
Sampai mobil itu menghilang, semua orang akhirnya baru sadar, dan melihat Drian yang sedang malu di sana.
Saat ini, Drian yang biasanya tampak elegan, kaya dan tampan, terlihat sangat menyedihkan dan kehilangan keagungan nya. Dengan tampilan wajah yang masih ketakutan, dan celana pendeknya yang basah, dan bau amis samar-samar tercium di udara, Drian lebih mirip gelandang daripada seorang pria sukses.
Apalagi, pria ini baru saja di peras, dan kehilangan mobil seharga dua miliar.
Nasibnya benar-benar menyedihkan, bukan?
"Hahaha...!
Entah siapa yang lebih dulu tertawa, dan selanjutnya suara tawa itu semakin banyak di antara kerumunan.
Dari suara tawa itu, pasti adalah suara ejekan terhadap nasib malang Drian. Jika dimasa lalu, mungkin mereka tidak akan berani menertawakannya, tapi hari. Siapa yang tahan dengan perubahan seperti ini.
Drian sendiri, dia juga sadar dengan apa yang terjadi sebelumnya, dan merasa semakin malu.
Selain malu, Drian juga semakin marah dengan Rexy.
Pertama bertemu, dia mengambil wanita pujaannya dan kedua kalinya, dia mengambil mobil kesayangannya , pada pertemuan ketiga kalinya, mungkin semua harta yang akan dia ambil, bukan?
"Sialan kau Rexy. Awas saja kau nanti!" Dengan kebencian dan rasa malunya, Drian segera berjalan ke arah restoran dengan cepat.
Saat berjalan ke restoran, otomatis Drian melihat Gerry di sana, dan berhenti di depannya.
Semua ini karena pria ini, jika bukan karena ulahnya, bagaimana mungkin dia akan malu seperti ini.
"Kau!"
Di panggil oleh Drian, otomatis Gerry mengangguk, dan menjawab, "Ya, Tuan."
"Bam!"
Pukulan telak langsung Gerry dapatkan di muka.
"Tuan, aku.." sambil memegang tempat yang di pukul Drian, Gerry mencoba berkata.
Tapi, melihat wajah Drian yang sangat marah, dia berhenti dan tidak berani berbicara lagi.
"Kau sialan! Pergi kau dari sini! Jangan muncul lagi di hadapanku!"
__ADS_1
"Tuan, aku, aku hanya.."
"Pergi! Apa kau ingin aku menyuruh orang untuk menyeretmu pergi!"
Kata-kata dingin penuh amarah ini menghentikan setiap pembelaan yang akan Gerry katakan.
Dia merasa sedih dan marah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, dan hanya bisa berbalik pergi.
Tapi, belum sempat berjalan jauh, Drian berkata lagi, "Satu hal lagi. Kerugian yang aku alami hari, kamu harus membayarnya dengan cepat."
Mendengar ini, Gerry segera berbalik dan berlutut di bawah kaki Drian, "Tuan, tuan! Jangan terlalu kejam, itu dua miliar. Darimana aku bisa memiliki uang sebanyak itu."
"Huh," Drian mendengus, dan menendangnya, "Aku tidak peduli. Semuanya karena kamu, jika bukan karenamu, bagaimana mungkin aku akan mengalami hal ini."
"Di tambah kerugian mental, kamu harus membayar 4 miliar. Tidak lebih atau kurang. Aku tidak peduli kamu mendapatkannya dari mana. Aku hanya harus tahu, dalam seminggu, uang itu harus ada di depanku."
Wajah Gerry berubah menjadi lebih jelek!
4 miliar!
Darimana mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu Minggu? Seluruh properti yang dia miliki, dan di tambah dengan apa yang dimiliki ayahnya, semuanya tidak akan lebih dari 1 miliar.
Tapi, sebelum dia sempat tiba di depan Drian, dia di tendang lagi, dan terlempar sangat jauh.
"Gerry!"
Anandita, yang sejak awal hanya diam, kali ini berteriak saat melihat Gerry yang kembali terlempar dengan mulut mulai berdarah.
Drian masih tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Gerry, dan kembali mengancam, "Ingat. Waktumu hanya satu Minggu. Jika satu Minggu aku tidak mendapatkan uangnya, kalian berdua bersiap-siaplah mendekam di penjara."
Mendengar ini, Gerry yang baru saja bangun karena bantuan Anandita seperti di sambar petir siang hari, dan terjatuh kembali.
Bukan hanya Gerry, Anandita yang hanya dari awal hanya ingin makan juga ketakutan ketika mendengar ini.
Tapi Anandita sedikit lebih pintar, dan segera melepaskan Gerry setelah memikirkan semuanya.
"Gerry, sekarang kita putus! Mulai saat ini, kita tidak lagi memiliki ikatan apapun dan jangan pernah menghubungi aku lagi."
"Kamu! Kamu sangat kejam. Apa kamu tahu, aku melakukan semua ini adalah untukmu? Kenapa kamu meninggalkan aku disaat seperti ini?"
__ADS_1
"Semuanya untukku? Apa kau pikir aku bodoh? Sejak awal aku selalu mengikuti apa yang kamu katakan. Bahkan, ketika aku sudah memberikan kalung yang di berikan oleh Rexy kepadamu, dan aku hanya minta makanan yang layak, tapi kamu! Kamu malah menyeret hidupku kedalam masalah ini!"
"Jika aku tidak menuruti semua yang kamu katakan, aku pasti akan bahagia dengan Rexy. Tapi karena kamu, aku harus sekali lagi menanggung bencana ini. Tidak akan lagi! Aku sangat menyesal."
"Bye, jangan cari aku lagi!"
Selesai mengatakan amarah di hatinya, Anandita tidak lagi memperdulikan penampilan Gerry, dan meninggalkannya di sana begitu saja.
Sementara Gerry, penampilannya yang sudah menyedihkan, di tambah di tinggal oleh Anandita, dan masih harus melunasi kerugian Drian seorang diri, dia menjadi bodoh, dan seluruh tubuhnya jatuh ke aspal dengan pikiran kosong.
Kemudian, "Hahahaha" suara tawa seperti orang gila terdengar keluar dari mulutnya.
"Tsk..tsk..tsk...dia sangat menyedihkan!"
Kerumunan orang yang masih belum pergi, dan melihat Gerry menjadi seperti ini tidak tahan untuk tidak menggelengkan kepalanya, dan menyayangkan.
"Huh, apa yang sangat menyedihkan. Apa kamu tidak dengar barusan. Mereka berdua tampaknya mengenal pria sebelumnya."
"Ya, kalau tidak salah tadi namanya adalah Rexy, kan?"
"Tsk...tsk...tak...ada pria kaya dan tampan seperti Rexy, mereka berdua meninggalkannya begitu saja."
"Bukan hanya meninggalkan, mereka bahkan saling bekerja sama untuk memeras Rexy itu. Huh, ini adalah apa yang pantas mereka dapatkan."
"Tapi, yang paling menyedihkan adalah wanita barusan. Jika dia lebih cermat sedikit, dan tidak menuruti pria tidak berguna ini, dia pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung."
"Benar! Dia pasti sangat beruntung bersanding dengan pria seperti Rexy itu. Bukan hanya kaya, tampan, dan jago bertarung, dia tidak sombong, dan sangat baik. Seandainya aku masih muda, aku tidak akan ragu untuk melemparkan diriku ke pelukannya."
Di sebelah wanita tua yang berbicara, dan terlihat tidak cantik itu, seorang wanita yang sedikit lebih muda dan sedikit lebih cantik mencibir, "Halah, dengan wajahmu seperti ini, apa kamu pikir Rexy akan menerimamu?"
"Siapa yang tahu."
Berbagai macam kata-kata di kerumunan tidak luput dari pendengaran Gerry, dan ketika semua orang itu telah pergi, dia bangun, dan melihat ke arah mobil Rexy menghilang dengan wajah mengerikan.
"Rexy! Semuanya karena kamu! Jika bukan karena kamu, aku tidak akan seperti ini. Awas kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja."
"Hahaha..."
Selain marah dan frustasi, tampaknya mental Gerry juga mulai tidak baik.
__ADS_1