
"Saksi sudah berkata dengan jelas, dan kamu masih ingin membantahnya? Siapa kau? Apakah menurutmu restoran ini milik kakekmu?"
"Jangan kau pikir karena kamu orang kaya, kamu bisa melakukan seenaknya?"
"Restauran ini adalah restoran yang mengutamakan pelanggan. Sekaya apapun kamu, jika kamu membuat masalah, pasti pihak restoran tidak akan membiarkannya begitu saja?"
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Gerry tidak memberikan waktu Rexy untuk berbicara, dan terus menyudutkannya.
Sayangnya, Rexy tidak pernah memperdulikannya, dia masih dengan tenang dan tersenyum melihat manager restoran, dan pelayan kecil itu. Yang kini terlihat sedikit menyesal.
Rexy sedikit kasihan pada pelayan malang ini dan berkata, "Gadis, siapa namamu?"
Mendengar pertanyaan Rexy, pelayan kecil itu mengangkat kepalanya, tergagap, dan menjawab, "Di-dita! Namaku Dita."
Rexy mengangguk, dan kembali bertanya, "Disini, berapa gajimu sebulan?"
"Hei, apa kau bisu dan buta? Aku sedang berbicara denganmu, dan menyelesaikan masalah. Apa yang kau lakukan bertanya seperti itu pada seorang pelayan? Apa kau ingin membeli kesaksiannya?" Gerry yang mendengar pembicaraan Rexy maju lagi, dan bertanya kepada Rexy dengan tuduhannya.
Meski mendengar pertanyaan Gerry, Rexy masih tidak melihatnya, dan menggaruk telinganya.
Kemudian menoleh kearah manager restoran, dan bertanya, "Manager, apakah restoranmu steril? Kenapa aku mendengar suara lalat berdengung di telingaku?"
"Kamu.." Gerry yang mendengar arti pertanyaan Rexy merasa marah, dan ingin berkata lagi.
Tapi manager restoran menghentikannya, dan menjawab Rexy, "Tuan, saya masih baik-baik bertanya kepada Anda dan menyelesaikan masalah secara baik-baik. Tapi jika Anda tidak ingin menyelesaikannya dengan baik-baik, saya tidak akan segan-segan memanggil keamanan."
Berbicara ini, manager wanita itu tidak lagi tersenyum ramah, dan hanya ada ancaman didalam kata-katanya.
Melihat manager wanita dan Gerry yang terlihat sedang marah, Rexy masih tersenyum dengan tenang dan kembali melihat pelayan kecil itu, "Dita, pertanyaannya masih sama. Berapa gajimu selama sebulan?"
"Hei..." Gerry ingin kembali marah saat Rexy masih tidak memperdulikan pertanyaannya, tapi manager wanita di sebelah menghentikannya lagi.
Manager wanita itu tahu apa yang terjadi saat ini, dan dia sedikit penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Rexy.
Di lain sisi, pelayan kecil itu terlihat ragu-ragu dan ketakutan saat melihat situasinya. Dan saat mendengar pertanyaan Rexy, dia melihat kearah manager wanita untuk bertanya, apakah boleh menjawabnya.
__ADS_1
Manager melihat tatapan Dita, tapi dia tidak merespon atau menyuruhnya menjawab.
Merasa bahwa tidak mungkin pelayan itu menjawab, Rexy menoleh kearah manager, dan menunggu jawabannya.
Melihat bahwa Rexy bertanya kepada dirinya, manager itu tersenyum, dan berkata, "10 juta. Gaji seorang pelayan di restoran kami adalah 10 sebulan?"
"Apa?" Erlina, dan Anandita, yang selama ini diam terkejut dengan jawaban manager wanita itu.
10 juta bagi seorang pelayan, apakah itu tidak terlalu mahal? Gaji segitu, bukankah itu berkali-kali lipat dari gaji PNS?
Manager wanita itu sudah menebak respon seperti ini, dan menjelaskan kepada Erlina, "Nona, ini adalah restoran mewah dan sangat terkenal. Keuntungan kita selama sebulan, itu tidak kurang dari 500 juta. Dengan keuntungan segitu, bukankah hal yang lumrah untuk membayar gaji karyawan 10 juta sebulan?"
Erlina tidak menjawab, tapi dari ekspresi pelayan yang juga terkejut dengan penjelasan manager, Erlina sudah menebak dalam hatinya.
Itu hanyalah omong kosong, dan terlalu melebih-lebihkan untuk menghina Rexy.
Sementara Rexy sendiri, setelah mendengar penjelasan manager hanya memberi "oh" panjang dan mengangguk.
Lalu kembali menoleh kearah pelayan, dan berkata, "100 juta! Aku akan memberikanmu uang seratus juta sekarang, tapi kamu harus menjawab pertanyaanku dengan jujur. Siapa yang memesan makanan lebih dulu."
Jangankan Dita yang seorang pelayan kecil, bahkan Yunita yang seorang manager juga terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Rexy katakan.
100 juta, uang seperti apa itu? Dengan uang sebanyak itu, siapapun pasti akan merasa gila. Itu seperti orang malang yang tiba-tiba menemukan harta karun di pinggir jalan.
Jika itu diberikan kepada Dita, dia tidak perlu lagi bekerja selama sepuluh tahun, dan bisa hidup dengan baik.
Tapi, setelah kejutan awal, Dita tampak ragu-ragu dan tidak langsung berbicara.
Bagaimanapun, Dita tidak yakin jika Rexy bisa memberikannya uang sebanyak itu. Bagaimana jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, dan akhirnya Rexy hanya berbohong?
Bukan hanya akan kehilangan uang seratus juta, Dita bahkan harus menanggung konsekuensi kehilangan pekerjaan satu-satunya saat ini.
Rexy menyadari kekhawatiran Dita, dan berkata lagi sambil memberikan kartu rekeningnya, "Jangan khawatir! Jika kamu takut aku berbohong, kamu bisa mengeceknya sendiri."
Dita ragu-ragu sejenak, dan setelah mendapat persetujuan dari manager, dia segera mengambil kartu rekening Rexy, dan memeriksanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia kembali dengan kejutan besar di wajahnya.
Melihat wajah pelayan yang terkejut, Rexy tahu apa yang membuatnya tidak percaya.
Tapi sebelum dia sempat berbicara, manager yang melihat kejutan besar di wajah Dita bertanya lebih dulu, "Berapa saldonya?"
Dengan bibir yang gemetar, dan tergagap, Dita menjawab, "Sa-satu...juta..."
"Hahahha...." Gerry, dan Anandita, yang mendengar jawaban pelayan itu langsung tertawa di tempat.
Bukan hanya mereka berdua, bahkan Yunita juga ikut tertawa, dan melihat kearah Rexy dengan menghina.
Awalnya Yunita penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rexy, dan ketika melihat sampai saat ini, dia tidak bisa memberikan pandangan menghina pada Rexy.
Keramahan di awal segera menghilang, dan di gantikan oleh senyum jijik, "Hanya dengan saldo satu juta, kamu ingin membayarnya seratus juta untuk jujur? Apakah kamu tidak sedang bercanda?"
Erlina yang ada di sebelah Rexy juga merasa gugup. Mengingat dua puluh juta yang di ambil untuk membayar dua handphone sebelumnya, pasti uang Rexy sudah terkuras habis.
Jadi, mau tak mau Erlina merasa gugup, dan kembali menarik lengan Rexy, berharap agar semuanya cepat di selesaikan untuk tidak terus membuat malu.
Dengan penghinaan dan ejekan semua orang di sekitarnya, Rexy masih tetap tenang dan kembali menenangkan Erlina.
Lalu menoleh kearah Dita lagi sambil tersenyum, dan berkata, "Bagaimana, apakah kamu akan jujur?"
"Hahaha...dia gila! Dia pasti sudah gila! Dengan uang satu juta, dia ingin membayar kejujuran saksi!"
"Hahaha..."
Rexy masih melihat Dita dengan tersenyum, dan tidak pernah memperdulikan ejekan di sekitarnya.
"Bagaimana?" Tanya Rexy sekali lagi.
Kali ini pelayan kecil itu memberikan tatapan tegas, mengikuti ketidakpedulian Rexy terhadap hal-hal disekitarnya, dan mengangguk, "Ya, Tuan. Aku akan jujur, orang yang lebih dulu memesan makanan adalah Anda, dan dia menyuruhku untuk berbohong."
Karena semuanya sudah jelas, dan sudah di ketahui bahwa Rexy hanya memiliki uang satu juta, manager wanita itu tidak lagi menyembunyikannya, dan berkata kepada Rexy, "Aku memang memintanya untuk berbohong. Lalu apa?"
__ADS_1