9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 72


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Ibu Mas?" tanya Fasya dengan raut khawatir.


"Ibu masih dioperasi."


Fasya duduk disebelah Sabda dan meraih tangannya. "Yang sabar Mas. Kita doakan supaya Ibu baik-baik saja."


Sabda menarik tangannya dari genggaman Fasya. "Kalau kau ingin tetap duduk disitu, menunggu sampai Ibu selesai dioperasi, silakan. Tapi aku sedang tak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Jadi tolong jangan ganggu aku." Sabda melipat kedua tangannya didada sambil memejamkan mata.


Fasya menghela nafas pasrah. Padahal dia pikir, ini adalah saat yang paling tepat untuk mengambil hati Sabda. Disaat pria itu sedang sedih, dia datang untuk meminjamkan bahu dan menjadi penyemengatnya. Tapi sepertinya dia salah, Sabda bahkan tak ingin bicara dengannya.


Tapi Fasya belum ingin menyerah. Meskipun butuh perjuangan, dia tetap akan berusaha mendapatkan kembali hati Sabda. Hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Sampai akhirnya, Fasya terfikirkan sesuatu. Dia beranjak dari kursi, berniat membelikan Sabda kopi. Mungkin satu cup kopi bisa membuat pikiran pria itu lebih tenang. Dan mungkin juga, perhatian kecilnya bisa mengetuk pintu hati Sabda.


Baru berjalan beberapa langkah, Fasya melihat kedatangan Nuri. Hal pertama yang dia lihat, adalah perutnya yang makin besar. Sudah cukup lama mereka tak bertemu. Dan sekarang, perutnya sudah terlihat seperti orang yang mau melahirkan.


Melihat ada Fasya, Nuri memelankan langkahnya. Dia bingung harus bersikap, haruskah dia menyapa Fasya? Tadi saat berangkat, tak terfikir sama sekali jika kemungkinan akan bertemu Fasya. Saat Felix menghubungi dan memberitahunya jika Yulia kecelakaan, tanpa berfikir panjang, Nuri langsung berangkat ke rumah sakit.


"Jadi kau ada di Jakarta?" Tanya Fasya yang menghadang jalan Nuri. "Jangan bilang kalau selama beberapa hari ini, kau bersama Mas Sabda?"


"Maaf Kak, aku harus menemui Kak Sabda." Nuri tak mau sampai terjadi keributan, menghindar adalah pilihan yang tepat menurutnya. Tapi saat hendak melanjutkan langkah, Fasya kembali menghalangi jalannya.


"Aku benci kamu Nuri." Fasya mengepalkan kedua telapak tangannya sambil menatap Nuri tajam. Sorot matanya sungguh menakutkan, membuat Nuri langsung mengalihkan pandangan. "Kalau saja kau tak hadir dalam kehidupanku dan Sabda, rumah tangga kami tidak akan hancur."


"Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang itu." Nuri memberanikan diri kembali menatap Fasya. "Apakah Kakak tidak melihat itu." Dia menunjuk kearah Sabda. "Ada orang yang tengah cemas, tengah ketakutan menanti kabar dari dalam sana." Kemudian beralih menunjuk ruang operasi. "Dan Ibu, dia sedang berjuang didalam sana. Bukankah lebih baik kita mendoakannya dari pada kita bertengkar?"


Fasya tersenyum getir. "Mendoakan? Tidak usah becanda Nuri. Aku tahu jika saat ini kau tengah bahagia. Kau pasti sedang karena orang yang jahat padamu, saat ini sedang sekarat."


Nuri menghela nafas sambil tersenyum pada Fasya. "Aku bukan orang yang akan bahagia diatas penderitaan orang lain."

__ADS_1


"Cih, dasar munafik," maki Fasya. "Jika kau seperti itu, kau tak akan masuk dan menjadi duri dalam rumah tanggaku. Kau itu berhati busuk." Fasya menekan dada Nuri menggunakan telunjuknya. "Kau hanya sedang bersembunyi dibalik wajah polosmu."


"Sudah berkali-kali aku bilang. Aku tak pernah menjadi orang ketiga. Dan Kak Sabda, andai saja Kakak tahu, dia selalu menjaga cintanya untuk Kakak. Tidak ada hubungan spesial diantara kami. Tapi Kakaklah yang telah pergi meninggalkannya."


"Omong kosong."


"Sudahlah Kak, aku tak ingin bertengkar denganmu." Nuri hendak menghampiri Sabda tapi lengannya ditarik secara kasar oleh Fasya.


"Aww.." Pekik Nuri saat dia hampir saja oleng. Beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Lepaskan dia."


Seruan Sabda membuta Fasya dan Nuri lagsung menoleh kearah pria itu. Melihat Fasya yang hanya diam saja, Sabda berdiri lalu menghampiri keduanya. "Lepaskan dia." Sabda mengulang lagi kalimatnya sambil menarik tangan Fasya hingga cekalannya pada lengan Nuri terlepas. "Jika kedatanganmu hanya untuk membuat kegaduhan, lebih baik pergi," ujarnya pada Fasya.


Fasya tersenyum getir. Akhirnya, ketakutannya selama ini benar benar terjadi. Sabda lebih memilih Nuri daripada dia. "Puas kamu?" tekan Fasya sambil menatap Nuri tajam. "Dasar pelakor."


Sabda membuang nafas kasar. Saat ini pikirannya sudah sangat kacau. Tapi Fasya seperti tak mengerti situasi, membuat Sabda malah ingin mengamuk.


Fasya menatap Nuri tajam dengan nafas memburu. Beberapa saat kemudian, dia lalu pergi.


Nuri mengajak Sabda kembali duduk. Digenggamnya erat tangan Sabda yang terasa dingin tersebut.


"Ibu pasti baik baik saja Kak. Lebih baik sekarang kita doakan beliau." Nuri melepaskan tangan Sabda. Keduanya sama sama mengangkat kedua telapak tangan dan berdoa dalam hati untuk Ibu Yulia.


Setelah Sabda menurunkan tangannya. Nuri menarik pelan kepala Sabda, menyandarkan dibahunya. "Ibu pasti kuat."


Tak terdengar sahutan apapun dari bibir Sabda. Pria itu sejak tadi hanya diam dengan tatapan kosong. Sebelum dokter keluar dan mengatakan jika ibunya telah melewati masa kritis, dia tidak akan pernah bisa tenang. Saat ini, hanya untuk mengeluarkan air mata saja, rasanya dia tidak sanggup.

__ADS_1


Setelah hampir 2 jam lamanya menunggu, akhirnya lampu ruangan operasi padam. Sabda langsung menegakkan kepalanya. Saat melihat dokter keluar, meski kakinya terasa tak bertulang, dia berjalan gontai menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi Ibu saya Dok?"


"Yang sabar Pak." Dokter tersebut menepuk bahu Sabda. Feeling Sabda maupun Nuri langsung tidak enak. "Maafkan kami, kami gagal menyelamatkan Ibu anda. Ibu anda sudah tiada."


Seketika itu juga, tubuh Sabda luruh kelantai. Tatapannya kosong, dia sama sekali tak bisa mengeluarkan air mata meski dadanya sesak. Satu satunya keluarganya, telah pergi untuk selamanya.


Air mata Nuri menetes. Dia tak menyangka jika umur Yulia hanya sampai disini. Padahal beberapa jam yang lalu, mereka masih berbicara lewat telepon.


"Bangun Kak." Nuri berusaha untuk menarik bahu Sabda, membantunya untuk berdiri. Dituntunnya Sabda hingga duduk kembali kebangku panjang tadi. Nuri duduk disamping Sabda. Dia sangat khawatir saat melihat Sabda yang hanya diam dengan tatapan kosong.


"Kak Sabda, jangan seperti ini." Nuri menangkup kedua pipi Sabda. Menatap Sabda yang hanya bergeming dengan tatapan kosong. "Tolong jangan diam saja seperti ini, Kak." Nuri menangis sambil mengguncang bahu Sabda. "Menangislah, tolong jangan diam saja."


Sabda menepuk nepuk dadanya. Dia terlihat seperti kesusahan bernafas.


"Aku mohon bicaralah, menangislah, jangan membuatku takut dengan diam seperti ini." Nuri menangis sambil gemetaran.


Buliran bening mulai turun dari sudut mata Sabda. Dia memeluk Nuri, meledakkan tangisnya diceruk leher wanita tersebut.


"Menangislah Kak." Nuri tak ada waktu untuk menyeka air matanya sendiri, kedua tangannya sibuk mengusap dan menepuk nepuk punggung Sabda.


"Ibu, Ibu sudah pergi Nuri. Ibu meninggalkanku." Sabda sesenggukan menyadari jika keluarganya satu satunya, telah pergi. "Kenapa semua orang disisiku pergi Nuri? Apa salahku hingga semua orang meninggalkanku? Ayah, Dennis, dan sekarang ibu. Kenapa mereka semua meninggalkanku? Kenapa tak mengajakku sekalian?"


"Jangan pernah bicara seperti itu Kak." Nuri menggeleng cepat. "Masih ada aku Kak. Kakak masih punya aku."


"Fasya juga pernah berkata seperti itu dulu. Tapi dia juga pergi Nuri. Semua orang pergi meninggalkanku."

__ADS_1


Nuri lagi lagi menggeleng. " Aku berjanji akan selalu ada disamping Kakak. Kecuali jika Kakak memintaku pergi. Masih ada aku Kak. Dan dia." Nuri melepaskan pelukan Sabda, menarik telapak tangan pria itu dan meletakkan dipurutnya.


"Masih ada dia yang butuh Kakak. Dia keluarga Kakak, dia anak Kakak. Tolong jangan putus asa seperti ini. Kakak tidak sendiri." Nuri kembali menarik Sabda kedalam pelukannya.


__ADS_2