
Fasya mondar mandir didalam kamar dengan perasaan cemas. Dia yakin Yulia tahu sesuatu, makanya sikapnya pagi ini berubah 180 derajat. Dan jika mengingat sindirannya, sepertinya mertuanya itu tahu jika dia hamil.
Disaat bersamaan, tiba tiba perutnya terasa sangat mual. Segera dia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya diwastafel. Setelah merasa lega, dia membersihkan mulut lalu kembali duduk diatas ranjang.
"Harusnya kau tak perlu hadir," gerutunya dengan mata memanas. Berkali kali Fasya memukul perutnya karena kesal.
Sebenarnya menjadi ibu adalah mimpinya. Tapi menjadi ibu juga, akan menghancurkan masa depannya. Banyak orang bergantung hidup padanya, jika sampai Sabda menceraikannya, dia tak tahu harus bagaimana lagi.
Fasya menangis sesenggukan, meratapi nasibnya yang seperti ada diujung tanduk. Kenapa hidupnya jadi kacau begini?
"Semua ini karena Nuri. Kalau saja dia tak hadir dalam hidupku dan Sabda, aku tak akan seperti ini." Fasya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tok tok tok
Segera dia menyeka air mata. Bangkit lalu membuka pintu.
"Ini wedang jahenya, Nyonya." Bi Diah berdiri didepan pintu dengan membawa segelas wadang jahe panas. Wanita paruh baya itu melihat sekilas wajah Fasya yang sembab.
Fasya mengambil gelas berisi wedang jahe dari tangan Bi Diah lalu kembali menutup pintu.
Dengan langkah lunglai, Fasya berjalan menuju sofa. Duduk disana sambil menyeruput jahe panas untuk meredakan rasa mual. Setelah dirasa cukup, dia meletakkan gelas tersebut lalu memijit mijit kepalanya yang terasa pusing.
"Aku harus segera bertindak sebelum Mas Sabda tahu kalau aku hamil," Fasya bermonolog. "Jika aku bilang ini keajaiban, kemungkinan dia tak akan percaya begitu saja, dia bukan orang bodoh. Dan jika dia menginginkan tes dna, saat itulah aku akan hancur. Tidak, aku tak boleh mempertahankan janin ini. Satu satunya cara hanyalah menggugurkannya."
Fasya segera mandi dan bersiap siap. Dia akan menemui temannya yang sudah pernah melakukan aborsi. Dia akan melakukan apapun untuk menghilangkan janin diperutnya.
Fasya menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Dia tak sabar ingin bertemu temannya. Tapi saat menapaki tangga terakhir, dia malah melihat Sabda yang baru pulang.
Jantung Fasya berdebar kencang. Kedua tangannya meremat ujung gaun. Sabda sudah pulang, dia takut jika Yulia akan mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Sabda mengerutkan kening saat melihat Fasya mematung tak jauh darinya. Biasanya, istrinya itu akan berlari girang menyambut kedatangannya jika baru pulang dari luar kota. Tapi saat ini, kenapa wanita itu malah bergeming dan wajahnya terlihat pias?⁰
"Sayang, mau kemana?" Sabda memperhatikan Fasya yang sudah rapi dan membawa tas.
Fasya langsung tersadar dari lamunannya. Segera dia menghampiri Sabda lalu memeluknya. "Aku merindukanmu Mas." Ucapnya dengan nada bicara yang dia buat semanja mungkin untuk menyembunyikan kegelisahannya. Dia mengecup sekilas bibir Sabda meski disamping Sabda sedang ada Felix. Sampai sampai, Felix memalingkan wajah karena malu sendiri.
"Mau pergi kemana?" Sabda kembali bertanya.
"Emmm..cuma mau ketemu teman. Gak papakan?"
Sabda mengangguk sambil tersenyum. "Pergilah, tapi jangan lama lama. Aku sepertinya tak ke kantor hari ini."
"Baiklah, aku akan segera pulang." Fasya mengecup pipi Sabda lalu pergi.
"Kita langsung keruang kerjaku. Aku ingin segera memastikan apakah sertifikat itu masih ada atau tidak."
Deg
Tubuh Fasya gemetaran, dia yakin yang dibicarakan Sabda pada Felix adalah sertifikat yang dulu dia curi.
Sabda dan Felix langsung menuju ruangan kerja Sabda. Dengan sangat tak sabar, Sabda membuka brankas tempat dia menyimpan barang barang berharga. Setelah cukup lama mencari, dia mengumpat karena tak berhasil menemukan sertifikat yang dia cari.
"Kenapa bisa tidak ada," gerutunya sambil terus mencari.
"Apakah Bapak yakin?"
Sabda membuang nafas kasar lalu mengangguk. Benda itu tak punya kaki, jadi tak mungkin hilang dengan sendirinya. "Pasti ada yang mencurinya."
"Curi? Apa ada orang lain yang tahu kode brankas selain Bapak?"
__ADS_1
"Fa_"
"Pasti Nuri yang telah mencurinya." Fasya tiba tiba masuk dan mengatakan itu. Dia tak jadi pergi karena perasaannya tak tenang. "Dia dan Tutik yang biasa membersihkan tempat ini, pasti dia yang mencurinya. Tidak mungkin Tutik, dia tak seberani itu."
Sabda dan Felix, kedua orang itu langsung menatap Fasya.
"Tidak mungkin, Nuri tak tahu kode brankas," sahut Sabda. Dia sangat yakin jika bukan Nuri pelakunya. Nuri bisa memanfaatkan anaknya untuk meminta apapun padanya jika dia mau. Untuk apa repot repot mencuri sertifikat, pikir Sabda.
"Bisa saja dia mencoba berkali kali hingga berhasil menemukan kode yang tepat." Fasya masih berusaha menjadikan Nuri kambing hitam. "Buktinya dia pergi dari rumah ini tanpa perlawanan. Itu pasti karena dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Dia pernah kuliah, dia pasti juga punya banyak teman yang pintar. Jangan hanya karena wajah innocentnya, kalian langsung menganggapnya orang baik. Aku yakin, Nuri yang sudah mencurinya."
Plok plok plok
Suara tepukan tangan dari arah pintu membuat tiga orang yang ada didalam langsung menoleh.
"Wow, hebat. Kau harusnya mendapatkan piala oscar sebagai aktris terbaik karena aktingmu," ujar Yulia yang ada diambang pintu. Pintu ruangan itu memang masih terbuka sejak Fasya masuk tadi.
"A, apa maksud Ibu?" Fasya mulai gemetaran.
Yulia mendekati Fasya sambil menatapnya nyalang. "Kau yang telah mencurinyakan?"
"Astaga," Fasya seketika tergelak. "Apa Ibu sedang mengigau. Untuk apa aku mencurinya? Bahkan uang bulanan yang diberikan Mas Sabda saja, aku tak bisa menghabiskannya." Meski saat ini sangat ketakutan, Fasya berusaha terlihat tenang.
"Kita lihat rekaman cctv saja. Aku tak mau menuduh tanpa bukti," ujar Sabda. Dia tak yakin jika Fasya yang mencuri, karena sangat tak masuk akal. Wanita itu mendapatkan uang bulanan yang banyak darinya. Selain itu, jika butuh uang, dia bisa meminta untuk apa mencuri. Dan Nuri, sudah pasti bukan dia.
Fasya tak terlalu takut, dia sudah menghapus rekaman cctv hari itu.
"Aku tidak menuduh tanpa bukti. Aku mendengar sendiri Nuri cerita pada Bi Diah kalau dia memergoki Fasya mengambil sesuatu dari ruang kerjamu."
Deg
__ADS_1
Jantung Fasya terasa mau copot mendengar itu. Jadi hari itu, Nuri memergokinya.