
Yulia diam diam mengikuti Fasya. Firasatnya mengatakan jika ada yang tidak benar dengan manantunya itu. Tak mau ketahuan karena Fasya hafal mobilnya, dia menyuruh supir membawa motor milik satpam. Keduanya memakai helm fullface agar tak terlihat.
Imam, supir Yulia itu cosplay jadi Mark Marquez demi bisa menyusul mobil Fasya.
"Hei, pelan-pelan." Yulia memukul bahu Imam karena ketakutan. Dia yang tak biasa naik motor, ngeri juga saat dibonceng dengan kecepatan tinggi.
"Tapi kita bisa kehilangan jejak kalau gak ngebut Nyonya."
Yulia tak bisa berkata kata kalau sudah begitu. Dia memelih memejamkan mata sambil berpegangan pada jaket Imam untuk mengurangi ketakutannya.
"Kenapa berhenti?" Yulia membuka mata saat motor yang ditumpanginya berhenti.
"Nyonya Fasya berhenti."
Yulia lalu melihat kesekitar. Dia melihat Fasya masuk kesebuah apotek.
Jadi dia memang sakit. Lalu kenapa nekat pergi. Aku jadi makin penasaran, siapa yang hendak dia temui.
"Apa saya perlu masuk Nyonya?" tanya Imam.
"Bodoh, kau bisa ketahuan kalau masuk," bentak Yulia.
"Tapi sayakan pakai helm nyonya."
"Heh, didalam pasti kamu disuruh melepas helm." Setahu Yulia, dia toko toko peraturannya tak boleh masuk menggunakan helm.
__ADS_1
"Tapi tadi saya lihat ada yang keluar dari apotek memakai helm. Sepertinya tidak apa apa pakai helm. Lagian itu hanya apotek kecil."
"Ya udah, cepet sana turun." Yulia mendorong tubuh Imam agar segera turun dari motor.
Imam mendesis pelan. Tadi idenya dikatain bodoh, eh...sekarang malah didorong dorong. Untung majikan, kalau bukan, sudah pasti dia maki maki.
Beruntung tadi imam pinjam jaket milik satpam, jadi seragam kerjanya tidak kelihatan. Fasya tak mungkin akan mengenalinya.
Diluar, Yulia yang berdiri disamping motor hanya bisa menunggu dengan tak sabar. Matanya terus menatap kepintu apotek, berharap Imam segera keluar dan memberi kabar yang berguna. Dia penasaran, apa yang dibeli Fasya. Obat lambung atau lainnya? Karena jujur, dia masih merasa jika sakitnya Fasya seperti orang hamil muda.
Tak berapa lama kemudian, Imam keluar. Melihat itu, Yulia langsung tak sabar untuk bertanya.
"Apa yang dia beli?"
"Testpack."
Jantung Yulia terasa mau copot. Testpack, apa itu artinya, kecurigaannya benar, Fasya hamil.
"Selamat ya Nyonya, sepertinya sebentar lagi tuan Sabda akan punya anak."
Tubuh Yulia limbung, beruntung Imam lebih dulu berhasil memegangi pundaknya, kalau tidak, Yulia sudah pasti akan jatuh. Heran, mau dapat cucu kok kesannya syok, kayak dapat berita buruk. Imam hanya bisa menelan ludah. Bingung dengan jalan pikiran orang kaya.
"Nyonya pucat sekali. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Yulia menggeleng pelan. Dia melihat Fasya keluar dari apotek lalu masuk kedalam mobil. "Tetap ikuti Fasya."
__ADS_1
"Kita naik taksi saja Nyonya. Saya takut Nyonya malah jatuh kalau naik motor, orang lemes gini."
"Aku tidak apa apa." Melihat mobil Fasya yang mulai bergerak, Yulia buru buru menyuruh Imam segera bersiap siap. Keduanya lalu naik keatas motor dan lanjut menguntit Fasya.
Sepanjang perjalanan, kepala Yulia seperti mau pecah karena memikirkan Fasya. Apakah benar menantunya itu saat ini tengah berbadan dua? Dan jika itu benar, itu artinya Fasya selingkuh. Anak siapa yang dia kandung? Yulia sibuk dengan pertanyaan yang begitu banyak dikepalanya.
Air mata Yulia menetes. Sabda memang memiliki kekurangan, tapi itu bukan alasan Fasya bisa selingkuh. Baru beberapa hari ini Sabda jujur jika dia mandul. Tapi Fasya sudah hamil. Itu artinya, Fasya sudah lebih dulu selingkuh sebelum tahu kekurangan Sabda.
Dia memperhatikan mobil Fasya. Mobil itu lalu berbelok kesebuah apartemen. Dia tak mungkin ikut masuk untuk menguntit karena satpam pasti menyuruhnya membuka helm saat masuk. Lalu bagaimana caranya dia tahu Fasya hendak bertemu siapa? Fasya juga mengenal Imam, jadi percuma jika menyuruh Imam menguntit.
Yulia teringat pria yang dia pergoki dirumah sakit bersama Fasya. Jangan-jangan, pria itulah selingkuhan Fasya.
Setelah cukup lama diatas motor, Yulia akhirnya turun lalu masuk keapartemen. Dia tak melihat Fasya, entah keunit nomor berapa menantunya itu masuk. Kalau bertanya pada resepsionis, dia yak yakin akan dapat jawaban. Akhirnya, dia memilih menghampiri seorang satpam yang bertugas. Yulia mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan foto Fasya.
"Apa wanita ini sering kesini?" tanya Yulia.
"Maaf Bu. Untuk kenyamanan penghuni apartemen, kami tidak bisa memberikan informasi apapun yang bersifat pribadi."
Yulia tak habis akal. Melihat situasi lumayan sepi, dia mengeluarkan uang dari dalam tasnya lalu diam diam memberikan pada satpam tersebut.
"Jadi gimana, apa dia sering datang kesini?"
"Beberapa kali saya melihatnya Bu." Kekuatan uang bisa membuat satpam itu bicara.
"Siapa yang dia temui?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu kalau untuk itu."
"Saya bisa memberikanmu uang lebih banyak lagi jika kamu bisa mencari tahu siapa yang dia temui disini." Yulia mengeluarkan kartu nama lalu meyerahkan pada satpam tersebut. "Hubungi saya dinomor itu." Yulia lalu pergi meninggalkan apartemen.