
Sampai matahari menampilkan cahaya di pagi hari, Erlina akhirnya tidak bisa mendengar teriakkan Rexy lagi di kamarnya.
Tapi, karena dia tidak bisa tidur semalaman, ada bulatan-bulatan hitam di kedua matanya.
"Ya Tuhan! Apakah Rexy menjadi gila? Bagaimana nasibku, jika pria itu menjadi gila?" Erlina mengeluh ketika bangun dari tempat tidurnya.
"Rexy, oohh Rexy. Aku berharap kamu tidak menjadi gila." Erlina hanya bisa berharap seperti itu, dan berjalan ke kamar mandi.
Tidak ada yang bisa dilakukan untuk Rexy saat ini, semua hal yang terjadi sudah terjadi. Percuma menyesali atas apa yang telah terjadi, untuk sekarang, membersihkan dirinya, dan bersiap-siap untuk bekerja adalah apa yang lebih penting.
Seandainya Rexy benar-benar menjadi gila, setidaknya dirinya masih bekerja, dan bisa menyimpan uangnya untuk masa depannya.
Sepanjang waktu, meski Erlina mencoba untuk tidak memperdulikan Rexy, tetap saja dia masih memikirkannya.
Karena, bagaimanapun juga Rexy adalah pria yang berkaitan dengan masa depannya.
Seandainya dia menjadi gila, bagaimana nasibnya? Yang lebih penting, bagaimana nasib anaknya? Bagaimana, jika suatu saat anaknya bertanya, 'Siapa ayahku'? Jawaban apa yang harus aku berikan?
Pikiran-pikiran ini mengganggu aktivitas pagi hari Erlina. Yang dimana itu akhirnya membuat dirinya tidak sabar, dan buru-buru pergi ke tempat tinggal Rexy.
"Dok..dok..dok..."
"Rexy! Rexy, buka pintunya cepat!"
Pintu terbuka, dan sesosok pria tampan muncul dihadapan Erlina.
Sebelum ini, niat awal Erlina hanyalah memarahi atau bertanya banyak hal pada Rexy. Tapi, saat melihat pria sempurna di depannya, semua pikiran di kepala Erlina langsung menghilang.
"Ka-kamu... si-siapa kamu?" Dua kata itu yang hanya bisa Erlina keluarkan dari mulutnya.
Mendengar pertanyaan ini, Rexy yang telah banyak berubah pertama sedikit bingung. Bukankah baru kemarin malam dia bertemu? Kenapa wanita ini langsung lupa pada dirinya?
Namun sesaat, Rexy tiba-tiba menyadari sesuatu, dan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya, "Aku Rexy, siapa lagi?"
__ADS_1
Entah kepolosan Rexy sudah menghilang atau tidak, postur merentangkan kedua tangannya, itu terasa sedikit menggoda Erlina. Yang dimana itu membuat jantung Erlina berdetak lebih cepat.
Apalagi saat ini, Rexy tidak menggunakan penutup apapun di tubuh bagian atasnya. Yang otomatis memperlihatkan perutnya yang atletis, dan mengkilap karena olahraga tinjunya.
"Kamu, bagaimana... kamu bisa seperti...ini...?" Karena detak jantung Erlina yang semakin cepat, dan rasa malunya, suara menjadi semakin pelan dan pelan.
"Memang kenapa? Bukankah ini bagus?" Rexy dengan bingung bertanya.
Belum sampai disitu, dia juga menunjukkan perubahan perutnya dan berkata lagi, "Lihat! Perutku yang sebelumnya seperti babi, sekarang menghilang. Digantikan oleh perut sixpack, emh tidak. Sepertinya ini bukan enam kotak, tapi delapan. Bagaimana, bagus, kan?"
"Ka-kamu, kamu mesum!"
Berniat menunjukkan kelebihannya pada orang terdekatnya, Rexy tidak sadar jika itu membuat Erlina didepannya semakin malu dan segera berteriak.
Bukan hanya melihat perubahan, atau memujinya, Erlina malah menoleh dan buru-buru berbalik untuk menghindari rasa malunya.
Sungguh disayangkan, ketika Erlina akan berbalik, Rexy mendengar misi dari Eggy, yang mengharuskan dia untuk menghentikan Erlina berlari.
Rexy memegang satu tangan Erlina, menariknya ke pelukannya, dan tersenyum.
"Ini masih pagi. Sebelum berangkat kerja, sebaiknya aku memberikan sedikit penyemangat, bukan?"
Jarak sepuluh sentimeter dari wajah Rexy, dan mencium hormon lelaki, Erlina merasa tubuhnya lemah, dan mengangguk pelan tanpa sadar.
Rexy tersenyum melihat persetujuan Erlina, dan setelah itu, pandangannya jatuh pada bibir tipis Erlina dan terhipnotis untuk menciumnya.
Ini tampaknya adalah ciuman pagi hari yang indah.
Entah itu Rexy atau Erlina, mereka merasa ciuman ini lebih lembut dan lebih nyaman daripada sebelumnya.
Bukan hanya itu, rasa nyaman ini perlahan-lahan menghilangkan keterkejutan, dan perlawanan Erlina. Jika sebelumnya dia tidak berani untuk menutup matanya, kali ini Erlina tanpa sadar menutup matanya, dan menikmati perasaan hangat yang dibawa Rexy padanya.
Bahkan, saking nyamannya, Erlina berinisiatif untuk menggerakkan lidahnya.
__ADS_1
Tapi itu Rexy, karena niat awalnya hanya untuk menyelesaikan misi, dia merasa ketakutan dengan pergerakan lidah Erlina, dan buru-buru melepaskan bibirnya.
Bahkan, setelah melepaskan pelukannya, Rexy juga mundur beberapa langkah, dan melihat Erlina di depannya dengan tidak percaya.
"Kamu, apa kamu tidak takut dengan apa yang kamu lakukan?"
Menghadapi pertanyaan ini, Erlina merasa semakin malu, dan wajahnya semakin merah. Meskipun tahu resikonya, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena, dia melakukan tadi secara tidak sadar!
Dirinya sudah malu, tapi Rexy masih mengatakan pertanyaan seperti itu. Yang membuat rasa malu serta kebingungan itu mendorongnya untuk berlari tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Tidak mendapatkan jawaban, dan hanya melihat Erlina yang melarikan diri, Rexy menggaruk rambutnya, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Wanita ini, tampaknya mereka adalah mahkluk yang aneh."
"Lupakan! Setidaknya aku mendapatkan 1000 poin di pagi hari. Hehehe, ini benar-benar sarapan pagi yang enak!" Rexy tersenyum senang memikirkan seribu poin didapat dengan mudah.
Kemudian, dia bersedih lagi. Karena sejak kemarin malam, ternyata dirinya tidak bisa tidur sama sekali. Ada yang aneh dengan tubuhnya, selain perubahan nyata dan instan ini, dia tidak mengalami lagi yang namanya lelah, atau mengantuk.
Dia sudah mencoba menutup mata, tapi percuma. Pada akhirnya, dia hanya bisa berlatih dan memikirkan kondisi tubuhnya dengan bingung.
Jika tahu seperti ini, untuk apa kembali ke kamar?
"Hidupku benar-benar sudah berubah! Aku tidak tahu, apakah aku akan menjadi alien, atau Superman?" Rexy yang tidak berdaya kembali ke kamar, dan bersiap-siap untuk menepati janji dengan Akira.
Jam 8 pagi, Rexy yang telah membersihkan diri, keluar dari kamar dan berjalan ke tempat Akira.
Sesampainya disana, ternyata Akira telah menunggunya didalam. Sedang duduk di kursi dengan memakai gaun berwarna merah elegan, dan menambah aura kedewasaannya.
Melihat Rexy tiba di pintu, dia tersenyum, dan berdiri, "Ayo pergi!"
"Tunggu! Memakai pakaian seperti itu, kemana kita akan pergi?"
__ADS_1
"Jangan banyak bertanya, waktunya sudah hampir tiba. Emh, satu hal lagi. Untuk hari ini, jangan panggil aku Tante, kamu harus memanggil namaku langsung. Misalnya Kira."
"Hah, apa maksudnya?" Rexy sudah curiga ketika melihat pakaian yang Akira kenakan, ditambah kata-katanya, kecurigaan Rexy semakin besar.