat tidur karyawan memang memiliki hantu yang lebih mengerikan.
Jika seandainya Rexy tidak membeli Tinju Dua Dunia yang dapat menghancurkan makhluk halus, dan manusia dari Eggy, Rexy mungkin juga akan ketakutan.
Tapi karena sudah memiliki modal itu, Rexy percaya diri, dan semenakutkan apapun mereka, semuanya di berantas habis tak tersisa.
Dan ketika kembali ke depan, dan melihat ada orang tambahan di sana, Rexy akhirnya mulai ketakutan.
__ADS_1