
Sabda menatap rumah Nuri. Hatinya terenyuh melihat rumah yang bisa dikatakan tak layak huni tersebut. Bagian atapnya yang tanpa plafon memperlihatkan kondisi kayu yang sudah lapuk. Belum lagi lantai yang dikeramik dengan aneka macam warna dan motif. Mungkin keramik sisa atau apa, Sabda juga tidak tahu. Bagian temboknya sudah terlihat rengat rengat. Dan yang paling membuatnya mengelus dada, ukurannya sangat kecil.
"Ayo Kak masuk."
Sabda mengangguk, berjalan dibelakang Nuri hingga memasuki ruang tamu yang sempit.
"Si, silakan duduk." Nuri bingung sendiri. Keadaan rumahnya sangat mengenaskan. Jangankan sofa, yang ada hanya kursi rotan jaman dulu peninggalan alm. kakeknya.
Bu Titin dan Hilma yang baru nongol dari dalam terkejut melihat ada tamu. Terutama Bu Titin, dia masih bisa mengingat wajah menantunya meski hanya bertemu sekali.
Begitupun Sabda, dia masih ingat wajah ibu Nuri yang hari itu datang kepernikahannya. Dia berdiri lalu menyalami ibu mertua. Diikuti Felix, dia melakukan sama seperti yang Sabda lakukan.
"Om itu siapa Bu?" tanya Hilma sambil sedikit bersembunyi dibalik badan ibunya.
"Suaminya Teteh." Hilma langsung melongo. Dia tak menyangka jika suami tetehnya berpenampilan layaknya orang orang yang sering dia lihat di tv. "Salim dulu," titah Bu Titin.
Hilma salim pada Sabda dan Felix. Sambil bertanya tanya dalam hati, yang mana suami tetehnya.
"Hilma, kebelakang gih, buatin Aa minum," titah Bu Titin.
"Emmm..." Hilma malah garuk garuk sambil tersenyum. "Suaminya Teteh yang mana satu?" Dia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya terlalu lama.
"Saya suaminya teteh." Sahut Sabda sambil tersenyum kearah Nuri.
Senyuman Hilma makin melebar. Pipinya bersemu merah sambil mesam mesem menatap Sabda.
"Hilma, kenapa?" tanya Nuri yang heran dengan gelagat aneh adiknya.
Hilma berjinjit, mendekatkan mulutnya ke telinga Nuri. "Suami Teteh ganteng banget, kayak pangeran berkuda."
Sabda yang mendengar langsung tersedak udara. Sedangkan Felix, dia menutup mulutnya menahan tawa.
"Hilma, buruan kedapur." Bu Titin geleng geleng melihat kelakuan bungsunya yang sudah tahu orang ganteng meski usianya baru 8 tahun.
"I, iya Bu." Dengan berat hati, Hilma meninggalkan ruang tamu. Tapi sebelum benar benar pergi, dia menoleh sebentar pada Sabda lalu tersenyum.
Setelah kepergian Hilma, suasana mendadak menjadi canggung. Terutama untuk Sabda. Dia bahkan bingung mau bicara apa. Ditambah lagi, ekspresi wajah Bu Titin terlihat tak ramah sama sekali.
"Kamu kesini bukan untuk membawa Nuri pergikan?"
__ADS_1
Nuri langsung menoleh kearah ibunya. Tak menyangka ibunya akan langsung bertanya seperti itu tanpa didahului basa basi. Padahal selama dirumah, Nuri tak pernah cerita apapun yang menimpanya dirumah Sabda. Dia hanya bilang jika tak betah tinggal disana.
"Nuri tak betah dirumah kamu. Meski dia tak bilang alasannya. Ibu bisa melihat jika dia tertekan. Dia sedang hamil. Kondisinya harus sangat dijaga. Meski anak itu bukan anak kamu, tadi dia keponakan kamu." Meski suara Bu Titin sangat lembut, tapi ada penekanan disetiap kalimatnya.
"Bu." Nuri menyentuh lengan ibunya sambil menoleh menatapnya.
"Kami berterimakasih karena kamu bersedia menutupi aib Nuri dengan menikahinya. Tapi kami tak rela jika dia tak bahagia. Nuri masih punya orang tua, dan kami masih bisa mengurusnya jika kamu tak mau."
Sabda merasa malu sekali. Ya, dia memang kaya dan punya segalanya. Tapi dia akui, dia tak bisa merawat Nuri dan bayinya dengan baik, terbukti Nuri sampai tak betah dirumah mewahnya. Dan yang paling parah, Nuri hampir celaka.
"Maafkan saya."
Felix yang merasa tak pantas ada ditengah tengah problem rumah tangga bosnya, minta izin keluar. Mungkin lebih baik dia berada diluar saja, merokok sambil main ponsel.
"Saya kesini untuk menjenguk Nuri. Untuk masalah dia mau ikut bersama saya atau tidak, saya kembalikan pada dia. Saya tak mau memaksanya." Sabda menatap Nuri yang sejak tadi hanya menunduk.
"Bagus kalau seperti itu." Bu Titin merasa lega. Saat melihat Sabda datang tadi, dia sudah merasa cemas, takut Nuri akan dibawa pergi dengan paksa.
Hilma yang selesai membuat teh langsung membawa kedepan dan meletakkan diatas meja.
"Yang satu lagi bawa ke teras Hil," titah Nuri.
"A, itu mobilnya Aa?" teriak Hilma.
"Iya, itu mobilnya Aa kamu," sahut Felix yang merasa telinganya sakit gegara suara cempreng bocah itu.
Hilma meletakkan teh milik Felix diatas meja dengan tergesa gesa lalu masuk.
"A, nanti boleh gak, aku diajak jalan jalan pakai mobil Aa?"
"Hilma," desis Nuri.
"Iya, boleh," sahut Sabda.
"Tapi Kak," Nuri merasa segan.
"Tidak masalah. Nanti kita jalan jalan. Aa juga kepengan tahu daerah sini ada apa saja."
Hilma terlihat sangat girang. Matanya berbinar, tak sabar ingin segera jalan jalan dengan mobil mewah tersebut.
__ADS_1
"Aa, pasti orang kaya?" tebak Hilma. "Pantesan Teteh duitnya banyak. Kemarin aja, aku dibeliin sepatu dan tas di mall."
Nuri seketika menatap Sabda. Takut pria itu marah karena menggunakan uanganya untuk hal hal yang kurang penting. "Maaf, aku gunain uang Kakak."
"Itu uang kamu," sahut Sabda sambil tersenyum. "Jadi bebas mau kamu pakai apapun."
Bu Titin lalu mengajak Hilma masuk kedalam. Dia tahu jika saat ini Nuri dan Sabda butuh waktu untuk berdua.
Begitu keduanya pergi, Sabda beranjak dari duduknya lalu pindah kekursi panjang yang diduduki Nuri.
"Maaf aku baru datang," ujar Sabda.
"Tidak masalah, aku yang memilih pergi." Jawab Nuri datar.
"Kamu tidak suka aku datang?"
"Bukan tidak suka, tapi aku tak ingin kembali kerumah itu." Nuri mengusap perutnya. Semakin mendekati hari persalinan, Nuri semakin berat melepas anaknya. Kalau saja perjanjian itu bisa dibatalkan, dia rela diceraikan tanpa kompensasi sedikitpun asal dia bisa beramaa anaknya.
Sabda menunduk, rasanya malu sekali jika ingat apa yang telah ibunya lakukan pada Nuri. "Aku tahu ibu sudah sangat keterlaluan, tapi aku tetap ingin minta maaf atas namanya."
Nuri hanya diam. Kesalahan Yulia amat fatal menurutnya. Dan rasanya, tak sebanding jika hanya dengan kata maaf.
"Tak perlu memaafkannya jika tidak bisa. Dan seperti yang aku katakan tadi, aku tak akan memaksamu untuk kembali kerumah." Sabda lalu menyentuh perut Nuri, mendekatkan kepalanya diperut buncit tersebut. "Hai boy, papa rindu sekali padamu. Apa kamu juga merindukan papa?"
Nuri dan Sabda sama sama terkejut saat merasakan janin itu tiba tiba menendang. Dia seolah merespon perkataan Sabda barusan.
"Dia sepertinya juga merindukan papanya," ujar Nuri.
"Maafin papa ya Nak. Papa baru jenguk kamu. Baik baik didalam sana. Papa janji akan lebih sering menjengukmu." Sabda mencium perut Nuri lalu mengangkat wajahnya. Untuk beberapa saat, dia dan Nuri saling bertatapan. Tapi Nuri cepat cepat mengalihkan pandangannya.
"Boleh aku menginap disini malam ini?"
Nuri cukup terkejut dengan ucapan Sabda barusan.
"Ta, tapi apa Kakak mau tidur dirumah seperti ini?" Nuri tak yakin Sabda mau tidur dikamarnya yang sempit dan kasurnya yang keras.
"Kalau aku mau, apa kamu mengizinkan?"
Nuri langsung mengangguk.
__ADS_1