
Sabda melajukan mobilnya cepat menuju tempat yang tadi disebutkan Felix. Kepalanya terasa mau pecah. Bisa dibilang, tubuh dan pikirannya sama, yaitu lelah, tapi masih ada hal penting yang harus dia lakukan saat ini juga, yaitu mencari Nuri.
Sesampainya ditempat tersebut, Sabda melihat mobil Felix. Turun tergesa dari mobilnya lalu mengetuk kaca mobil asisten pribadinya itu.
Felix langsung keluar dari mobilnya begitu melihat Sabda.
"Dimana dia?" tanya Sabda.
"Taksi online yang dia tumpangi menurunkannya disini. Kemungkinan dia masuk kedalam gang itu Pak." Felix menunjuk sebuah gang yang tak jauh dari sana. Gang itu tak terlalu besar, tak memungkinkan mobil masuk kesana.
Tak mau membuang waktu lebih lama, Sabda dan Felix langsung masuk kedalam gang. Meninggalkan mobil mereka ditepi jalan.
"Saya rasa susah untuk menemukannya disini Pak. Kita tak tahu dia kerumah siapa?"
"Susah?" Sabda menatap Felix tajam. "Hanya untuk menemukan seorang wanita kau bilang susah? Sepertinya percuma aku menggajimu." Lelah membuat Sabda sangat sensitif. Salah bicara sedikit bisa membuatnya langsung naik darah.
"Ma, maaf Pak."
Keduanya seperti orang bingung, melihat satu persatu rumah yang mereka lewati tanpa melakukan apa-apa. Hingga mata Felix berbinar saat melihat ada cctv jalan disekitar sana.
"Kita bisa mengecek melalui cctv Pak." Felix menunjuk kearah cctv.
Sabda mengangguk. Felix lalu bertanya pada warga dimana mereka bisa mengecek cctv. Tak mudah untuk meyakinkan warga mengingat mereka bukan orang sini. Tapi setelah menunjukkan identitas dan memberi sedikit uang, akhirnya mereka diizinkan untuk melihat cctv.
Sabda melihat rekaman cctv tepat dijam dimana supir taksi menurunkan Nuri di depan gang. Sabda bernafas lega saat melihat Nuri dilayar. Setidaknya, sudah ada titik terang keberadaan Nuri.
"Terimakasih." Sabda pamit lalu menuju tempat kos kosan yang kemarin dimasuki Nuri. Dengan berbekal foto Nuri, dia bertanya pada satpam penjaga kos.
"Semalam temannya minta izin pada saya kalau wanita bernama Nuri mau menginap disini."
__ADS_1
"Jadi benar dia ada disini sekarang Pak?"
"Waduh, kalau sekarang, saya tidak tahu. Saya baru tukar shift, jadi tak tahu tadi siang dia sudah pergi atau belum. Lebih baik Bapak tanyakan pada temanya yang tinggal di kamar no 12."
"Terimakasih Pak," ucap Felix. Sementara Sabda, dia sudah berjalan cepat demi mencari kamar nomor 12. Dengan tak sabaran, dia langsung mengetuk kamar tersebut. Terdengar sahutan seorang wanita dari dalam. Dan tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam.
"Dimana Nuri?"
Tak pelak Lula yang mendapatkan pertanyaan to the point menjadi bingung. Apalagi dia tak mengenal pria yang ada didepannya itu.
"Dimana Nuri?" Sabda kembali bertanya karena Lula hanya diam. "Bukankah semalam dia menginap disini?" Kesal dengan Lula yang hanya diam mematung, Sabda menyerobot masuk kedalam kamar gadis itu.
"M, maaf." Sabda yang masuk, tapi Felix yang merasa tak enak hati.
"Nuri, Nuri," Meksi kamar itu hanya berujuran 4×5 meter, Sabda berteriak teriak seolah berada dihutan.
"Dimana dia?"
"Dia...." Lula ragu untuk mengatakan. Nuri tak mau menghubungi suaminya. Itu artinya, Nuri tak mau suaminya tahu dia dimana.
Sabda geram sekali dengan Lula yang tak segera menjawab pertanyaannya. Gadis itu seperti mau menyembunyikan keberadaan Nuri.
"DIMANA!"
"Di terminal." Jawab Lula reflek kerena kaget Sabda membentaknya. Dia lalu menutup mulut. Merutuki dirinya sendiri kenapa bisa sampai keceplosan.
"Terimakasih." Sabda lalu keluar dari kamar Lula diikuti oleh Felix. Mereka berdua mengambil mobil yang terparkir ditepi jalan lalu menuju terminal. Feeling Sabda mengatakan jika Nuri akan pulang kampung.
Sabda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak mau sampai kehilangan jejak Nuri. Kalau Nuri memang pulang kampung, dia bisa mencari disana. Tapi jika Nuri sampai pergi ketempat lain, dia bisa saja kehilangan jejaknya.
__ADS_1
Mobil Felix mengekor dibelakang mobil Sabda. Berkali kali dia hampir kehilangan jejaknya karena Sabda mengemudi dengan kecapatan tinggi. Dia khawatir dengan dengan kondisi bosnya tersebut. Dia baru pulang dari Jepang beberapa jam lalu. Tapi sekarang, pria itu malah mengemudi gila gilaan.
Sabda berkali kali menekan klakson, berharap kendaraan didepannya minggir.
"Jangan pergi dulu Nuri, tunggu aku."
Mengabaikan rasa pusing dan kantuk, Sabda terus menekan gas. Hingga tiba-tiba, dia kehilangan kendali. Hampir saja dia menabrak mobil didepannya jika tidak membanting setir kearah kiri.
BRAKKK
Mobil yang dikemudikan Sabda menabrak pohon yang ada dipingging jalan.
"Pak Sabda." Felix langsung menepikan mobilnya. Beberapa orang langsung datang untuk menolong Sabda. Membawa pria yang sedang terluka itu keluar dari mobil. Darah segar terlihat keluar dari beberapa bagian tubuh Sabda.
"Masukkan kemobil saya, biar saya bawa kerumah sakit," titah Felix pada orang yang membopong Sabda.
"Tidak." Sabda yang masih dalam kondisi sadar langsung menggeleng. "Cari Nuri. Temukan dia Felix."
"Tapi Bapak terluka."
"Aku takut terjadi sesuatu pada Nuri. Cepat susul dia ke terminal. Temukan dia Felix, pergilah."
Felik tak bisa menolak lagi. Dia tahu Sabda sangat keras kepala. Membantah hanya akan membuat pria itu murka.
"Tolong panggil ambulan dan antar bos saya kerumah sakit." Pinta Felix pada pria yang sedang memegangi tubuh Sabda.
"Biar saya antar pakai mobil saya saja," seseorang yang ada disana menyahuti.
"Terimakasih Pak." Felix menepuk bahu pria itu lalu pergi. Menyusul Nuri ke terminal.
__ADS_1