1001 Cara Menjadi Yang Terhebat

1001 Cara Menjadi Yang Terhebat
Akhirnya Arinda ketakutan


__ADS_3

Perintah langsung dari provinsi? Berarti, mau tak mau dirinya harus melepaskan Rexy ini, kan?


Melepaskan pria berbahaya, yang telah melakukan banyak kejahatan, dan mengambil banyak keuntungan darinya?


Tidak! Aku tidak akan melepaskannya! Karena dia berani mengambil keuntungan dariku, dia harus menderita terlebih dahulu.


Dengan diamnya Arinda, tampaknya Sandoro, atasan Arinda menebak pikirannya dan mengingatkan.


"Gadis, aku tidak tahu apa yang membuatmu sangat membencinya, yang pasti, kamu harus melepaskannya. Jika tidak, bukan hanya kamu yang akan menderita, mungkin aku juga tidak akan lepas dari hukuman."


Ketika mendengar ini, akhirnya hanya bisa melepaskannya dengan perasaan tidak rela.


"Baik, Pak. Saya mengerti."


Arinda sungguh tidak bisa membayangkan, hanya karena menangkap seorang pemuda biasa tanpa identitas khusus, harus berurusan dengan pejabat tingkat provinsi.


Selain itu, resikonya juga tidak main-main.


Pemuda yang dia tangkap ini, siapa dia? Apa identitasnya?


Sambil menutup telepon, dan bertanya-tanya, Arinda  melihat kearah ruang interogasi, yang dimana Rexy sedang berada.


Namun, setelah mengingat kembali atas apa yang Rexy lakukan pada dirinya selama ini, Arinda kembali marah, dan membencinya.


"Tidak peduli siapa kamu! Karena kamu telah mengambil keuntungan dariku, sebelum keluar, pokoknya kamu harus menderita terlebih dulu."


Dengan pemikiran seperti itu, Arinda mengambil tongkat pemukul hitam di mejanya, dan berjalan kearah ruang interogasi dengan cepat.


Melihat Arinda membawa tongkat ke ruang interogasi, salah satu penjaga pintu merasa penasaran, dan bertanya, "Kapten, apa yang Anda lakukan dengan tongkat di tangan?"


"Bukan apa-apa. Tanganku hanya merasa gatal, dan ingin memukul seseorang."


Jawaban Arinda membuat dua penjaga pintu saling memandang beberapa waktu kebingungan, dan kemudian diam-diam tersenyum.


"Kapten, sebelum itu, sebaiknya kami masuk dulu untuk melumpuhkannya. Agar Kapten bisa lebih mudah memberinya pelajaran."


"Saran itu terdengar bagus." Arinda menarik sudut mulutnya, dan mengangguk.


Pintu ruang interogasi di buka, dan ketika mereka berdua melihat kedalam, seketika mereka langsung mematung di pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" Arinda tidak melihat kedalam, dan bertanya saat melihat keduanya terdiam.


"Ini..."


Keduanya saling memandang, dan tidak tahu harus menjawab apa.


Arinda mengerutkan kening, dan kembali bertanya, "Apa yang terjadi? Apakah dia sudah mati?"


"Tidak...bukan itu.. Hanya saja...dia hilang Kapten!"


"Hah, apa katamu?" Arinda terkejut, dan segera masuk kedalam.


Melihat ruangan yang telah kosong, dan hanya ada kursi, serta meja dengan borgol di atasnya, Arinda tercengang, dan ikut berdiri diam di tempat.


Mereka bertiga syok selama beberapa waktu, tapi Arinda adalah orang yang bangun lebih dulu, dan segera berjalan untuk mencari ke segala ruangan.


"Dia.. benar-benar hilang!"


Setelah memeriksa beberapa waktu, dan tidak menemukan keberadaan Rexy sama sekali, akhirnya Arinda mengakui bahwa Rexy benar-benar telah hilang.


Sementara dua penjaga pintu, mereka juga mengangguk dan menyutujui perkataan Arinda.


"Kapten! Kami benar-benar tidak tahu. Kami selama ini selalu berdiri di pintu, dan tidak mendengar apapun."


"Benar, Kapten. Jika ada sesuatu yang terjadi, pasti kami akan segera mendengarnya. Tapi, kami tidak benar-benar mendengar apapun."


Penjelasan dua bawahan itu bukannya membuat Arinda tenang, tapi malah semakin marah.


"Apakah kalian tuli? Bagaimana mungkin kalian tidak mendengar apapun? Apakah kalian berpikir dia menghilang dengan sendirinya? Apa kalian pikir dia hantu?"


Di marahi dan di tanyai seperti ini, dua pria kuat, yang terlihat gagah itu hanya bisa menundukkan kepalanya malu.


Mereka berdua adalah orang-orang yang telah terlatih, dan berpengalaman. Keributan sedikitpun, mereka pasti akan mendengarnya. Tapi barusan, mereka benar-benar tidak mendengar apapun di dalam. 


Ini benar-benar membingungkan. Seperti hantu yang tak terlihat, dan bisa menembus dinding dengan mudah.


"Kapten, kami benar-benar tidak tahu. Jika boleh kami berkata, dia memang seperti hantu, yang tidak terlihat, dan keluar dengan menembus dinding."


"Aku juga berpikir sama Kapten. Karena bagaimanapun juga, kami tidak melihat, atau mendengar apapun. Ini benar-benar seperti hantu."

__ADS_1


Baru ketika mendengar penjelasan tak masuk akal ini, Arinda sedikit berpikir, dan hampir mempercayai hal-hal seperti itu.


Namun begitu, dia masih menolak percaya dan berkata, "Kalian sangat memalukan. Sebagai seorang polisi, berpikir tentang mempercayai hantu, aku merasa malu untuk menyebut kalian sebagai polisi."


Setelah berkata, Arinda juga tidak memperdulikan rasa malu dua bawahannya lagi, dan berjalan ke ruang pengawasan.


Di ruang interogasi ada kamera yang selalu terpasang, dan untuk memastikan semuanya, ini adalah bukti yang paling nyata.


Namun, ketika melihat kamera pengawas, mata Arinda langsung terbelalak, dan segera berlari kembali ke ruang interogasi.


Tapi, setelah menemukan bahwa di dalam sana hanya ada dua bawahannya, Arinda segera berlari kembali ke ruang pengawasan.


Setelah memastikan bahwa waktu di kamera dengan dunia nyata adalah sama, Arinda tidak bisa lagi tenang, dan segera berperang dengan dingin.


Matanya melebar tidak percaya, dan keringat dingin muncul di keningnya yang indah.


Karena saat ini, di kamera, Arinda melihat Rexy masih duduk dengan tenang, dan tidak pernah bergerak dari tempatnya. Tapi di dunia nyata, dia tidak menemukan keberadaan Rexy sama sekali.


Belum selesai keterkejutan itu, Arinda tiba-tiba melihat Rexy menoleh kearahnya, dan tersenyum tipis.


Bibir Arinda terbuka, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun.


"Ha-ha-hantu!"


Sampai ketika Rexy di kamera perlahan-lahan menghilang, akhirnya Arinda bisa berteriak dengan keras, dan membuat semua orang sekali lagi melihat kearahnya.


Belajar dari dua kejadian sebelum ini, yang dimana mereka mengkhawatirkan Arinda tapi yang didapat adalah hukuman lembur dadakan, mereka semua hanya melihat Arinda yang gemetar ketakutan, dan tidak berani mengatakan apapun untuk menghibur.


Meskipun mereka tahu jika Kapten sedang mereka ketakutan, dan mungkin juga mentalnya terguncang, tidak ada satupun dari mereka yang mau menambah hukuman lagi.


Di lain tempat.


Setelah Rexy keluar dari kantor polisi, dan sedikit memberikan hukuman pada wanita nakal itu, dia berubah menjadi burung hantu, lalu terbang di langit malam menuju tempat Erlina berada.


Tempat Gerry membawa Erlina memang bukan seperti tebakan Rexy di awal.


Itu bukan pabrik atau rumah kosong, tapi sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota.


Ketika tiba di tempat ini, Rexy juga melihat kendaraan yang sedang berjalan keluar dari rumah itu. Dan saat melihat siapa yang ada didalamnya, mata Rexy segera menjadi merah.

__ADS_1


"Drian, Anandita, Gerry, ternyata kalian bertiga bersekongkol untuk melawanku. Bagus! Dengan begini, aku tidak akan lagi ragu dengan kalian."


__ADS_2