
Suara de sahan memenuhi sebuah kamar. Meski pagi ini udara diluar dingin, namun terasa sangat panas dikamar itu. Fasya terus bergoyang diatas tubuh Ringgo. Peluh membasahi tubuh polos mereka.
"Terus sayang, kau nikmat sekali." Puji Ringgo sambil menatap wajah cantik Fasya dari bawah.
Fasya makin bersemangat mendengar pujian Ringgo. Dia terus bergerak liar karena dirasa sebentar lagi akan mencapai puncak.
Keduanya lalu mengerang bersama saat kenik matan itu datang bersamaan.
Fasya tidur disebelah Ringgo sambil mengatur nafas. Entah sudah berapa kali mereka memacu birahi sejak tadi malam.
"Apa kau mau aku buatkan sarapan?" tanya Ringgo setelah mencium kening Fasya.
Fasya mengangguk karena dia memang sangat lapar sekarang.
Sementara Ringgo kedapur untuk memasak, Fasya mengambil ponsel lalu mengaktifkannya. Fasya tersenyum melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Yulia maupun Sabda.
"Kalian pasti mencemaskanku karena tak pulang semalaman," Fasya tersenyum miring. "Aku senang kamu menghubungiku Mas. Aku harap kau sungguh-sungguh merasa bersalah atas kejadian kemarin dan memohon maaf padaku."
Fasya lalu membuka pesan yang dikirm Yulia tadi malam. Matanya membulat sempurna saat membaca pesan dari Yulia yang mengabarkan jika Sabda kecelakaan.
__ADS_1
Fasya langsung turun dari ranjang. Lari ke kamar mandi lalu membersihkan diri dengan cepat. Terpaksa dia tak keramas meski semalaman habis memadu kasih. Tak ada waktu untuk sekedar mengeringkan rambut. Dia harus segera kerumah sakit.
Saat keluar dari kamar, dia berpapasan dengan Ringgo yang sedang membawa nampan berisi makanan. Pria itu kaget melihat Fasya sudah rapi dan membawa tasnya.
"Mau kemana?"
"Aku harus segera pergi, Sabda kecelakaan." Dia berjalan cepat menuju pintu tanpa mempedulikan Ringgo yang terlihat kecewa.
Sesampainya di rumah sakit, Fasya langsung bertanya keresepsionis tempat Sabda dirawat. Setelah mendapatkan informasi, dia langsung menuju ruang rawat Sabda.
Saat membuka pintu, dia melihat Sabda yang duduk diatas brankar sambil disuapi Yulia.
"Mas." Fasya berlari menghampiri Sabda lalu memeluknya. Mendengar Sabda merintih kesakitan, dia segera melepaskan pelukannya. "Maaf, maaf, aku pasti menyentuh bagian yang luka." Fasya menangis, dikecupnya berkali kali wajah Sabda karena merasa bersalah. "Maaf aku baru datang." Dia menatap nanar wajah Sabda yang terdapat beberapa luka serta lengannya yang dipasang gips.
"Tidak Mas, aku yang salah." Fasya mencium punggung tangan Sabda berkali kali. "Harusnya sejak semalam aku ada disisimu dan merawatmu, tapi aku malah baru datang. Istri macam apa aku ini."
"Yang bersalah itu Nuri," celetuk Yulia. "Kalian bertengkar karena dia. Dan Sabda kecelakaan juga karena dia," ujarnya bersungut sungut.
Sabda membuang nafas kasar sambil menatap tajam ibunya. Kenapa wanita itu tak kunjung sadar jika semua ini gara-gara dia. Kalau saja bukan karenanya, Nuri tak akan pergi dan semua ini tak perlu terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Yulia tak suka cara Sabda menatapnya. "Yang aku katakan benarkan? Semua ini gara gara Nuri. Sejak wanita itu mengaku hamil anak Dennis dan masuk ke keluarga kita, hidup kita jadi berantakan. Bagus sekarang dia sudah pergi. Semoga dia tak hanya pergi dari hidup kita, tapi sekalian pergi dari dunia ini."
"IBU!" bentak Sabda. Rahanganya mengeras dan matanya memanas mendengar seorang ibu tega mengatakan hal seperti itu. Sabda sungguh seperti tak mengenal ibunya sendiri.
Tak hanya Yulia yang kaget, Fasya juga ikut kaget karena bentakan Sabda.
"Lihatlah, kau semakin berani pada ibu karena wanita itu."
"Mas, sabar." Fasya mencoba menenangkan.
Sabda memejamkan mata. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Mencoba untuk mengendalikan emosi. Kalau saja tak ingat jika Yulia adalah ibunya, sudah pasti dia maki habis habisan saat ini.
"Sudahlah Sabda, jangan memikirkan dia apalagi berusaha mencarinya. Fokus saja pada Fasya. Kalian bisa kembali melakukan program kehamilan."
"Ibu benar Mas. Lebih baik kita fokus pada diri kita sendiri. Lupakan Nuri dan anak dalam kandungannya. Kita usaha lagi Mas." Fasya membujuk sambil menggenggam erat tangan Sabda. Berharap suaminya bisa kembali seperti dulu sebelum kehadiran Nuri. "Aku yakin kita akan segera memiliki anak. Anak kita sendiri. Anak yang lahir dari rahimku."
Sabda menggeleng dengan mata berkaca kaca. Dadanya sesak melihat Fasya yang terlihat sangat menginginkan anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Dia merasa kasihan pada wanita itu. Mimpinya untuk memiliki anak harus terkubur karena memiliki suami yang tak sempurna seperti dia.
"Itu tidak akan mungkin terjadi," ujar Sabda lemah.
__ADS_1
Fasya yang awalnya ingin membujuk, menjadi naik darah mendengar kalimat Sabda yang seolah memvonisnya mandul. Dilepaskannya tangan Sabda sambil menatapnya tajam. "Bagaimana bisa kau bicara seperti itu. Kenapa tidak mungkin? Aku bukan wanita mandul." Ujar Fasya dengan nada tinggi dan mata memerah.
"Tapi aku yang mandul."