
"Halo!"
"Ya, siapa?"
"Halo Tuan, namaku Gerry, anak dari Fendy. Apakah tuan masih ingat?"
"Oh, apa?" Hanya ada suara malas di telepon,
Gerry yang mendengar suara malas di telepon tidak menyadarinya, dan hanya berpikir orang di telepon mengenalnya.
Jadi, dia masih tersenyum dan bersemangat berkata, "Itu tuan, aku sedang berada di restoran Anda. Aku ingin mengatakan, bisakah tuan memberikan sedikit keringanan? Dihitung-hitung sebagai seorang kenalan?"
"Oh, hanya itu kau meneleponku?"
"Ya, ya." Gerry mengangguk berulang, dan menambahkan, "Aku berharap Tuan bisa mengenali kawan."
"Memang apa yang kau inginkan?"
"Itu, bisakah aku meminta diskon dulu.."
"Hah, ternyata kamu mengganggu waktuku hanya ingin ngutang? Memangnya kamu siapa?"
Saat menelepon, Gerry membesarkan volumenya, dan otomatis Anandita yang ada di sebelah mendengarnya. Tepat ketika mendengar nada panggilan orang di telepon tampak tidak sabar, dia memberi pandangan curiga pada Gerry.
Gerry juga gugup, dan di tambah dengan kecurigaan Anandita, dia semakin gugup, dan memutuskan untuk berdiri, dan keluar.
Beberapa waktu berbicara di luar, Gerry kembali ke meja dengan senyum di wajahnya.
Melihatnya, Anandita berpikir bahwa semuanya berjalan lancar, dan bertanya, "Bagaimana?"
Gerry terlebih dahulu duduk di sebelah Anandita, tersenyum percaya diri, dan menjawab, "Tentu saja sukses. Meski ada beberapa kesalahpahaman, semuanya lancar."
Anandita tersenyum gembira dan berkata, "Jadi, kita bisa memesan."
"Tentu saja." Jawab Gerry sambil memanggil pelayan.
Ketika pelayan datang, dan selesai menulis pesanan Gerry, tiba-tiba ada sedikit rasa malu di wajahnya.
"Maaf tuan, pesanan yang anda minta semua sudah habis."
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah restoran ini memiliki banyak stok makanan?" Gerry terkejut, dan buru-buru bertanya.
"Itu.." wajah pelayan wanita kecil itu ragu-ragu sebelum melanjutkan.
"Stok makanan kita memang banyak. Tapi hari ini adalah hari terakhir stok habis, dan bahannya belum datang lagi. Sebenarnya masih ada stok terakhir, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi sudah di pesan."
__ADS_1
"Siapa yang memesannya? Apakah itu orang kaya, atau orang penting?"
"Orang itu." Pelayan itu menunjuk ke arah meja Rexy.
Mengetahui bahwa Rexy adalah orang yang memesan makanan terakhirnya, Gerry tersenyum lebar, dan berkata kepada pelayan, "Hanya dia? Jangan khawatir, aku kenal dia. Barusan aku juga berbicara dengan bosmu jika aku bisa memesan apapun hari ini."
"Tapi tuan--"
Sebelum pelayan itu selesai menyelesaikan kata-katanya, Gerry menghentikannya, "Kamu bawa saja makanan kesini, biar aku yang berbicara dengannya."
Ketika mendengar ini, pelayan itu baru mengangguk, dan berjalan ke dapur.
Sebagai seorang pelayan kecil, dia tidak bisa seenaknya membatalkan pesanan yang sudah di pesan. Tapi, jika sudah begini, itu bukan lagi masalahnya.
Sementara Anandita, yang mendengar pembicaraan mereka berdua sedikit bertanya-tanya, "Apa ada yang salah?"
"Tidak ada." Jawab Gerry tenang dan berdiri.
"Kamu tunggu disini, makanannya akan segera tiba. Aku akan mengurus sedikit masalah."
Dengan keyakinan, Gerry berjalan kearah meja Rexy, duduk di depannya, dan dengan tenang berkata, "Kawan, sepertinya kamu harus pulang lebih awal. Karena pesanan yang kamu minta sudah habis."
Sejak awal, Rexy telah mendengar apa yang Gerry katakan di sebelahnya, dia juga tahu apa yang akan terjadi, dan tidak terlalu terkejut dengan kata-katanya.
Rexy dengan tenang, dan samar-samar berkata kepada Gerry, "Apakah kamu seorang pelayan?"
"Hei!" Senyum Gerry sedikit mengendur, tapi dia masih memiliki kepercayaan dalam dirinya.
Rexy mengangguk dan memberi "oh" pelan. Tapi dia tidak menjawab dan tidak bergerak dari tempatnya.
Dan karena Erlina yang mendengar pembicaraan mereka sedikit tidak nyaman, Rexy tidak lagi memperhatikan Gerry dan tersenyum kearah Erlina.
"Lina sayang, ayo makan lagi."
Sambil berkata, Rexy menyodorkan sendok kearah Erlina untuk menyuapinya, dan benar-benar mengabaikan keberadaan Gerry.
Erlina sendiri juga tersenyum dan membuka bibirnya.
"Enak?" Tanya Rexy lembut.
"Tentu." Jawab Erlina sambil tersenyum lembut.
Di sisi lain, Gerry yang melihat dua orang ini bersikap mesra, dan mengabaikan dirinya mulai marah, dan senyum di wajahnya perlahan-lahan menghilang.
"Kalian, apakah kalian tidak mendengar apa yang aku bilang!?"
Rexy dan Erlina tentu mendengarnya, tetapi Rexy masih tidak memperdulikannya. Bahkan, ketika Erlina ingin melihat kearah Gerry, Rexy segera menghentikan, dan sekali lagi menyuapinya.
"Jika memang enak, kamu harus makan yang banyak. Ayo, buka mulutmu."
__ADS_1
"Um." Erlina malu-malu tapi masih membuka mulut, dan memakan apa yang Rexy berikan.
Di abaikan seperti ini, Gerry benar-benar marah, dan berdiri.
"Brak." Ada suara meja di dobrak dengan keras.
Suara ini mengganggu Rexy dan Erlina, yang mau tak mau harus melihatnya.
Tapi, selain pandangan samar-samar pada Gerry, tidak ada lagi perhatian khusus yang Rexy berikan padanya.
"Ada apa?" Tanya Rexy lemah dan tidak peduli.
"Kau!" Wajah Gerry merah, dan sangat marah.
Ada orang lain di sebelahnya, dan dia masih mengabaikannya dan terus bermesraan dengan wanitanya.
"Bagus, bagus! Kamu membuatku sangat marah!"
"Ya, lalu kenapa?"
Gerry tidak menjawab, dan berjalan pergi ke arah restoran, dimana itu pasti memiliki orang yang penting di restoran ini.
Rexy tahu apa yang dipikirkan oleh Gerry, tapi dia tidak peduli. Dan saat pelayan membawa makanan ke meja Gerry sebelumnya, Rexy berkata, "Pelayan, bukankah aku yang memesan lebih awal? Kenapa kamu memberikannya kesana?"
Dipanggil seperti ini, pelayan itu ragu-ragu.
"Tuan, bukankah tadi pria di meja ini sudah berbicara pada Anda untuk menyerahkan makanannya di meja ini?"
Rexy menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Dia memang berbicara seperti itu, tapi aku menolaknya."
"Tapi.."
Untuk yang kesekian kalinya, pelayan malang itu ragu-ragu, dan bertanya-tanya, apakah dua pelanggan ini sedang mempermainkannya?
Anandita yang mendengar pembicaraan keduanya juga ragu-ragu dan berkata kepada Rexy, "Teman ini, bukankah pacarku barusan memintamu untuk menyerahkan makanannya kepadaku?"
Rexy melihat kearah Anandita, wanita yang dulu membuatnya gila, dan bodoh dengan pandangan nostalgia beberapa waktu.
Tapi itu hanya sejenak, dan selanjutnya memberikan pandangan menghina, dan dengan acuh tak acuh menjawab, "Siapa pacarmu? Apa aku mengenalnya? Kenapa aku harus menyerahkannya padamu?"
Anandita terdiam, mulutnya sedikit terbuka, tapi dia tidak bisa menjawab.
Karena pada kenyataannya, dirinya memang tidak lagi mengenali Rexy yang sekarang. Dia juga tidak berhak untuk menyuruhnya menyerahkan makanan.
Melihat penampilan Anandita yang tidak berdaya, Rexy tersenyum dalam hatinya.
Bukankah kalian dulu sangat sombong? Apa sekarang? Aku lebih kaya dan berkuasa dari kalian.
"Tak tahu diri!" Kata-kata dingin dan acuh tak acuh keluar dari mulut Rexy.
__ADS_1
Setelah itu, dia tidak lagi memperhatikan penampilan Anandita, dan kembali melihat kearah pelayan yang masih kebingungan.
"Bawa kemari itu! Jangan takut, aku akan mengurus semuanya."