9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 51


__ADS_3

Ringgo langsung memeluk Fasya begitu wanita itu tiba diapartemennya. Jujur, dia sangat merindukan Fasya. Sekarang wanita itu sangat susah dihubungi, apalagi diajak bertemu.


"Lepasin." Fasya mendorong Ringgo dengan kasar. Dia sedang sangat kesal dengan pria itu. Menurutnya, semua masalah yang menimpanya saat ini, adalah gara gara Ringgo.


"Kamu itu kenapa sih Sya?" Ringgo bercedak pelan.


"Aku gak suka kamu ngancem-ngancem aku."


"Dan aku juga gak suka kamu mengabaikanku, apalagi punya niat buat mengakhiri hubungan kita." Ringgo membalas dengan kalimat penuh penekanan.


Fasya duduk di sofa. Saat ini kepalanya sangat pusing. Entah karena dia hamil atau kebanyakan pikiran. Yang pasti saat ini, hidupnya terasa kacau balau.


Ringgo duduk disebelah Fasya lalu memeluknya. Terus mencumbu meski wanita itu hanya diam tanpa mau membalas.


"Aku sangat merindukanmu sayang," ujar Ringgo dengan suara parau. Dia berusaha menyentuh bagian bagian sensitif Fasya agar wanita itu terang sang.


Bukannya terang sang, Fasya malah merasa sangat risih. Sebisa mungkin, dia menghindari cumbuan Ringgo. Dia sama sekali tak ada hasrat untuk memadu kasih. Terlalu banyak yang dia pikirkan saat ini.


"Apa benihku sudah tumbuh disini?" Ringgo mengusap lembut perut Fasya.


"Tidak." Sahut Fasya cepat sambil menyingkirkan tangan Ringgo yang ada diperutnya.


"Sya, apa kau bisa sedikit lembut." Lama lama Ringgo kesal dengan kelakukan Fasya yang dirasa sangat kasar dan menyebalkan hari ini.


"Aku sedang tak ingin bercinta." Fasya bangkit dari duduknya. "Aku sudah menurutimu untuk datang kesini. Jadi sekarang biarkan aku pulang."


Ringgo menahan tangan Fasya, dia tak akan membiarkan Fasya pergi begitu saja. Sangat susah menyuruh dia datang, tak mungkin dia akan melepaskannya.


"Lepaskan Ringgo." Fasya berusaha berontak.


Alih alih melepaskan, Ringgo malah mencium Fasya dengan kasar. Dia menahan tengkuk dan pinggang Fasya hingga wanita itu tak bisa bergerak.


Dret dret dret


Ponsel Fasya yang ada didalam tas berdering. Ringgo tak peduli, dia masih saja terus mengulum bibir Fasya.


Tak bisa melepaskan diri dari Ringgo, Fasya memukul mukul bahu pria itu agar sejenak melapaskan pagutan bibirnya.


Ringgo melepaskan pagutannya lalu berdecak kesal.

__ADS_1


"Apa kau tak dengar, ponselku berdering," geram Fasya.


Ringgo mengumpat siapapun yang menelepon Fasya karena menganggapnya pengganggu.


Fasya menatap Ringgo nyalang. Dia paling tak suka dipaksa seperti tadi. Dia mengambil ponsel yang masih berdering di dalam tas dengan tergesa gesa. Bersamaan dengan ponselnya yang keluar dari tas sempit itu, sesuatu ikut keluar dari sana. Dia hendak mengambil benda yang jatuh dilantai tapi Ringgo lebih dulu mengambilnya.


Mata Ringgo melotot melihat benda yang terjatuh itu adalah testpack. Buru buru Fasya merebut benda itu dari tangan Ringgo.


"Kau hamil Sya?"


"Ti, tidak," jawab Fasya lantang. Tapi raut wajahnya yang panik membuat Ringgo merasa jika dia berbohong.


Ponsel ditangan Fasya sempat berhenti berdering, tapi sekarang kembali lagi berderiing. Tertera nama suamiku dilayar ponsel. Tak mau membuat Sabda berfikir macam-macam, dia langsung menjawabnya.


"Hallo." Fasya meletakkan telunjuk dibibir. Memberi isyarat agar Ringgo diam.


"........"


"Tak pulang?"


"........"


"Baiklah, jaga diri baik baik."


"......"


"I love you too."


Ringgo langsung memeluk Fasya begitu panggilan telepon berakhir. Dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena telah berhasil membuat Fasya hamil.


"Aku senang karena benihku telah tumbuh dirahimmu." Dengan tawa yang lebar, Ringgo mengangkat tubuh Fasya dan membawanya berputar putar.


Fasya memejamkan mata. Kepala terasa makin pusing karena tindakan gila Ringgo. Begitu Ringgo menurunkan tubuhnya, Fasya langsung mendorongnya kasar hingga pelukan mereka terlepas.


"Jangan mimpi, aku tidak hamil."


"Tidak hamil?" Ringgo mengerutkan kening. "Lalu untuk apa kau membeli testpack kalau bukan untuk memastikan kau hamil atau tidak? Aku yakin kau sudah merasakan ciri ciri kehamilan, makanya kau beli testpack."


"I, itu bukan milikku. Itu titipan temanku. Dia menyuruhku membelikan benda itu."

__ADS_1


Ringgo seketika terkekeh. Dia bukan orang bodoh yang bisa dibohongi. Dia tahu Fasya, seperti apa wataknya. Mana mungkin dia mau repot repot membelikan testpack untuk temannya.


"Ayolah Fasya, aku bukan orang bodoh." Ujar Ringgo sambil menyeringai. "Aku heran kenapa kau gugup? Bukankah ini yang kau mau. Hamil anakku dan mengakuinya sebagai anak Sabda."


Fasya menggeleng cepat. "Aku berubah pikiran, aku tak mau hamil."


Ringgo benar benar dibuat bingung. Bukankah tujuan perselingkuhan mereka agar Fasya hamil. Lalu kenapa sekarang dia tak mau hamil? Ada apa sebenarnya?


"Sudah terlambat. Ayo kita ke rumah sakit." Ringgo menarik lengan Fasya. "Aku ingin memastikan apa kau hamil atau tidak."


Fasya menarik kasar tangannya dari cekalan Ringgo. "Tidak, aku tidak hamil dan tidak mau hamil," teriak Fasya.


"Tidak mau? Apa otakmu sudah terbalik. Bukankah kau sendiri yang bilang ingin cepat hamil?" Ringgo sungguh dibuat frustasi gara gara Fasya.


"Aku bilang aku berubah pikiran. Aku tak mau hamil. Dan jika aku sampai hamil, aku akan menggugurkannya," tekan Fasya sambil memelototi Ringgo.


"Jangan gila." Ringgo menyentak kasar lengan Fasya.


Fasya merasa tak ada gunanya disini lagi. Dia mengambil tas miliknya lalu pergi. Tapi Ringgo, pria itu menahannya. Dicekalnya kuat pergelangan Fasya sampai wanita itu merintih kesakitan.


"Aku tak akan membiarkan kau membunuh anakku."


Fasya tersenyum smirk. "Lepaskan aku, aku tak peduli denganmu." Dia terus berontak hingga tangannya sakit tapi tetap tak bisa lepas dari cekalan Ringgo.


"Ikut aku." Ringgo menarik Fasya menuju pintu keluar.


"Lepas, kau mau membawaku kemana?" teriak Fasya sambil berontak.


"Kerumah sakit. Aku harus memastikan apakah kau benar hamil atau tidak?"


Ringgo terus menarik tangan Fasya.


"Lepas Ringgo."


"Diam," bentak Ringgo. "Kalau kau tak mau kita menjadi pusat perhatian orang, lebih baik kau diam dan menurut padaku. Percuma kau berusaha melepaskan cekalanku, karena aku tak akan pernah melepaskanmu."


Fasya membuang nafas kasar. Sepertinya dia memang harus menurut daripada tangannya sakit. Selain itu, jangan sampai dia dan Ringgo jadi pusat perhatian. Bisa gawat kalua sampai ada yang mengenalinya. Sepanjang jalan menuju basement, Ringgo sama sekali tak melepaskan tangan Fasya. Dia tak mau wanita itu sampai kabur.


Tanpa kedua orang itu sadari, ada yang sedang merekam mereka.

__ADS_1


"Sepertinya hari ini hari keberuntunganku. Aku akan segera mengirimkan vidio ini pada nyonya tadi agar dapat uang yang lebih banyak." Pria itu menyeringai lebar lalu mencium ponselnya.


__ADS_2