
Erlina menepis tangan Rexy dengan keras, mendengus, dan pergi.
Rexy yang menyadari jika ada yang salah segera menarik lengannya lagi. Tidak hanya sekedar menarik, Rexy juga membawa tubuh Erlina kedalam pelukannya.
Tidak menunggu Erlina bereaksi, Rexy buru-buru mencium bibirnya lagi.
"Aaahhh..!"
"Romantisnya!"
"Betapa beruntungnya wanita itu."
"Kakak, aku juga ingin di cium!"
Ada sorak sorai dan kecemburuan dari beberapa wanita saat melihat Rexy mencium Erlina untuk yang kedua kalinya.
Namun, Rexy tampak tidak mendengarnya dan dengan lembut membelai setiap bagian-bagian bibir Erlina. Mencoba menenangkan Erlina yang sedang marah.
Tampaknya itu berefek, karena Rexy merasa bahwa tubuh Erlina melunak, dan tidak lagi menolaknya.
Mengetahui ini, Rexy memeluk tubuh Erlina lebih erat, dan semakin bersemangat.
Dalam keadaan ramai orang lalu lalang, dua orang berdiri di tengah jalan, saling berciuman tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar, adegan ini benar-benar luar biasa.
Puluhan tatapan mata yang melihat dua insan saling menikmati, mereka tidak tahu harus marah atau iri.
Itu mungkin beberapa wanita yang masih berharap untuk dipilih oleh Rexy yang merasa iri, dan membayangkan bahwa wanita itu adalah dirinya sendiri.
Lihatlah Erlina dan Rexy yang saling menutup mata, dan menikmati perasaan seolah-olah ini adalah dunianya sendiri. Betapa romantisme yang membuat siapapun merasa iri.
Dua menit kemudian, Rexy melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Erlina dengan senyum tipis di bibirnya.
Senyum itu hanya senyum tipis biasa, tapi Erlina yang melihat wajah Rexy tersenyum merasa malu, dan tidak berani melihatnya.
Hanya saja, saat melihat banyak orang yang mengawasi mereka, Erlina semakin malu dan menundukkan kepalanya. Tidak berani melihat siapapun.
Menyadari rasa malu Erlina, Rexy menarik tubuhnya lebih dekat untuk menghalangi rasa malu Erlina dan membawanya kembali ke tempat awal.
Kemudian datang ke Adel, teman Erlina, Rexy berkata, "Aku ingin membeli 2 handphone yang kekinian dan paling mahal."
"Oh," Adel masih terlena dengan apa yang terjadi, dan tidak segera bereaksi.
Melihat Adel yang masih linglung, Rexy bertanya lagi, "Apa tidak ada?"
"Eh, ada tunggu sebentar."
__ADS_1
Adel baru tersadar dan buru-buru berlari untuk mengambil dua handphone di etalase.
Pada tahun 2010, merek handphone yang paling terkenal adalah BlackBerry, tapi ada satu lagi merek yang paling mahal, dan hanya beberapa orang yang bisa membelinya.
Itu adalah Apple.
Handphone yang paling mahal dan sedikit orang yang bisa membeli.
"Kakak, ini adalah handphone paling mahal dengan fitur lengkap. Harga awalnya adalah 10 juta. Membeli dua, berarti 20 juta." Adel berbicara sambil menunjukkan dua handphone kepada Rexy.
Rexy melihatnya sejenak, kemudian menoleh ke arah Erlina yang masih menunduk dan bertanya, "Bagaimana, apa menurutmu ini bagus?"
Mungkin Erlina masih malu-malu dan hanya mengangguk pelan, entah menyetujuinya apa tidak.
Tapi Rexy melihatnya merasa Erlina menyukainya, dan segera berkata kepada Adel, "Bungkus keduanya. Dua puluh juta, ambil dari sini."
Adel tidak segera mengambil rekening Rexy, dia melihat Rexy di depannya dengan sedikit membuka matanya, dan melihat ke arah Erlina dengan iri.
Membeli dua handphone mahal, apakah dia bermaksud untuk membelikan Erlina juga?
10 juta, itu adalah uang yang sangat banyak. Bekerja di toko selama 3 bulan, belum tentu dia bisa membelinya.
"Menjadi pacar orang kaya dan tampan serta romantis seperti kakak Rexy, Erlina, kamu sangat beruntung."
Itu Erlina, mendengar apa yang dikatakan oleh Adel, dia mengangkat kepalanya dan berkata, "Aku bukan pacarnya. Dia...dia hanya teman."
"Benarkah?"
Erlina mengangguk.
Anggukan Erlina membuat Adel bersemangat, dan menoleh ke arah Rexy, "Kakak, bolehkah aku minta nomer telepon? Itu, untuk mengenal lebih dekat.."
Rexy menyeringai, dan mengangguk, "Oke, tidak masalah."
Senyum Adel semakin lebar. Lalu mengambil rekening Rexy, dan segera membungkus dua handphone itu. Tidak lupa juga menambahkan nomor teleponnya sendiri di handphone Rexy.
Setelah semuanya selesai, Adel tersenyum pada Rexy, dan berkata, "Kakak, aku selalu menunggu telepon darimu."
Rexy juga tersenyum dan menjawab, "Tentu, jika ada waktu luang, aku akan mengajakmu makan malam."
Adel tampak sangat senang, dan tersenyum penuh makna kepada Rexy. Rexy sendiri juga melakukan hal yang sama, dan saling memandang dengan penuh arti.
Sementara Erlina, yang melihat keduanya memadu kasih lewat tatap muka mendengus, dan segera pergi.
Adel tersenyum saat melihat Erlina seperti ini.
__ADS_1
Rexy juga tersenyum, dan berjalan mengikuti di belakangnya.
Mungkin karena perasaan Erlina sedang marah, atau cemburu, dia tidak lagi memiliki keinginan untuk terus bekerja, dan berjalan keluar mall.
Rexy menyadari jika Erlina sedang cemburu, dan tidak tahan untuk menggodanya, "Cemburu?"
"Huh, siapa yang cemburu! Aku hanya sedang tidak enak badan!"
"Hehe," Rexy tersenyum, dan tahu jika itu hanya alasan belaka.
Jadi, untuk menyenangkan hati Erlina, Rexy menarik tangannya, dan berkata, "Ayo ikut aku!"
"Huh, aku ingin pulang! Lepaskan!"
Rexy tidak memperdulikan ekspresi Akira, dan terus menariknya.
Ada sebuah restoran di dekat tempat mereka sekarang. Restoran itu juga cukup terkenal, dan dikatakan makanan disana juga sangat enak. Berhubung ini sudah siang, dan pas waktunya untuk makan siang, Rexy mengajak Erlina ke tempat itu.
Karena restoran ini sangat terkenal, dan makanannya juga terkenal di seluruh kota, otomatis harga makanan disini sangat mahal.
Dimasa lalu, karena Rexy adalah pria tak berguna, dan miskin, dia tidak berani untuk mengunjungi tempat ini. Sekarang, karena dia telah memiliki banyak uang, keinginan dimasa lalu itu terwujud dengan mudah. Bukan hanya itu, Rexy sekarang juga di temani oleh seorang wanita cantik.
Makan di restoran mewah dengan seorang wanita cantik, salah satu impian Rexy akhirnya terwujudkan.
Namun Erlina, yang juga mengetahui restoran ini sedikit tidak nyaman. Apalagi jumlah makanan yang Rexy pesan sangat banyak, pasti itu tidak akan mahal.
"Ini, apakah kita harus memesan sebanyak ini?" Melihat banyaknya makanan mahal di meja, Erlina ragu-ragu dan bertanya kepada Rexy.
Rexy tersenyum lembut, dan menjawab, "Ada apa? Bukankah bagus memiliki banyak makanan enak?"
"Tapi, ini semua pasti sangat mahal?"
"Terus?"
"Aku tidak bisa membayar semuanya?"
Mendengar ini Rexy berhenti sejenak, dan tak lama kemudian terkekeh.
"Apa yang kamu pikirkan. Siapa yang menyuruhmu untuk membayar? Bukankah ada suamimu disini? Apa kamu berpikir aku tidak memiliki uang?"
"Tapi, tapi ini pasti sangat mahal! Tunggu! Suami---"
Rexy menggelengkan kepalanya sambil mengambil makanan di meja ke piring Erlina, dan dengan lembut berkata, "Jangan terlalu banyak berpikir. Ada aku disini, aku sekarang memiliki banyak uang. Berapa jumlah makanan disini? Apakah itu akan lebih mahal daripada handphone yang aku berikan?"
Erlina menoleh kearah Rexy, melihat senyum lembut di wajahnya, memikirkannya sejenak, dan tak lama ikut tersenyum.
__ADS_1