
Dengan perasaan hancur, Sabda keluar dari UGD. Disana masih ada Felix yang menunggunya. Hari ini, untuk kedua kalinya, Felix melihat Sabda yang terlihat rapuh. Dulu, dia juga pernah melihat Sabda seperti ini, tepatnya saat kematian Dennis.
Felix mengekor dibelakang Sabda, keduanya berjalan meninggalkan rumah sakit. Tak ada obrolan apapun meski bibir Felix sudah sangat gatal untuk menyampaikan sesuatu. Hingga sesampainya dimobil, Felix menunjukkan sebuah video yang ada diponselnya.
"Bu Yulia yang mengirimi saya video itu."
Sabda melihat video dimana Fasya sedang bergandengan tangan dengan seorang pria. Sabda memejamkan matanya, dadanya terasa sangat sakit. Bayangan Fasya tengah bercinta dengan pria itu menari nari dikepalanya. Pria divideo itu tak terlihat lebih baik darinya, lalu kenapa Fasya sampai berselingkuh? Benarkah alasanya karena anak? Tapi apapun alasanya, Sabda tak bisa menerima perselingkuhan.
"Coba Bapak perhatikan pria itu. Sekilas pria itu mirip dengan pria yang ada difoto bersama Pak Salim. Kalau saya tak salah ingat, pria itu yang bernama Jaya, orang yang mengurusi jual beli tanah Bapak.
Sabda memperbesar gambar dilayar ponsel. Memperhatikan dengan jelas wajah pria yang bersama Fasya. Ya, sepertinya memang benar, dia pria bernama Jaya yang menjual tanahnya. Itu artinya, Fasya yang telah mencuri surat tanah dan meminta selingkuhannya untuk menjualnya.
Dengan telapak tangan terkepal, Sabda memukul jok mobil. Kenapa dia seperti tak mengenal Fasya lagi. Uang bulanan yang dia berikan sangat banyak. Bahkan mungkin wanita lain bisa menggunakan uang bulanan itu untuk 1 tahun. Lalu kenapa Fasya masih mencuri? Untuk apa uang itu?
"Kenapa kau melakukan ini Fasya?" gumam Sabda sambil memejamkan kedua matanya. "Selidiki tentang pria bernama Jaya itu," ujarnya.
"Baik Pak." Sahut Felix sambil mengangguk. "Apa kasus ini perlu dilaporkan ke pihak berwajib?"
"Tidak perlu. Nama baikku dipertaruhkan disini. Apa kata dunia jika seorang istri mencuri harta suami? Semua orang pasti akan bilang karena si suami pelit. Tak bisa mencukupi kebutuhan istrinya hingga sang istri mencuri. Didalam hartaku, ada juga hak Fasya. Sudahlah, urusan tanah, tak usah diperpanjang lagi. Saat ini, aku hanya ingin tahu, pria seperti apa Jaya itu. Dan kalau bisa, selidiki tentang keluarga Fasya yang ada di Singapura. Aku merasa ada yang tidak beres dengan keluarga mereka."
Sesampainya dirumah, Yulia yang sedang ada diruang keluarga langsung menghampiri putranya. Meski tak bicara, dari raut wajahnya, dia tahu jika putranya sedang tak baik baik saja saat ini. Yulia sudah tahu dari Felix jika Fasya keguguran.
"Kamu sekarang percayakan dengan yang ibu bilang? Ibu tak mungkin membohongimu."
Sabda yang lelah, hanya menyahuti dengan anggukan kepala.
"Lalu bagaimana, apa_"
"Aku ingin sendiri Bu." Kalimat Sabda membuat Yulia tak melanjutkan kata-katanya. Dia membiarkan Sabda pergi. Berjalan dengan langkah gontai menaiki anak tangga. Yulia menyeka air matanya. Dia tak mengira jika Sabda akan mengalami nasib seperti ini.
Sabda memasuki kamarnya dengan perasaan sesak. Setelah tadi dia tahan didepan Felix dan ibunya, sekarang dia tumpahkan air mata yang sejak tadi memaksa untuk keluar.
Saat dia menatap kearah ranjang. Bayangan Fasya kembali menari dikepalanya.
"Selamat malam suamiku." Fasya mengecup bibir nya sekilas. "Awas kalau saat aku bangun besok pagi, kamu sudah pergi. Pokoknya aku mau, saat hendak menutup mata, dan saat aku membuka mata, kamu yang pertama aku lihat."
Sabda mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Menyandarkan punggung sambil memejamkan mata.
Cup.
Sabda membuka matanya saat merasakan ada yang mengecup pipinya. Saat dia menoleh, dia seperti melihat Fasya sedang ada disebelahnya dengan bibir mengerucut kedepan.
"Kenapa baru pulang? Kau tahu, sepanjang hari aku merindukanmu, tapi kau baru pulang sekarang. Dasar jahat."
Sabda membuang nafas berat. Ya, setiap bagian kamar ini, mengingatkan dia pada Fasya. Dia beranjak dari sofa. Berjalan menuju kamar mandi untuk mengguyur kepalanya agar lebih dingin.
__ADS_1
Dan seperti tadi, dalam kamar mandipun, dia masih dihantui kenangan tentang Fasya.
"Sini, biar aku yang menyabunimu."
Sabda seperti melihat Fasya yang sedang berendam didalam bathtup dan melambaikan tangan kearahnya. Cepat cepat dia menggeleng, membuang bayangan Fasya yang terus mengganggunya. Melepas pakaian lalu mengguyur tubuhnya dibawah shower.
"Mas, apa kau ingin lagi?"
Fasya seperti sedang memeluknya dari belakang.
Arrrghh
Sabda berteriak kencang lalu mematikan shower. Mengenakan handuk lalu menatap pantulan wajahnya dicermin.
"Kau sangat menyedihkan, Sabda."
Pyaarr
Sabda memukul cermin didepannya hingga pecah dan punggung tangannya berdarah.
.
.
.
Tok tok tok
"Sabda, ayo makan malam."
Tok tok tok
Yulia kembali mengetuk karena tak mendengar sahutan dari Sabda. Tetapi meski sudah berkali kali dia mengetuk, Sabda tak kunjung keluar, membuat Yulia seketik panik.
"Sabda, buka pintunya." Dia tak lagi memanggil, melainkan berteriak.
Tak sabar menunggu, Yulia menarik gagang pintu. Tapi sayangnya, pintu dalam kondisi terkunci, membuat kepanikannya makin berlipat ganda.
Ceklek, ceklek, ceklek.
"Sabda, buka pintunya Sabda."
Dengan tangan gemetaran, Yulia mengambil ponsel didalam kamarnya lalu menelepon satpam . Menyuruh mereka agar masuk kedalam.
Beberapa menit kemudian, 2 orang satpam sudah menemuinya didepan kamar Sabda.
__ADS_1
"Dobrak pintunya," titah Yulia.
"Dobrak?" Dua orang satpam itu malah saling beradu pandang.
"Kenapa malah bengong? Dobrak sekarang juga," bentak Yulia. Wanita itu sangat kalut, takut terjadi sesuatu pada Sabda. Saat ini, hanya Sabda yang dia miliki. Cukup Dennis saja yang pergi, jangan sampai Sabda juga meninggalkannya.
Brak, brak.
Beberapa kali kedua satpam itu mencoba mendobrak, tapi pintu itu terlalu kokoh untuk dibuka paksa.
"Cepetan, masa gitu aja gak bisa," bentak Yulia. Wajahnya sudah pucat pasi. Dia sangat ketakutan jika sampai Sabda kenapa-napa.
"Baik Nyonya." Meski lelah dan badannya terasa sakit, kedua satpam itu kembali mencoba mendobrak pintu.
"Ada apa ini Bu?"
Deg
Yulia langsung menoleh saat mendengar suara Sabda. Mulutnya menganga saat mendapati Sabda berdiri dibelakangnya dalam kondisi baik baik saja.
Yulia langsung memeluk Sabda. Dan saat itu juga, tangisnya pecah.
"Ada apa Bu?" Sabda jadi bingung.
"Ibu pikir kamu ada didalam. Ibu sangat takut, Sabda. Ibu takut kamu akan mengambil tindakan bodoh yang membahayakan diri sendiri."
Sabda tersenyum, melepaskan pelukan ibunya lalu menyeka air matanya.
"Aku masih bisa berfikir Bu. Lagipula, imanku tak setipis itu hingga mau mengakhiri hidup."
"Syukurlah Nak, ibu senang mendengarnya." Yulia kembali memeluk Sabda. Setelah lega menangis, Yulia melepaskan pelukannya. "Kau kemana tadi?"
"Aku tidur di kamar tamu." Terlalu banyak kenangan Fasya dikamarnya. Dan Sabda, dia memutuskan istirahat dikamar tamu, kamar yang dulu pernah dihuni Nuri.
"Ya sudah, ayo kita makan malam." Yulia melihat 2 orang satpam yang masih ada disana. Melihat mereka yang tampak kelelahan, dia kasihan juga. "Kalian berdua, ayo ikut kami makan bersama."
Kedua orang itu langsung melongo. Apa mereka tak salah dengar. Bertahun tahun kerja disini, belum pernah mereka diajak makan bersama.
"Kenapa bengong, tidak mau?" tanya Yulia.
Mereka lalu menatap Sabda. Takut jika tuannya itu tak mengizinkan.
"Ayo, saya juga tidak keberatan."
Mereka lalu turun kebawah menuju meja makan. Tak hanya kedua satpam tersebut, Yulia juga mengajak tukang kebun serta Bi Diah makan bersama dimeja makan. Bukankah kata orang, makanan lebih nikmat jika disantap bersama sama. Yulia ingin Sabda memiliki selera makan malam ini. Dan tujuannya yang lain adalah agar ada yang menempati kursi Fasya. Jangan sampai kursi itu kosong dan mengingatkan Sabda pada wanita itu.
__ADS_1