9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 71


__ADS_3

Sabda yang sedang meeting, melihat kearah ponselnya yang bergetar. Ada panggilan masuk dari Fasya. Selain karena saat ini dia sedang meeting, dia juga malas bicara dengan wanita itu. Dia biarkan saja hingga panggilan itu berakhir.


Tapi sesaat kemudian, Fasya kembali menelepon. Sabda yang merasa terganggu, memilih mematikan ponselnya.


Fasya berdecak sebal. Padahal ada hal penting yang harus dia sampaikan, tapi Sabda malah menonaktifkan ponselnya. Baru saja, polisi datang kerumah. Mengabarkan jika Yulia mengalami kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit dalam kondisi kritis.


Semoga saja ini murni kecelakaan, bukan Ringgo yang melakukannya.


Tubuh Fasya gemetaran hebat, nafasnya terasa sesak. Melihat kemarahan Ringgo hari itu, dia takut jika ini semua ulah pria tersebut. Jika benar, dan Ringgo tertangkap, semoga saja dia tak ikut terseret dalam masalah ini.


Gagal menghubungi Sabda, Fasya menelepon Felix.


Felix yang saat itu juga sedang ada diruang meeting, melirik kearah Sabda saat ada panggilan masuk dari Fasya. Fasya dan Sabda akan segera bercerai, sepertinya tak masalah jika dia mengabaikan panggilan wanita itu.


Kling


Sebuah pesan masuk ke ponsel Felix. Matanya membulat sempurna melihat isi pesan dari Fasya. Dia langsung mendekati Sabda dan berbisik padanya.


"Ibu Yulia mengalami kecelakaan."


Bolpoin yang dipegang Sabda langsung terjatuh. Wajahnya pucat pasi dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


"Permisi," Sabda berdiri, mengambil ponsel lalu keluar ruangan dengan tergesa gesa. Felix mengambil alih tugas Sabda dan menjelaskan pada peserta meeting jika ibunda Sabda sedang mengalami kemalangan.


Sementara Nuri, dia masih duduk disalah satu bangku yang ada di Oceano cafe. Berkali kali dia melihat jam diponselnya. Sudah satu jam lebih dia menunggu, tapi mertuanya itu tak kunjung datang. Dan saat dia mencoba menghubungi, ponsel Yulia tidak aktif.


Nuri merasa gelisah. Mungkinkah Yulia hanya membohonginya? Tapi dari suaranya tadi, terdengar sangat meyakinkan. Dia memutuskan untuk menunggu 15 menit lagi, jika tak datang, dia akan kembali ke kamar hotel.


.


.


Sabda berlari menuju UGD. Takut, itulah yang dia rasakan saat ini. Dia seperti mengalami dejavu. Ya, saat ini dia seperti membawanya kembali kemasa beberapa bulan yang lalu. Saat Dennis mengalami kecelakaan dan pergi untuk selamanya.


"Anda_"


"Saya putra Ibu Yulia."


"Ibu anda sedang ditangani didalam."


Polisi kemudian mengajak Sabda duduk disebuah kursi panjang yang berada tak jauh dari UGD. Mereka menceritakan kronologi kecelakaan yang dialami Yulia. "Menurut salah satu saksi mata. Mobil yang ditumpangi Ibu Yulia dan sopirnya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil berwarna hitam. Membuat mobil yang ditumpangi ibu anda terdorong lalu masuk kejalur lain. Dan kebetulan ada truk kontainer yang lewat dari arah depan dan langsung menabaraknya. Sopir anda meninggal ditempat, dan Ibu Yulia sedang ditangani."


Ditabrak truk kontainer? Sabda langsung mengalami tremor. Pak Joko meninggal ditempat. Dan saat ini, mungkin hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan ibunya.

__ADS_1


"Mobil hitam yang menabrak Ibu Yulia kabur dari TKP. Dan sekarang, kami dari kepolisian sedang mencari tahu siapa orang yang mengendarai mobil terssebut."


Sabda tak begitu mendengarkan penjelasan dari pihak polisi. Saat ini, yang dia pikirkan hanyalah ibunya. Dia takut ibunya akan meninggalkannya seperti Dennis kala itu.


Setelah beberapa saat, seorang dokter keluar dari UGD. Sabda dan 2 orang polisi langsung menghampirinya.


"Ba, bagaimana kondisi Ibu saya Dok?" tanya Sabda.


"Ibu anda mengalami pendarahan hebat dikepala. Dan harus segera dioperasi. Kami butuh persetujuan dari pihak keluarga."


"Lakukan, lakukan apapun untuk menyelamatkan ibu saya. Saya mohon Dok, selamatkan Ibu saya." Sabda memohon sambil memegang kedua tangan dokter tersebut.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik." Dokter tersebut menarik tangannya lalu menepuk lengan Sabda sebagai bentuk dukungan.


Tak lama kemudian, seorang suster membawa surat pernyataan yang harus ditandatangi Sabda. Dan Yulia, dia langsung dipindahkan keruang operasi.


Sabda duduk dibangku panjang yang ada didepan ruang operasi. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Dadanya sesak dan tatapanya kosong. Beberapa bulan yang lalu, dia juga pernah duduk disini dengan perasaan yang hampir sama. Bedanya, saat itu dia tak sendiri, ada ibunya disisinya. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Tapi hari ini, dia sendiri. Satu satunya keluarganya sedang berjuang antara hidup dan mati didalam ruang operasi.


"Cukup Dennis saja yang pergi dengan cara seperti ini. Sabda mohon jangan pergi Bu. Hanya ibu yang Sabda punya saat ini."


Sabda melihat Fasya berjalan cepat kearahnya. Mungkin jika dulu, dia akan langsung memeluk Fasya. Menyandarkan kepala dibahu wanita itu dan menangis disana. Tapi tidak untuk sekarang. Wanita tercintanya itu telah berkhianat, dia telah pergi. Dan bahunya, bukan lagi tempat dia bersandar.

__ADS_1


__ADS_2