
Ya, bukankah Rexy sudah berubah? Bukan hanya fisiknya yang berubah, dia juga menjadi orang kaya. 20 juta di keluarkan begitu saja dengan mudah. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?
Meskipun dia masih tetap mesum, dan bajingan, setidaknya dia masih perhatian dan tidak ragu untuk memberikan kemewahan pada dirinya.
Bukankah ini yang aku inginkan? Pria yang aku impikan, bukankah seperti ini? Apa lagi yang perlu aku pikirkan?
Ada perasaan hangat dan tenang di hati Erlina. Dan tanpa sadar dia tersenyum dan menikmati makanan di meja tanpa pikiran apapun.
Di sebelahnya, Rexy menyadari perubahan Erlina dari ketertarikan kepada dirinya, yang kini menjadi 50%.
Rexy merasa senang, dan 1 juta poin tampaknya tidak akan lama didapatkan.
Hari yang indah, Rexy merasakan bahwa makanan di restoran ini menjadi semakin enak.
Dalam diam dan tenangnya Rexy menikmati makanan, ada dua pasangan muda yang masuk ke restoran ini.
"Sayang, bukankah ini restoran yang mewah!"
"Ya, ini adalah restoran kelas atas di kota. Bagaimana, apakah kamu suka?"
"Suka, aku suka. Tentu saja aku suka. Beberapa waktu yang lalu, karena Rexy pria babi itu menjanjikan ku akan mengajak makan disini, aku harus pura-pura baik padanya."
Dua orang yang masuk itu adalah Gerry dan Anandita, dua pasangan yang telah menghancurkan kehidupan Rexy. Dua orang yang membuat dia putus asa, dan hampir bunuh diri.
Gerry yang mendengar Anandita menyebut tentang Rexy, dia tersenyum sinis, dan berkata, "Pria bodoh itu, dia memang bodoh, dan tidak berguna! Tapi kita harus sedikit berterimakasih padanya, seandainya kita tidak membohonginya, kita mungkin tidak bisa datang kesini."
Mendengar ini, Anandita sedikit mengangguk di wajah cantiknya. Tapi, ada sedikit ketidakjelasan di hatinya.
"Tapi, kenapa kita harus menjual kalung yang dia berikan untuk bisa datang kesini?"
Saat mendengar kata-kata kekecewaan Anandita, Gerry tersenyum, dan mengelus rambutnya, "Jangan bersedih. Uang itu bukan hanya untuk sekedar makan disini. Uang itu juga untuk usahaku. Jika aku telah berhasil, bukan hanya saja makan di restoran mewah, kamu bahkan bisa membeli restoran mewah sendiri."
Mata Anandita tampak cerah, dan kembali tersenyum, "Kamu janji, kan?"
Gerry mengangguk dan tersenyum, "Aku janji. Apa yang enggak buat kamu?"
"Hem," Anandita tersipu, "Kamu bisa aja."
__ADS_1
"Hehehe, ayo masuk!"
Pada hari kerja, dan pas waktunya makan siang, restoran ini rame pengunjung, dan tidak banyak tempat yang tersisa. Dari ratusan meja di dalam, yang tersisa hanya satu meja di sebelah Rexy dan Erlina sedang makan.
Jadi, Gerry dan Anandita duduk di sana.
Saat mereka berdua duduk disana, Rexy otomatis melihatnya. Tapi karena perubahan penampilannya, mereka tidak menyadari jika Rexy ada di sebelahnya.
Saat pertama kali melihat Gerry dan Anandita yang dengan mesra duduk di sana, sebenarnya ada sedikit amarah di hati Rexy. Apalagi ketika melihat Anandita, wanita yang dulu dia puja sangat lengket dengan Gerry.
Tapi, ketika Rexy melihat Erlina di sebelahnya, perasaan itu segera menghilang begitu saja.
Semuanya hanyalah masa lalu, sekarang lihatlah, bukankah sudah ada wanita yang lebih baik di sisinya?
Wanita yang cantik, baik, polos, dan yang lebih terpenting, dia tidak mata duitan, dan menerima dirinya apa adanya. Bantuan yang Erlina berikan pada dirinya juga berlimpah dan tidak pernah mengeluh.
Jadi, untuk apa masih memikirkan wanita dan teman yang menjijikkan seperti mereka?
Berpikir seperti itu, Rexy tersenyum tulus, dan mengambil satu makanan di meja, dan menempatkannya di piring Erlina.
Melihat banyaknya makanan di piring, dan mendengarkan apa yang Rexy katakan, Erlina cemberut sambil membuat penampilan marah berkata, "Apa kau pikir aku babi?"
"Tidak, bukan seperti itu. Menurutku, jika kamu sedikit gemuk, kamu akan menjadi lebih imut seperti panda."
"Hem, apa menurutmu aku kurus?"
"Tidak, bukan kurus kok. Malahan kamu sedikit berisi," berkata seperti ini, Rexy melihat dada Erlina yang memang berkembang sempurna.
"Hanya saja, karena kamu sedang mengandung anak kita, kamu harus makan yang banyak untuk kesehatan kalian."
"Kamu..." Erlina malu, dan tersipu dengan ucapan Rexy.
"Hehehe..." Rexy tertawa kecil saat melihat wajah Erlina yang malu dan memerah.
Tidak lupa juga Rexy memanggil pelayan, dan memesan makanan lagi. Bukan untuk Erlina, karena memang nafsu makannya sendiri sangat banyak setiap hari.
Sementara di meja sebelah, Anandita yang melihat Rexy dan Erlina terlihat romantis dan sangat harmonis, dia merasa iri.
__ADS_1
Sebagai wanita yang materialis, pria seperti Rexy yang membelikan pasangannya apapun yang diinginkan dengan mudah, dia pasti akan merasa iri. Apalagi jika di bandingkan dengan Gerry yang hanya memesan sedikit makanan untuk dirinya.
Di sebelahnya, Gerry menyadari Anandita selalu memandang kearah lain bertanya, "Sayang, ada apa?"
Anandita menoleh kearah Gerry, dan dengan wajah sedikit sedih, dia berkata, "Sayang, lihatlah mereka. Mereka terlihat harmonis dan membeli berbagai macam makanan. Aku.."
"Kamu juga ingin memesan banyak makanan?" Gerry menebak dan bertanya.
Ananda mengangguk dengan lemah.
Gerry sedikit mengerutkan kening saat melihat anggukan kepala Anandita. Lalu melihat ke arah meja Rexy, dan sedikit terkejut.
Terkejut bukan karena makanan yang di pesan oleh Rexy, tapi terkejut dengan kepolosan dan kecantikan Erlina.
Selanjutnya matanya menyipit, dan bergumam, "Dia, bukankah dia Erlina?"
"Erlina? Erlina siapa, apa kamu mengenalnya?" Anandita segera bertanya saat mendengar gumaman Gerry.
"Oh, tidak. Aku tidak mengenalnya, aku hanya berpikir mereka adalah orang yang sama." Gerry buru-buru menggelengkan kepalanya, dan menjawab pertanyaan Anandita.
Namun, Anandita tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gerry, dan memandangnya dengan curiga.
Di curigai oleh Anandita, Gerry tersenyum. Menarik pandangannya dari meja Rexy, dan mengeluarkan handphonenya.
"Sayang Dita, kamu tahu tidak? Pemilik restoran ini adalah teman ayahku?"
"Benarkah?"
"Ya! Dia adalah teman karib ayahku. Jika aku mau, aku bisa meneleponnya, dan membuatnya menyambut kita. Tentu saja tidak masalah untuk memesan makanan lebih banyak?"
"Tunggu apalagi. Ayo cepat panggil dia!"
"Hehehe..." Gerry tersenyum, dan mulai menekan tombol di handphone.
Dalam senyum Gerry, ada tujuan lain yang dia sembunyikan.
Anandita mungkin tidak tahu siapa dua orang di sebelah mereka, tapi Gerry tahu, dan memiliki ide tertentu.
__ADS_1