
Sabda mengeluarkan dua kotak pizza dari dalam mobilnya. Dan tentu saja, Hilmalah orang yang paling girang diantara mereka semua.
Dalam perjalanan tadi, Sabda sengaja menyempatkan mampir beli pizza karena malu jika datang dengan tangan kosong seperti waktu itu. Keluarga Nuri menyambutnya dengan baik, jadi sudah sepantasnya dia tahu diri.
"A, boleh gak, aku bawa ke mushola pizzanya yang 1 kotak?" Hilma teringat teriakan teman temanya yang minta dibagi jika Aa nya bawa oleh oleh. Dia yakin jika teman temannya pasti rata rata tak pernah makan pizza yang iklannya sering muncul di tv tersebut. Maka dari itu, dia ingin berbagi dengan mereka.
Sabda langsung mengangguk memberi izin.
"Tapi langsung pulang setelah makan pizza sama teman teman, ini sudah malam," pesan ibunya. "Dan ingat jangan bikin kotor mushola."
"Siap Ibu." Hilma salim pada semua yang ada disana lalu ngibrit ke mushola dengan sekotak pizza. Dia bisa membayangkan betapa girangnya teman-temannya nantinya.
Nuri muncul dari dapur dengan segelas teh hangat diatas nampan. Segera dia letakkan teh tersebut dimeja depan Sabda.
"Diminum dulu Kak."
Selama menikah dengan Fasya, belum pernah istrinya itu menyambut kedatangannya dengan membuatkan minuman.
Jadi seperti ini rasanya.
Sabda tersenyum pada Nuri lalu mengambil gelas berisi teh hangat lalu menyeruputnya.
"Kemanisan gak?" tanya Nuri.
"Kamu itu gimana sih Neng. Masa udah nikah lama belum juga tahu seperti apa kesukaan suaminya," bapak sampai geleng geleng.
"Pas kok," ujar Sabda yang tak mau Nuri diomelin. Tapi memang teh buatan Nuri pas sekali dengan seleranya.
"Ya sudah, kami kedalam dulu. Kalian saja yang makan. Barusan ibu bikin nasi goreng buat Bapak. Lagian ibu sama Bapak tak biasa makan makanan seperti itu. Suka eneg kalau makan yang ada kejunya," ujar Bu Titin.
"Maklum, lidah orang kampung," sahut bapak.
"Maaf, saya tidak tahu kesukaan kalian. Gimana kalau besok, kita makan sama sama diluar, sekalian jalan jalan?" tawar Sabda.
"Ajak adik adikmu saja. Bapak sama ibu sudah males mau jalan jalan. Apalagi Bapak, udah capek kerja, maunya istirahat aja dirumah."
Kedua orang tua Nuri pamit kebelakang, tinggalah Nuri dan Sabda yang duduk dikursi ruang tamu.
"Kakak kok gak bilang kalau mau kesini?" tanya Nuri.
__ADS_1
"Gak boleh?" Sabda balik bertanya.
"Bukan, bukannya gak boleh." Sahut Nuri sambil menggeleng. "Tapikan seenggaknya kalau Kakak ngasih tahu, aku bisa siap siap."
"Dandan dulu gitu?"
Nuri langsung tergelak. "Nyiapin makanan dan minuman, bukan dandan. Lagian mau dandan seperti apapun, aku juga tetap gini gini aja. Tetap kalah cantik dari Kak Fasya."
Hanya mendengar nama Fasya saja, mood Sabda langsung turun. Dia jadi teringat lagi tentang istri yang otw jadi mantan tersebut.
"Ada apa Kak? A, aku salah ngomong ya?" Nuri melihat perubahan drastis diraut wajah Sabda.
Sabda mengambil sepotong pizza lalu menyodorkan kedepan mulut Nuri sambil tersenyum. "Makan dulu, biar anakku gak kelaparan."
Nuri merasa jika Sabda sedang berusaha mengalihkan topik. Sepertinya firasatnya benar, Sabda sedang ada masalah dengan Fasya.
Tak mau membuat Sabda menunggu lama, Nuri langsung membuka mulutnya dan menggigit ujung pizza.
"Enak gak?"
Nuri hanya menyahuti dengan anggukan kepala karena saat ini, mulutnya sedang sibuk mengunyah pizza.
Setelah pizza dimulut Nuri habis, Sabda kembali menyuapinya.
"Kakak gak mau makan?" Tanya Nuri yang sejak tadi tak melihat sekalipun Sabda makan.
"Nanti saja, kalau kamu udah kenyang. Takutnya kamu kurang."
Nuri langsung cemberut. "Kakak pikir aku raksasa atau buto ijo, yang bisa makan seloyang pizza ukuran besar?"
Sabda menahan tawa melihat wajah kesal Nuri. "Ya kan kamu hamil. Satu orang sama dengan dua orang."
"Tapi aku gak sekuat itu sampai ngehabisan satu pizza." Nuri mengambil sepotong pizza lalu menyuapkan pada Sabda. Dan dengan senang hati, pria itu menerima suapan Nuri. "Aku gak mau nanti malam Kakak kelaparan. Dirumahku gak ada stok apel yang bisa bikin Kakak kenyang. Hanya ada air putih doang dikulkas."
"Tapi ada ini." Sabda memegang tangan Nuri. "Tangan dewa yang bisa menyulap apapun jadi makanan enak."
Nuri tersipu malu mendengar pujian Sabda. Tak mau pria itu terus menatapnya dan makin berujung salting, segera dia menyuapi Sabda kembali.
.
__ADS_1
.
Malam ini, untuk kedua kalinya, Nuri dan Sabda tidur bersama dalam satu kamar. Suasana sudah tak secanggung malam itu. Ditambah lagi ukuran kasur yang sedikit lebih besar, membuat ruang gerak mereka lebih leluasa dari pada dulu.
"Kok masih bengkak?" tanya Sabda saat melihat kaki Nuri.
"Kata Ibu, nanti kalau udah lahiran, bakalan kempes sendiri."
"Aku pijitin ya." Sabda hendak bangun tapi Nuri menahan lengannya.
"Gak usah, Kakak pasti capek setelah perjalanan jauh. Oh iya, apa tidak apa apa Kakak kesini lagi?"
"Maksudnya?" Sabda kurang paham.
"Apa Kak Fasya tak keberatan jika Kakak kembali menginap disini?" Nuri sangat tahu diri. Dia paham dengan posisinya yang hanya dinikahi diatas perjanjian, bukan benar benar menjadi istri kedua. Jadi dia tak bisa menuntut untuk diperlakukan adil selayaknya dipoligami.
"Jangan bahas dia," sahut Sabda dengan nada sedikit kesal.
"Kakak sedang ada masalah dengan Kak Fasya?" tanya Nuri sambil menoleh keara Sabda.
"Nuri," desis Sabda sambil menatap Nuri tajam. "Aku bilang jangan bahas soal dia." Saat ini, Sabda hanya ingin menenangkan pikiran.
"Maaf."
"Sudahlah, ayo kita tidur." Sabda membenarkan posisi selimut mereka lalu memejamkan mata. Tapi setelah cukup lama berusaha untuk tidur, Nuri tak kunjung juga bisa tidur. Dan dia juga merasa jika Sabda hanya memejamkan mata saja, tapi belum tidur.
"Masalah akan terasa ringan jika kita membaginya. Aku siap menjadi seorang pendengar. Dan aku jika Kakak merasa sesak, menangislah, aku akan pura pura tak mendengar ataupun melihat."
Sabda memang belum tidur, tapi dia tak menanggapi perkataan Nuri. Lebih memilih tetap diam dan pura pura tidur. Tapi lama lama, bukannya tertidur, dia malah merasa dadanya sangat sesak.
Nuri yang hampir saja tertidur, terkejut saat Sabda tiba tiba memeluknya. Menyorokkan wajah diceruk lehernya dan menangis disana. Seperti yang dia bilang tadi, Nuri hanya diam. Dia biarkan Sabda menghilangkan sesak didadanya. Bukan mudah bagi seorang laki laki untuk menangis, apalagi didepan orang. Ego laki laki terlalu tinggi, terlalu gengsi untuk terlihat lemah, apalagi didepan wanita.
"Kenapa dia setega itu padaku Nuri, kenapa?" Ujar Sabda sambil sesenggukan. "Bukankah yang dicari wanita adalah kenyamanan? Aku sudah memberikan itu. Aku perlakukan dia seperti ratu. Bahkan bicara dengan nada tinggi saja aku tidak pernah. Aku ingin menjadi rumahnya Nuri, menjadi tempat ternyamannya untuk pulang. Tapi aku gagal, dia pulang kerumah yang lain, dia berpaling ke hati yang lain. Dan dia bilang, dia mencintaiku, cinta seperti apa itu? Cinta tidak menyakiti Nuri, itu bukan cinta."
Nuri sebenarnya ingin menyahuti, tapi dia tahan sampai Sabda benar benar plong mengungkapkan isi hatinya.
"Aku selalu berusaha untuk memahaminya, selalu ada untuknya, tapi semua itu rupanya belum cukup baginya."
"Itu karena dia tak pernah bersyukur." Nuri tak tahan untuk tak bersuara. Saat ini, dadanya juga terasa sakit. Dia seperti ikut merasakan apa yang dirasakan Sabda. "Dia tak bersyukur telah memiliki pria luar biasa seperti Kakak. Menangislah, keluarkan semua sesak didada Kakak. Tapi hanya malam ini, karena dia tak pantas untuk ditangisi. Ingat, jangan kembali pada pelukan yang pernah membuatmu hangat, tapi ternyata paling membuat dadamu sesak. Melupakan memang tidak mudah, tapi pasti bisa."
__ADS_1