
"Tidak ada maksud. Ayo pergi." Jawaban Akira jelas tidak mau memberikan kebenaran, dan sebelum Rexy bertanya lebih jauh, dia menarik lengan Rexy keluar.
Pagi ini, jalanan di depan toko Akira sudah ramai kendaraan, dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan taksi.
Sepanjang jalan, Akira selalu memberikan misterius kepada dirinya dan tidak pernah mengatakan tujuan mereka. Entah apa yang terjadi hari ini, Rexy sekalipun tidak diberi waktu untuk bertanya.
Di dalam taksi, Akira juga tidak berbicara, sepanjang waktu dia sibuk merapikan rambut, wajah dan pakaian yang dia kenakan. Ini seolah-olah menandakan jika mereka akan bertemu dengan orang penting.
Dari awal, Rexy sudah menebak arah tujuan mereka, dan ketika tiba di depan sebuah restauran mewah, akhirnya tebakan Rexy semakin kuat.
Tepat, ketika dia masuk dan melihat dua orang yang mereka datangi, akhirnya Rexy merasa yakin dengan tebakannya.
Apalagi, ketika dia melihat satu wanita paruh baya itu memiliki wajah yang hampir sama dengan Akira.
Ini, bukankah ini mengajaknya untuk bertemu dengan mertua?
Meskipun belum siap secara mental, dan baru pertama kalinya bertemu ibu dari wanita, ini belum seberapa. Yang benar-benar membuat Rexy semakin sakit kepala adalah, pria di sebelah Ibu Akira.
Dari gaya berpakaiannya yang rapi, serta gayanya yang sopan, dan wajahnya yang tampan, bukankah dia adalah pria yang akan di jodohkan dengan Akira.
Permintaan yang diminta Akira, dan setiap kejadian demi kejadian dalam perjalanan, Akira bermaksud untuk menjadikan dirinya sebagai tameng, bukan?
Dia awalnya mengira Akira memintanya untuk menghadapi seseorang atau orang yang mengejarnya. Rexy sudah mengantisipasi ini, dan mengeluarkan 1000 poin untuk teknik bertarung.
Tapi, semuanya sia-sia! Rexy tidak berdaya!
Duduk di bangku tanpa memberi salam, tubuh Rexy terasa lemas, dan kurang bersemangat.
Gaya Rexy yang tidak sopan ini otomatis dilihat oleh ibu Akira, dan pemuda yang dia bawa.
Untuk pemuda yang tampak kaya itu memberikan pandangan menghina dan jijik kepada Rexy.
__ADS_1
Sementara ibu Akira, yang melihat tingkah Rexy seperti ini mulai mengerutkan keningnya dan menoleh kearah putrinya, "Kira, siapa ini yang kamu bawa."
Ibu Akira tidak bertanya menggunakan kata-kata "Dia" atau "Pria" yang menunjukkan bahwa dia tidak memandang Rexy sama sekali.
Atau bisa dibilang, Ibu Akira tidak menganggap Rexy seorang manusia, dan lebih memilih mengkategorikan sebagai barang.
Karena, dalam pandangannya, pria ini lebih muda daripada Akira. Bukan hanya itu saja, wajahnya yang tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakan, dia menganggap Rexy hanya benalu. Yang menempel dan hidup dengan usaha Akira.
Akira sendiri, dia mengetahui maksud dari ibunya, tapi dia tidak menunjukkannya di permukaan agar tidak mempermalukan Rexy, dan memperkenalkan, "Ibu, ini adalah Rexy, pacarku. Rexy, ini adalah ibuku Sona. Sedangkan dia adalah teman masa kecilku, Drian!"
"Apa?"
Setelah Akira menyelesaikan kata-katanya, Ibunya dan Rexy sontak bertanya berbarengan.
Setelah itu, kedua orang itu saling memandang, dan Sona bertanya terlebih dahulu, "Kamu, apa kamu pacar putriku?"
Karena Rexy adalah orang yang jujur, dia berniat untuk menggelengkan kepalanya, dan jujur. Tapi, sebelum dia melakukannya, dia merasakan sakit di pahanya.
Astaga, sepertinya aku harus menuruti keinginannya.
Mau tak mau Rexy harus tersenyum, dan mengangguk, "Benar, saya adalah pacar Kira."
"Hah, apakah kalian bercanda?" Ibu Sona tidak mempercayai, dan bertanya kepada kedua orang di depannya.
"Ibu, semuanya benar. Waktu itu, kami bertemu karena kejadian tak terduga, dan selama setahun bersama, kita akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Apalagi, Rexy ini juga pria yang baik." Kali ini Akira yang berbicara, dan mengambil kendali.
"Kira, baik saja tidak cukup dalam menjalin hubungan, kan? Aku juga pria yang baik, dan mapan, tapi kenapa kamu tidak pernah menerimaku?" Drian yang sejak tadi diam kali ini berbicara.
Akira yang tersenyum lembut kepada ibunya menoleh kearah Drian di sebelahnya. Akan tetapi, senyum Akira saat melihatnya bukan lagi senyum lembut, itu hanya senyum kesopanan.
"Maaf, Drian. Sejak dulu, aku tidak pernah pernah menganggap kamu lebih dari sekedar teman, begitu pula dengan sekarang."
__ADS_1
Mendengar penolakan ini secara langsung, Drian tampak tidak merasa sedih sama sekali, dan bahkan tersenyum.
"Aku tahu itu. Selama bertahun-tahun aku selalu memikirkanmu, bahkan ketika kamu berpisah dengan suamimu, aku senantiasa menunggumu. Kira, apa kekurangku?"
Senyum Akira masih sopan, dan menjawab, "Tidak ada yang salah denganmu. Jika kamu mencari wanita lain, pasti akan banyak yang menerimamu. Tapi maaf sekali, aku tidak bisa menerimamu, karena aku tidak mencintaimu."
Ketika mendengar ini, Drian berhenti, dan merasa tidak berdaya. Dia melihat ke sebelahnya, dan meminta bantuan kepada Ibu Sona.
Ibu Sona mengerti maksud Drian, dan tersenyum.
Kemudian, dia melihat kearah Rexy beberapa waktu, lalu kepada Akira sebelum bertanya, "Kamu tahu Kira? Ini tahun 2010, tahun dimana pekerjaan dan taraf hidup naik daripada tahun-tahun sebelumnya. Cinta, apa cinta bisa bertahan selamanya? Atau kesejahteraan hidup yang bisa bertahan selamanya?"
"Aku mengerti maksud Mama," Akira mengangguk, dan kembali tersenyum tenang, "Cinta memang tidak bisa menjamin kebahagiaan rumahtangga, tapi dari cinta rumah tangga akan selalu indah, bukan?"
"Huh.." Ibu Sona, dan Drian segera mendengus tidak setuju dengan kata-kata Akira.
"Cinta lagi dan cinta! Kamu tidak belajar dari pengalamanmu sebelumnya? Apa yang terjadi dengan cintamu dengan mantan suamimu? Bagaimana dia sekarang? Bukankah dia pergi dengan wanita lain?"
Kata-kata ini, sepertinya membuka lama Akira, dan membuat senyum di wajahnya mengendur.
Tapi, ibunya tidak peduli dan terus berbicara, "Dulu aku menyetujui kalian menikah meski mantanmu adalah pria biasa. Sekarang apa? Setelah lima tahun menikah, dan pria miskin menjadi pria kaya, pandangannya menjadi tinggi, dan memilih pergi dengan wanita yang lebih muda dan cantik."
"Apakah kamu lupa itu, Akira! Aku berusaha untuk menghentikan mu waktu itu, tapi kamu tidak pernah mendengarnya. Sekarang kamu tahu kebusukan pria miskin, kan?"
"Apa kamu tidak pernah belajar? Apa kamu masih ingin menikah dengan pria miskin, dan tidak bisa mencari uang?"
"Dia," Ibu Sona dengan keras menunjuk kearah Rexy, "Dia juga pria miskin! Lihat pakaian yang dia kenakan! Bandingkan dengan harga makanan saat ini, apakah dia layak untuk memakannya? Tidak, apakah dia layak berdiri di sini, saat ini? Kamu, jika kamu masih tidak menuruti kemauan ibumu..."
"Cukup!"
Rexy, yang dari awal hingga akhir tidak berbicara tidak tahan lagi, dan menghentikan kata-kata kejam Sona kepada Akira.
__ADS_1