9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 36


__ADS_3

"Cari Nuri," ujar Sabda via telepon pada Felix, asisten pribadinya yang sekarang ada di Jakarta. Bisa dibilang, Felix satu satunya orang kantor yang tahu perihal pernikahan Sabda dengan Nuri. "Temukan dia malam ini juga bagaimanapun caranya." Sabda mengakhiri panggilannya setelah itu.


"Kenapa kamu tak menepati janjimu Nuri. Kenapa kamu pergi?" Sabda menyentuh gelang yang ada ditangannya. Ya, saat berada di Jepang, dia kembali memakai gelang tersebut. Dia kembali menghubungi Nuri. Tapi berkali kalipun, tetap suara operator yang dia dengar. Dan saat itulah, dia yakin jika nomornya telah diblokir oleh Nuri.


Brakk


Meja tak bersalah jadi pelampiasan kekesalannya.


Arrrghhh


Dia berteriak frustasi. Kenapa harus seperti ini. Padahal hanya tinggal 2 bulan saja.


Sabda terduduk diatas lantai sambil mengurut dadanya yang terasa sesak. Dia tak akan pernah sanggup kehilangan anak itu. Satu satunya penerus keluarganya.


Kembali lagi, dia melihat history cctv melalui ponselnya. Dia mengerutkan kening saat melihat ibunya dan Nuri bertengkar di dapur. Dan ketika dia memutar rekaman sebelumnya. Dia melihat Tutik merebut teh yang hampir Nuri minum lalu membuangnya.


"Astaga ibu, kenapa ibu mengecewakanku sekali lagi."


.


.


.


"Makanlah dulu Nur." Lula menyodorkan sebungkus nasi kearah Nuri. Ya, saat ini Nuri berada di kamar kos sahabatnya. Sahabat yang baru beberapa jam tadi tahu jika Nuri hamil. Saat berpamitan dulu, Nuri mengaku mau pulang kampung dan tak lanjut kuliah.


"Aku tidak lapar La."

__ADS_1


"Tapi anak kamu lapar Nur. Jangan egois, kamu tak hanya sendiri."


Nuri mengusap perutnya. Ya, seharusnya saat ini, janin itu adalah prioritasnya. Meski tak lapar dan tak berselera makan, dia tetap harus makan demi anak dikandungannya.


Meski tak berselera, Nuri berusaha menelan makanan dihadapannya. Dia harus kuat demi anaknya.


"Kau mau kemana setelah ini? Pulang kampung?"


Nuri menggeleng. "Aku tak mau membuat orang tuaku malu La. Apa kata orang jika aku tiba-tiba pulang dalam kondisi hamil tanpa suami."


"Astaga, rumit sekali hidupmu." Lula kasihan sekali melihat Nuri. "Lalu kamu mau apa setelah ini? Bekerjapun rasanya tak mungkin dengan kondisi perutmu yang sebesar itu. Apa kau akan tetap bertahan di Jakarta?"


"Aku masih bingung. Untuk sementara, bisa temani aku mencari kos kosan? Aku butuh tempat untuk istirahat."


"Kau bisa istirahat disini untuk sementara waktu. Lagian ini sudah malam."


Nuri memeluk boneka kelinci pemberian Sabda. Air matanya mengalir ketika semua kenangan kebersamaan mereka kembali terngiang dikepalanya.


Maaf karena tak menepati janjiku.


Hampir tengah malam, ponsel Nuri berdering. Cepat cepat dia meraih benda pipih itu agar tak mengganggu tidur Lula.


Nuri tak bisa menahan laju air matanya saat tahu jika yang menelepon adalah ibunya.


"Ibu," Sapa Nuri dengan suara bergetar karena tangis.


"Nuri, Nak, kamu baik baik saja kan?"

__ADS_1


Nuri membekap mulutnya. Dia tak mau ibunya tahu jika saat ini dia sedang menangis.


"Nuri, kamu baik-baik saja kan Nak?" Ikatan batin mereka cukup kuat. Seharian ini, ibunya merasa tak tenang, terus kepikiran Nuri.


Nuri berusaha menghentikan tangisnya. Dia tak bisa terus diam saja seperti ini.


"Nak, kamu menangis?"


Bukannya berhenti, tangis Nuri malah makin pecah. Dan dia tak bisa lagi menyembunyikan hal itu dari ibunya.


Diseberang sana, sang ibu yang mendengar tangis pilu putrinya, turut menangis. Meski dia tak tahu apa yang terjadi pada Nuri, dia yakin anak sulungnya itu sedang tidak baik baik saja sekarang.


Hati Nuri makin tersayat saat mendengar ibunya menangis. Ya, semua ini karena dia. Dia yang telah membuat wanita yang telah melahirkannya itu menangis.


"Pulanglah Nak, pulang. Ibu, Bapak, dan kedua adikmu merindukanmu."


Nuri memegangi dadanya yang sesak. Lihatlah, ibunya masih menyuruhnya pulang meski Nuri sudah mengecewakannya. Tidak terdengar nada marah sama sekali dalam setiap kalimat ibunya. Suaranya masih seperti dulu, lembut dan sangat menenangkan.


"Maafkan Nuri Bu. Nuri sudah mengecewakan ibu dan Bapak."


"Sudahlah Nak, semua sudah terjadi. Kalau disana sangat berat, pulanglah. Kita lalui semua bersama sama. Kamu tidak sendiri, kamu masih punya kami."


"Maafkan Nuri Bu." Berkali kali, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nuri.


"Ibu, Bapak, dan kedua adikmu, kami sangat menyayangimu. Meski hari itu Bapakmu marah besar, tapi yakinlah, dihatinya, dia masih mencintaimu. Bapak hanya sedang kecewa hari itu. Dia menyalahkan dirinya karena merasa telah gagal mendidikmu. Tapi percayalah, dia masih sangat menyayangimu hingga detik ini. Namamu masih selalu Bapak sebut didalam doanya."


Bayangan wajah Bapaknya terlintas dibenak Nuri.

__ADS_1


Dia masih ingat seperti apa murka Bapaknya saat tahu dia hamil diluar nikah. Pria paruh baya itu kecewa. Kecewa karena kepercayaannya telah dikhianati.


__ADS_2