
Ketika mendengar ancaman serius ini, dengan perasaan tak rela Rexy harus melepaskan kaki indah polisi wanita itu.
Tapi Rexy masih tidak lupa untuk berkata, "Nona, sebaiknya kamu jangan marah-marah, tidak baik untuk kesehatan."
"Diam!" Kata polisi wanita itu dingin sambil mengambil borgol, dan melemparkannya kepada Rexy.
"Pakai sendiri!"
Rexy terdiam sejenak dan berkata, "Nona, kenapa bukan kamu saja yang memasangnya?"
Wanita polisi itu memberikan pandangan jijik, dan berkata dengan jijik, "Kamu menjijikkan, aku tidak ingin menyentuh pria menjijikkan sepertimu! Cepat pasang sendirian!"
Rexy tidak segera memakainya, tapi terlebih dahulu melihat dada polisi wanita itu dan tersenyum.
"Kamu! Apakah yang kamu lihat! Cepat kenakan borgol itu!"
Pria ini benar-benar menjijikan!
Sudah melakukan banyak kesalahan, dia masih berani menatap dadanya?
Awas kamu! Jika sudah di kantor polisi, kamu pasti tidak akan pernah menjadi baik.
Rexy tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita polisi itu, dan berkata, "Nona Arinda, jangan terlalu galak.."
"Sialan!"
Polisi wanita yang memiliki nama Arinda di dadanya itu mulai tidak sabar dan berteriak.
Lalu dengan marah bergegas maju dan mencoba memukul kepala Rexy.
Tapi, Rexy bukanlah pria biasa, dan tidak ingin di pukul oleh seseorang. Bahkan jika itu adalah seorang wanita cantik.
Jadi Rexy sedikit menggeser tubuhnya kesamping, dan dengan mudah menghindari pukulan Arinda.
Saat Rexy menghindar, dan pukulan Arinda meleset, tinju yang berisi semua emosinya itu tidak lagi terbendung, dan membuat tubuhnya bergerak secara berlebihan.
Kakinya mulai goyah, dan tubuhnya akan jatuh ke lantai.
Tapi, ketika hanya sedikit lagi akan jatuh, Arinda tiba-tiba merasakan ada tangan yang memegang tubuhnya, dan berhenti.
"Ah!"
Tapi tak lama kemudian dia berteriak, dan buru-buru mundur beberapa langkah.
"Kamu..kamu bajingan! Sialan! Bodoh! Mesum! Kamu...kamu sangat menjijikkan!"
__ADS_1
Melihat Arinda yang menudingnya dengan segala keluhan, Rexy dengan tenang mengangkat pundaknya, dan berkata, "Aku menolong seseorang agar tidak jatuh, tapi inikah balasannya? Sangat tidak sepadan."
"Siapa yang butuh pertolonganmu? Siapa yang yang ingin di tolong oleh pria sepertimu? Balasan, bukankah kamu sudah mendapatkan balasan? Kamu adalah pria pertama yang mencium dan menyentuh dadaku! Kau bajingan mesum. Menjijikkan! Sialan! Preman! Penjahat! Kamu bukan pria! Kamu... kamu..." Ucapan tidak bersalah Rexy seperti sengatan listrik yang membuat Arinda marah meledak, dan menggeram keras.
Rexy sendiri, dia masih tenang dan tidak peduli dengan julukan yang di berikan oleh Arinda.
Bagaimanapun, dia sudah mendapatkan julukan itu sebelumnya, dan tidak lagi terlalu memikirkannya. Lagipula, dengan mencium dan meremas dada polisi wanita ini, Rexy telah menyelesaikan misinya.
Rexy tidak pernah menyesal dengan julukan itu.
Jadi, dia tidak pernah memikirkan kata-kata polisi wanita ini, dan dengan sendirinya memborgol kedua tangannya.
Lalu melihat kearah Manager Khan, yang sejak awal hanya melihat dan tidak melakukan apapun, Rexy berkata, "Manager Khan, jaga restoran sebentar, aku harus pergi."
Lalu melihat kembali Arinda yang masih marah, dan melanjutkan, "Aku sudah memakai borgolnya, bisakah kita pergi sekarang?"
"Kamu..kamu..!"
Kata "kamu" adalah apa yang bisa Arinda katakan saat ini.
Benar, sebagai seorang polisi, dan telah menjalankan puluhan tugas, atau bahkan ratusan kali dengan banyak resiko, ini adalah pertama kalinya Arinda merasa tidak berdaya.
Biasanya, dia hanya akan menangkap seseorang dengan beberapa kejaran, atau perlawan dari penjahat yang sia-sia. Tapi sekarang?
Bukan hanya melawan, dia bahkan berani memiliki pemikiran untuk menggoda dirinya sendiri. Dan yang paling penting, dia berhasil.
Pertama, tanpa kata dia langsung menciumnya. Kedua, dia mengatakan dirinya jelek. Ketiga, dia meremas dadanya. Yang terakhir dan yang membuatnya sangat marah adalah, dia tidak pernah menyesalinya.
Arinda benar-benar marah, dan tidak berdaya.
Jika disini tidak ada orang lain, mungkin dia akan segera menarik pelatuknya, dan membuat pria menjijikkan ini membayar semuanya.
Tapi karena ada orang lain, Arinda merasa tak berdaya, dan hanya menahan amarahnya.
Di sisi lain, Rexy yang melihat wajah Arinda kembali menjadi merah dan seluruh tubuhnya yang gemetar, Rexy berpikir bahwa penyakit wanita ini semakin parah.
"Bukankah aku sudah bilang jangan marah-marah, Nona? Lihatlah sekarang, penyakitmu menjadi tambah parah, kan?"
Setelah berkata, Rexy segera berjalan keluar dengan tangan di borgol, dan menuju mobil polisi yang Arinda kendarai. Lalu membuka pintu co-pilot dan duduk dengan tenang sambil menunggu Arinda.
Di dalam, Arinda masih terdiam, dan tidak tahu harus berkata apa.
Dia benar-benar tidak mengerti, dan tidak tahu harus melakukan apa.
Lihatlah anak buahnya, yang biasanya sangat galak dan cekatan, sekarang tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Lalu pria lainnya, dari awal sampai sekarang, dia masih tetap duduk di sana dengan mata melebar, dan mulut yang tidak pernah menutup.
Sampai sekarang, tampaknya hanya ada Rexy dan dirinya. Apapun yang terjadi, dirinya adalah orang yang teraniaya, dan tidak bisa melakukan apapun.
Pria menjijikkan ini! Semuanya karena pria ini! Awas saja kau!
Dengan perasaan penuh kebencian, Arinda berjalan ke arah mobil dengan langkah cepat. Kemudian masuk mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan membawa Rexy ke kantor polisi kota.
Sepanjang waktu, Manager Khan yang juga ada di tempat kejadian tidak pernah bergerak atau mengatakan apapun.
Dalam pikiran, dia sudah ketakutan akan hal-hal hantu sebelumnya. Di tambah dengan kejadian ini, dia benar-benar tidak tahu mimpi apa semalam.
Kejadian demi kejadian, itu semua di luar imajisaninya, dan mau tak mau sedikit menganggumi Rexy.
Orang muda ini, dia pasti bukan orang biasa.
Bukan hanya bisa memusnahkan hantu, dia juga berani melawan polisi. Bahkan, dia juga berani mencium bibir polisi wanita itu.
Mencium!
Ketika sampai disini, Manager Khan langsung tersadar jika Rexy sudah di bawa ke kantor polisi, dan buru-buru mengeluarkan ponselnya.
Untungnya Manager telah meminta nomor telepon Dita, jadi dia segera mengirim pesan kepadanya.
Disisi lain, Dita yang sedang berbicara dengan beberapa temannya untuk menawari pekerjaan segera terkejut, dan buru-buru kembali saat mendapat pesan manager Khan.
Setelah kembali dan melihat ada empat pria besar sedang tergeletak tak sadarkan diri, Dita menjadi semakin terkejut.
"Empat polisi pingsan di restoran, apa yang terjadi?"
Manager Khan menggelengkan kepalanya, dan dengan sedih berkata, "Tuan Rexy mengalahkan empat polisi itu, dan sekarang dia sedang ada di kantor polisi."
"Apa?" Dita tidak percaya, dan dengan cepat bertanya, "Apa yang terjadi? Bagaimana Tuan Muda bisa dibawa ke kantor polisi?"
"Ya, bukankah tadi pagi Tuan Muda memukul seseorang?"
"Drian! Pasti dia yang melaporkan Tuan Muda ke polisi. Sepertinya dia masih tidak terima dengan kekalahannya di pagi hari."
Melihat Dita yang tampak marah, Manager Khan mendesah dan berkata, "Gadis, bagaimanapun ini adalah negara hukum. Merampas mobil seharga dua miliar, dan memukul seseorang, dia pasti akan mendapatkan masalah."
Manager menggelengkan kepalanya tak berdaya, dan melanjutkannya, "Kita hanya orang biasa, kita tidak bisa melawan hukum. Daripada memikirkan hal yang tidak perlu, sebaiknya kita mencari cara untuk mengeluarkan Tuan Muda dari penjara."
Mendengar ini, Dita akhirannya sedikit tenang, memikirkannya beberapa saat, dan berkata kepada Manager Khan, "Paman Khan benar. Pertama-tama kita harus memberitahu Keluarga terdekat Tuan Rexy."
"Ya, benar! Aku harus pergi dulu."
__ADS_1