
Mata Sabda melotot melihat foto yang baru saja ditunjukkan oleh Felix. Bagaimana mungkin ada orang yang hendak membangun diatas tanah miliknya. Terlihat beberapa pekerja sedang membersihkan lahan. Tampak juga alat berat yang sudah ada disana.
"Apa Bapak yakin belum menjual tanah tersebut?" tanya Felix. Dia juga tak sengaja melihat pembangunan tersebut saat melewati area itu. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun tahun bekerja pada Sabda, dia tahu beberapa aset milik pria itu.
"Kau pikir aku sudah pikun hah?" Sahut Sabda dengan suara lantang. Salah sekali Felix bertanya seperti itu. Karena saat ini, Sabda sedang emosi. "Mana mungkin hal sebesar itu aku sampai lupa? Tanah itu milikku, dan sertifikatnya masih ada padaku dan aku simpan."
Felix ingin menyuruh Sabda mengecek sertifikatnya, tapi dia takut malah salah bicara lagi seperti tadi.
"Ayo kita kesana. Aku harus melihat langsung dan bertanya siapa yang menyuruh mereka membangun diatas lahanku." Sabda langsung membereskan meja kerjanya.
Keduanya lalu pergi kelokasi. Butuh beberapa jam untuk sampai disana karena lokasinya diluar kota Jakarta. Dan sesampainya disana, Sabda sungguh tercengang. Material bangunan sudah tersedia, begitupun pekerja yang terlihat sedang menggali tanah untuk pondasi.
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan kalian membangun diatas tanah saya?" Sabda berteriak didepan beberapa pekerja. Sedangkan mereka yang diteriaki malah diam dan saling melempar pandangan satu sama lain. Bingung kenapa tiba tiba ada orang tak dikenal datang dan marah marah.
"Dimana bos kalian?" tanya Felix.
"Pak." Seorang pekerja melambaikan tangan kearah seorang pria yang sedang telepon. Pria tambun yang merasa dipanggil itu langsung mendekat. "Dia Pak Heru, mandor disini," lanjut pria itu.
"Ada apa ini?" tanya Heru sambil menatap Sabda dan Felix bergantian.
"Siapa yang menyuruh anda mengerjakan proyek pembangunan disini?" tanya Sabda garang.
"Ada apa sih ini?" Pak Heru malah terlihat bingung.
"Begini Pak. Tanah ini milik Pak Sabda, bos saya," Felix menunjuk kearah Sabda. "Dia ataupun perusahaan kami tak merasa menyuruh membangun apapun disini. Jadi bagaimana anda tiba tiba membangun disini?"
Pak Heru langsung tergelak. "Jangan becanda Pak. Saya kenal pemilik tanah ini. Tanah ini milik Pak Salim, dari PT. Pratama mandiri. Jadi jangan ngaku ngaku deh."
Sabda melongo, bagaimana mungkin tanah miliknya tiba tiba berpindah hak kepemilikannya? Salim, siapa dia? Sabda merasa tak kenal seseorang bernama Salim.
"Panjang umur, itu orangnya datang." Pak Heru menunjuk kearah mobil hitam yang baru saja memasuki area pembangunan. Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya bernama Salim keluar dari mobil didampingi asistennya.
Pak Heru gegas menghampiri Pak Salim dan menceritakan tentang orang yang tiba tiba mengaku pemilik lahan.
"Saya Salim." Pak Salim mengulurkan tangan kearah Sabda.
"Sabda," sahut Sabda sambil menjabat tangan.
"Jadi anda yang bernama Sabda?"
__ADS_1
"Anda mengenal saya?" Sabda menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak." Sahut Pak Salim sambil menggeleng. "Tapi saya tahu anda. Anda adalah pemilik tanah ini sebelum saya beli. Nama anda yang tertulis disertifikat itu."
"Beli?" Sabda langsung tercengang. "Tapi saya tak penah merasa menjualnya."
Pak Salim seketika tergelak. "Jangan becanda Pak. Uang yang saya keluarkan untuk membeli tanah ini dan tanah yang ada di Bogor cukup banyak. Jadi anda jangan becanda dengan mengatakan tak pernah menjualnya."
"Bogor?" Sabda kian tercengang. Jadi tak hanya tanah ini saja, tapi tanah yang lain juga.
"Saya sudah membeli 2 bidang tanah milik Bapak. Proses jual beli didepan notaris dan ada saksi. Sertifikat juga sudah dipastikan asli. Selain itu, Pak Sabda juga sudah tanda tangan, jadi jangan main main sama saya. Saya bisa melaporkan Bapak ke pihak berwajib dengan tuduhan penipuan."
"Ta_" Felix menarik lengan Sabda saat bosnya itu hendak bicara.
"Pak, lebih baik pastikan dulu dirumah. Apakah sertifikat tanah ini masih ada atau tidak. Jika kalian berdua sama sama memiliki sertifikat, itu artinya, mungkin serfitikat milik Pak Salim palsu."
"Itu tidak mungkin." Sahut Pak Salim yang mendengar meski Felix bicara pelan.. "Notaris sudah memastikan jika sertifikat itu asli, jadi anda jangan macam macam."
"Kalau boleh tahu, siapa yang menjual tanah ini pada anda?" tanya Sabda.
"Pak Jaya."
Asisten Pak Salim mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan sebuah foto pada Sabda dan Felix.
"Saya sempat mendokumentasikan pada saat proses jual beli. Sekitar 2 bulan yang lalu. Ini yang namanya Pak Jaya. Apa benar kalian tak kenal?"
Sabda dan Felix kembali saling bertatapan. Mereka tak mengenal orang dalam foto tersebut. Lalu, bagaimana caranya pria itu mendapatkan sertifikat tanahnya?
Sabda tak punya bukti apapun saat ini. Dia menuruti kata Felix untuk pulang dan melihat sertifikat miliknya. Dia sangat yakin lahan ini masih miliknya karena merasa tak pernah menandatangani surat jual beli.
Tapi saat hendak kembali ke Jakarta, Sabda teringat kalau tempat ini dekat dengan kampung Nuri.
"Rumah Nuri tak jauh dari sinikan?" Sabda bertanya pada Felix yang hari itu mengantar Nuri pulang kampung.
"Sekitar 1 jam lagi dari sini Pak. Bapak mau mengunjungi Nuri?"
.
.
__ADS_1
Sementara dirumah, Fasya memijit mijit kepalanya yang terasa pusing. Sebelah tangannya memegangi ponsel, mencari artikel diinternet tentang ciri ciri kehamilan.
Jantung Fasya berdegup kencang. Yang tertulis disana, sama persis dengan apa yang dia baca.
"Tidak, aku tak mungkin hamil." Dengan tangan bergetar, Fasya menyentuh perutnya.
Air mata Fasya meleleh. Kalau sampai dia hamil, bisa bisa Sabda itu akan langsung menceraikannya. Karena secara otomatis, dia akan ketahuan selingkuh. Dan saat itu, dia akan benar benar menjadi orang miskin karena orang tuanya sudah bangkrut. Apalagi saat ini, dia harus menanggung biaya hidup ibunya karena ayahnya dipenjara.
"Aku harus memastikannya."
Fasya mengambil tas dan kunci mobil. Dia hendak membeli testpack untuk memastikan apakah dia hamil atau tidak. Tapi disaat bersamaan, ponselnya berdering. Ada telepon dari Ringgo. Fasya langsung mereject panggilan tersebut. Tapi tak berselang lama, ada pesan masuk dari Ringgo.
[ Angkat atau aku cerita semuanya pada suamimu ]
Fasya menghela nafas berat. Dia merasa masalahkan kian menumpuk saat ini. Dan ini semua, gara gara kebodohannya yang menyetujui ide gila Ringgo.
Saat ponselnya kembali berdering, mau tak mau, Fasya mengangkatnya.
"Hallo," ucap Fasya lemah.
"Aku tunggu di apartemen sekarang. Kalau kau tak datang, aku akan memberikan bukti perselingkuhan kita pada Sabda."
Lutut Fasya terasa lemas. Semakin hari, Ringgo semakin menekannya. Rasanya dia sungguh frustasi sekarang.
"Baiklah." Fasya tak ada pilihan lain kecuali setuju.
Dia menyimpan kembali ponsel kedalam tas lalu keluar kamar.
Yulia yang hendak melihat kondisi Fasya, terkejut mendapati menantunya itu turun dari tangga sambil menenteng tas mahalnya.
"Kau mau kemana?"
Fasya berdecak kesal. Kenapa harus bertemu Yulia segala.
"I, itu Bu. Aku mau keluar sebentar, ketemu teman."
"Bukankah kamu sedang sakit?" Yulia mengerutkan kening.
"Sudah baikan." Tak mau dicecar dengan pertanyaan lainnya, Fasya langsung meraih tangan Yulia dan menciumnya. "Aku pergi dulu Bu."
__ADS_1
Yulia menatap punggung Fasya. Sebenarnya apa yang terjadi pada menantunya itu. Yulia merasa ada yang disembunyikan oleh Fasya.