
"Aku ingin melaporkan tentang penculikan."
Meskipun merasa aneh, Rexy tidak peduli, dan dengan cepat mengatakan maksudnya.
"Aku sudah tahu. Terus?" Jawaban Arinda masih tetap dingin, dan acuh tak acuh.
"Karena sudah tahu, kenapa kamu masih disini? Kenapa kalian tidak bergegas menangkapnya?"
Arinda mencibir, dan melihat kearah Rexy dengan bodoh.
"Apa kau pikir kami adalah Dewa? Kami tidak tahu dimana penculik itu berada, kemana kami akan mencarinya? Di kolong jembatan?"
"Bisa jadi." Rexy tidak tidak tahu arti kata Arinda, dan mengangguk setuju.
Jawaban Rexy membuat tiga orang disana segera mengerutkan kening, dan menatap Rexy dengan bodoh.
Di kolong jembatan? Memang di kolong jembatan mana? Apakah kami harus mencari di setiap kolom jembatan yang ada di kota?
Itu adalah pikiran semua orang, tapi tidak akan ada yang mengatakannya.
Sementara Rexy sedikit merenung dan melanjutkan, "Kalau tidak di kolom jembatan, bisa juga itu di pabrik terbengkalai atau rumah kosong."
Memikirkan itu, mata Rexy cerah, dan segera melihat kearah Arinda berkata, "Ya, ada pabrik kosong tidak jauh dari kantor polisi, kenapa kalian tidak segera kesana?"
Ada rasa jijik, dan penghinaan di mata Arinda. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan bangkit, lalu pergi keluar.
Namun, sebelum Arinda keluar, dia berbalik, dan berkata kepada Rexy, "Kamu sangat bodoh dan tidak berguna. Bersiap-siaplah mendekam di penjara!"
"Hah, apa katamu?"
"Apa! Tentu saja kamu bodoh. Aku kita kamu akan memberikan informasi yang berguna, tidak tahunya kamu hanya orang bodoh yang tidak berguna."
"Apa kau pikir kami akan segera bergegas menuju tempat yang kamu katakan begitu saja tanpa penyelidikan? Bodoh!"
"Hei, Arinda, apa maksud dari perkataanmu?"
"Bukankah sudah jelas? Kami akan menyelidikinya dulu dengan cermat sebelum bertindak."
"Lalu, kenapa kamu bisa langsung bertindak saat menangkapku?"
"Itulah kebodohanmu!" Jawab Arinda dengan nada menghina.
"Sudah jelas-jelas kamu melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum, tapi kamu masih bertindak biasa, dan berkeliaran di kota."
"Itu memudahkan kami untuk menyelidiki dan menangkapmu!"
"Apa bedanya? Bukankah aku juga sudah bilang dia di tempat seperti--"
__ADS_1
"Berhenti!" Arinda memotong kata-kata Rexy dengan dingin.
"Apa kau pikir kami polisi membutuhkan bantuanmu? Apa kau pikir kami sungguh tidak berguna? Semua hal, kita harus menyelidiki dan membicarakannya dengan benar. Kami polisi, bukan preman!"
"Kami tidak akan bertindak sebelum menentukan kebenarannya? Bisa saja berita yang temanmu berikan adalah palsu."
"Bisa juga itu hanya trik agar kami memberikan kelonggaran pada dirimu?"
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan."
Selesai mengatakan kata demi kata kepada Rexy, Arinda tidak memperdulikan ekspresi Rexy dan segera menutup pintu.
Sementara Rexy, dia sangat terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang Arinda katakan.
Semua yang katakan itu adalah kebenaran, tapi kenapa itu bisa di katakan sebagai rencana pelarian? Apakah dia sangat membencinya? Karena kejadian tadi pagi?
Kemudian Rexy menyadari bahwa Arinda sudah pergi, dan buru-buru berlari ke pintu.
"Hei, Arinda! Aku tahu siapa yang menculiknya!"
Teriakkan Rexy sangat keras, dan Arinda yang belum jauh mendengarnya, dan berbalik.
Tapi Arinda tidak membuka pintu, dan hanya melihat melalui lubang kecil di pintu, lalu berkata, "Katakan!"
"Gerry, dia adalah Gerry. Dia adalah orang yang dulu sangat dekat denganku. Ada kemungkinan dia-lah yang menculik!"
Rexy segera mengangguk beberapa kali, dan menjawab, "Yakin, aku sangat yakin! Dialah orangnya."
"Ooh..oke!" Satu kata selesai, Arinda berencana berbalik lagi.
Melihat ini, Rexy buru-buru bertanya lagi, "Arinda, apa kamu akan menangkapnya sekarang?"
"Bukankah aku sudah bilang. Kami harus memeriksa semuanya secara teliti."
"Jika apa kamu yang katakan memang benar, paling tidak di butuhkan waktu dua hari untuk memverifikasi dan melakukan tindak lanjut."
"Apa? Dua hari? Arinda, apa kamu tahu, apa yang akan terjadi selama dua hari? Bagaimana jika mereka melakukan apapun pada korbannya?"
"Lalu apa? Apa kami harus pergi sekarang?"
"Bukankah cara kerja polisi memang seperti itu?" Rexy mengangguk.
Arinda benar-benar tidak mengerti dengan kebodohan Rexy.
"Dengar! Meskipun apa yang kamu katakan memang benar, kami harus melakukan persiapan dan banyak proses untuk mencegah resiko jatuhnya korban--"
Arinda berencana membicarakan hal-hal rahasia kepada Rexy, tapi dua orang yang memegang senjata laras panjang sebelumnya segera menghentikan, dan menatapnya.
__ADS_1
Di hentikan dan di tatap oleh kedua anak buahnya, Arinda segera menyentuh keningnya, memijatnya dengan keras, dan meringis.
"Ooohh... Ada apa dengan hariku hari ini. Kenapa aku harus berbicara dengan pria bodoh dan menjijikkan sepertinya"
"Ooh tuhan, kepalaku serasa mau pecah!"
Rexy tidak tahu apa yang terjadi di luar, dia hanya tahu jika Arinda tiba-tiba berhenti berbicara, lalu seperti frustasi, dan bergumam sendiri.
Setelah itu menutup lubang di pintu, dan berjalan menjauh.
Rexy merasa gugup, dan segera menggedor pintu, berteriak, "Hei, Arinda... tunggu! Kamu mau kemana? Aku masih ingin berbicara..."
Sayangnya, meskipun Rexy berteriak, dan menggedor pintu baja itu dengan keras, Arinda tidak pernah kembali lagi.
Berkali-kali berusaha dan akhirnya gagal, Rexy akhirnya menyerah, dan kembali duduk di bangku yang ada di ruangan.
Setelah memenangkan dirinya beberapa waktu, Rexy tersadar, bukankah dirinya masih memiliki Eggy.
Rexy tersenyum dan segera bertanya, "Eggy, apa kamu bisa membantuku keluar dari sini?"
"Tidak!"
Mendengar jawaban langsung tanpa emosi ini, senyum Rexy seketika membeku. Tapi Rexy memikirkan lagi, dan kembali tersenyum.
"Dewi tercantik di alam semesta, Dewi yang tiada banding, dan paling cantik serta kuat, dan paling mempesona, bisakah kamu membantuku?"
"Tidak," jawaban Eggy masih sama.
Akan tetapi, sebelum Rexy ingin marah, Eggy melanjutkan, "Dewi ini bisa membantumu, tapi Dewi ini terlalu malas untuk melakukannya. Tapi aku memiliki penawaran yang bagus untukmu."
Rexy tidak jadi marah, dan dengan tersenyum bertanya, "Apa itu, Dewi? Apakah itu keterampilan menghilang?"
"Itu juga bisa. Tapi ini lebih baik. Itu adalah Teknik Seribu Transformasi, teknik yang bisa membuatmu berubah bentuk menjadi apapun. Entah itu lalat, cacing ataupun nyamuk."
"Jika kamu menginginkannya, harganya satu juta poin, di tambah dengan teknik menghilang, menjadi dua juta poin."
"Di ambil poin yang kamu miliki, poinmu sekarang tersisa 75 ribu."
Sambil berkata, Rexy melihat jumlah poin di panel miliknya telah berkurang 2 juta poin.
Setelah itu, dua bola cahaya keluar dari telur Eggy, dan terbang ke arah kepalanya.
Sama seperti sebelumnya, Rexy hanya perlu memikirkannya, dan teknik menghilang, serta perubahan bentuk apapun dapat Rexy lakukan.
"Nah, apa lagi? Apa kamu ingin membeli sesuatu lagi dari sang Dewi?"
Rexy mengangguk, dan berkata, "Apa ada alat untuk melacak Erlina?"
__ADS_1