9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 78


__ADS_3

Setelah 3 bulan sejak mendaftarkan, akhirnya hari ini, Fasya dan Sabda resmi bercerai. Fasya tak pernah hadir dalam persidangan sesuai permintaan Sabda. Semua itu tentu saja karena Fasya takut dilaporkan polisi atas kasus pemalsuan tanda tangan. Dan hari ini, saat pembacaan ikrar talak, keduanya hadir.


Sabda keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega.


"Terimakasih banyak atas bantuannya." Sabda menjabat tangan Pak Eric, pengacara yang mendampinginya selama proses perceraian.


"Sama-sama Pak. Jika ada apa-apa, jangan ragu untuk menghubungi saya."


"Tentu."


Setelah percakapan singkat tersebut, Pak Eric pamit karena ada janji temu dengan klien.


Saat hendak pulang, tak sengaja Sabda melihat Fasya yang duduk disebuah bangku panjang. Tampak mantan istrinya itu sedang menyeka air mata dipipinya. Sabda mendekati lalu duduk disebelahnya.


Untuk beberapa saat, mereka hanya diam. Lama tak bertemu, membuat keduanya canggung.


"Aku tak menyangka jika kisah kita akan berakhir seperti ini." Suara Fasya terdengar sedikit bergetar karena menahan tangis.


"Sama, aku juga tak menyangka."


Setiap pasangan yang menikah, tentu menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Tak mungkin ada yang memiliki tujuan ingin bercerai. Tapi seiring berjalanannya waktu, kadang kita lupa, apa hakikat pernikahan sesungguhnya. Jatuh cinta itu mudah, menjaga cinta, itu yang sulit.


Keduanya, baik Fasya maupun Sabda, pernah merasakan cinta yang menggebu gebu. Tak bisa menyangkal jika dulu, mereka pernah berada diposisi sangat mencintai. Tapi seiring berjalannya waktu, cinta itu mulai ternoda.


"Maaf jika selama menjadi suamimu, aku pernah melakukan kesalahan."


"Jangan membuatku malu dengan bicara seperti itu Mas. Disini aku yang bersalah." Fasya tersenyum getir.


"Aku juga salah, Fasya." Sabda tak bida berbohong, dia juga salah disini. Meski dia tak berselingkuh dengan menjalin cinta dengan Nuri, tetap saja, dia telah menghadirkan wanita lain ditengah tengah dia dan Fasya. Sudahlah, mungkin jodoh mereka memang hanya sampai disini. "Apa rencanamu setelah ini?" Sabda menoleh kearah Fasya.

__ADS_1


"Aku akan pulang kerumah orang tuaku, ke Singapura."


"Sepertinya itu pilihan yang tepat."


"Agar kita tak perlu tiba tiba bertemu tanpa sengaja? Begitu maksudmu?" Fasya tersenyum getir.


"Bukan seperti itu. Hanya saja, mungkin saat ini, kamu butuh seseorang yang ada disampingmu. Dan aku rasa, ibu adalah orang yang paling tepat. Selain itu, ibumu sendirian, kalian bisa saling mendukung satu sama lain."


Fasya menunduk. Saat ini, memang hanya ibunya yang dia miliki. Jadi dia tak ada pilihan lain selain pulang.


"Aku ingin memulai karier di Singapura."


"Kau punya latar belakang pendidikan yang bagus. Aku rasa memulai karier di Singapura tidak akan sulit bagimu. Kau wanita yang cerdas dan berwawasan. Aku hanya bisa mendoakan agar kau sukses dengan kariermu."


Fasya menoleh kearah Sabda sambil tersenyum. Ucapan Sabda barusan, membuat penyesalannya makin dalam. Kalau saja dia tidak bermain api, dia tak akan kehilangan pria sebaik Sabda. Pria yang meski sudah dia sakiti, masih mau mendoakannya dengan tulus.


"Kau tidak membenciku Mas?"


"Kau tidak pernah berubah sejak dulu, Mas."


"Karena aku bukan ultramen atau power rangers."


Fasya langsung tertawa mendengarnya.


"Jangan lagi berhubungan dengan Ringgo. Dia bukan pria yang baik," Sabda mengingatkan.


Membahas Ringgo, membuat Fasya seketika teringat alm. Yulia.


"Apa kau menyalahkanku atas kematian ibu?"

__ADS_1


"Aku sudah mengikhlaskannya. Mungkin memang seperti ini jalan takdir Ibu."


"Aku bersumpah Mas, aku tak pernah menyuruh Ringgo melakukan itu. Dan meski aku tak menyukai ibu, aku tak mungkin merencanakan hal sekeji itu."


"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi." Membahas tentang ibunya, hanya membuat dada Sabda sesak. Teringat jika Nuri sedang menunggunya dimobil. Sabda segera berdiri. "Aku harus segera pergi."


Fasya lalu ikut berdiri. "Aku juga mau pergi."


Keduanya lalu berjalan beriringan keluar dari pengadilan. Setibanya ditempat parkir, Fasya tiba tiba memeluknya. Saat Sabda berusaha melepaskan, Fasya makin mempererat pelukannya. "Aku hanya ingin memelukmu untuk yang terakhir kali Mas."


Sabda melihat kearah mobilnya. Jaraknya tak jauh, Nuri pasti melihatnya sekarang.


"Tolong lepaskan Fasya. Ada hati yang harus aku jaga."


Fasya segera melepaskan pelukannya. "Apa itu Nuri?" dia melihat kearah mobil Sabda. Tapi kaca mobil yang tak tembus pandang membuatnya tak bisa melihat Nuri yang ada didalam sana.


Sabda mengangguk. "Dia sedang menungguku didalam mobil. Maaf, aku harus pergi." Sabda langsung menuju mobilnya. Dia tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, Nuri pasti akan marah karena salah paham.


Dan benar saja, Nuri melengos saat Sabda masuk kedalam mobil.


Sabda meraih tangan Nuri lalu meletakkan dipangkuannya. "Tak seperti yang kau pikirkan."


"Emang apa yang aku pikirkan?" Tanya Nuri dengan nada ketus.


"Dia yang memelukku, bukan aku yang memeluknya."


"Tapi Kakak menikmatinyakan?"


Sabda terkekeh pelan. "Tak ada yang senyaman pelukanmu sayang." Sabda hendak memeluk Nuri, tapi Nuri menolak dengan mendorong dada Sabda.

__ADS_1


"Ayo pulang, kita sudah terlalu lama keluar. Aku tak mau White sampai kehabisan stok asip." White adalah nama anak Nuri dan Sabda. Sengaja Sabda memilih nama itu karena warna putih, adalah kesukaan Dennis dan juga ibunya. Selain itu, nama tersebut terdengar lain dari pada yang lain dan masih jarang yang menggunakan.


Sabda tak mau mendebat wanita yang sedang marah. Mungkin membiarkan sebenatar hingga emosinya sedikit reda, adalah pilihan yang tepat.


__ADS_2