9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 45


__ADS_3

Sabda tersenyum melihat foto yang dikirim oleh Dio, orang suruhan yang dia tugaskan untuk mengawasi Nuri. Terlihat Nuri sedang berada disebuah mall bersama keluarganya. Wanita itu tersenyum, dia terlihat bahagia, melebihi saat berada dirumahnya. Sabda mengusap perut Nuri yang terlihat makin besar dilayar ponselnya. Perkiraan, sebulan lagi, dia akan melahirkan.


Tahu jika Nuri akan belanja, Sabda mentransfer uang kerekening yang dipegang Nuri. Mungkin hanya dengan cara itu dia menunjukkan perhatiannya.


"Bersenang senanglah. Maaf, aku belum bisa menjengukmu." Jujur Sabda merindukan anak diperut Nuri. Tapi kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk berkendara keluar kota.


Ceklek


Sabda menoleh kearah pintu saat mendengar gagang pintu ditarik. Terlihat Fasya dengan wajah pucat masuk kedalam ruangannya. Segera dia berdiri lalu menyongsong Fasya.


"Sayang, kamu tidak apa apa? Wajah kamu pucat sekali?" Sabda menyentuh dahi Fasya. Khawatir jika istrinya sedang tidak enak badan.


"Aku hanya pusing saja," sahut Fasya.


Sabda lalu memapah Fasya menuju sofa yang ada diruangan kerjanya.


"Kalau sakit, harusnya tak perlu kesini."


"Tapikan aku harus menemanimu kontrol Mas. Siapa tahu gipsnya udah bisa dilepas. Kamu bilang sudah risih dengan benda itu."


"Ya, aku memang tak nyaman dengannya," sahut Sabda sambil menatap gips yang ada dilengannya. "Tapi aku bisa pergi dengan Felix atau Sarah, jadi kamu tak perlu repot repot mengantarku."


"Tapi aku tak rela jika kamu pergi dengan Sarah," Fasya langsung naik darah. Dia memang sangat cemburu pada sekretaris suaminya itu.


Sabda tersenyum melihat Fasya yang cemberut. Segera dia menyambar bibir wanita itu dan mengulumnya sebentar.


"2 jam lagi dokternya baru buka. Mungkin kau mau tidur dulu agar pusingnya hilang." Sabda meraih bahu Fasya lalu menyandarkan kepala istrinya itu kedada bidangnya.


Seketika Fasya membekap mulutnya. Perutnya seperti diaduk aduk saat mencium bau parfum Sabda. Padahal parfum itu dia yang memilihkan karena sangat suka baunya. Tapi sekarang, entah kenapa dia merasa mual saat mencium parfum tersebut.


"Uk, uk." Fasya menarik kepalanya dari dada Sabda. Menutup hidung dengan telapak tangan agar tak mencium bau yang membuatnya mual.


"Kamu kenapa?"


Fasya tak bisa menjawab. Isi perutnya seperti sudah naik ke tenggorokan. Cepat-cepat dia berlari ketoilet dan memutahkan isi perutnya.


Sabda tergopoh gopoh menyusulnya. Memijat tengkuk Fasya agar wanita itu merasa lebih nyaman.


"Sepertinya kamu masuk angin," ujar Sabda.


Fasya membersihkan mulutnya dengan air lalu membalikkan badan. Karena masih lemas, dia menyandarkan punggung diwastafel.


"Lebih baik, saat dirumah sakit nanti, kamu sekalian periksa."


Fasya menggeleng. "Sepertinya aku hanya masuk angin, butuh istirahat."


"Kalau begitu kita pulang saja."

__ADS_1


"Tapi bukannya kamu harus kontrol ke dokter?"


"Bisa ditunda, sebaiknya kita pulang saja."


Sabda membereskan meja kerjanya lalu pulang bersama Fasya.


.


.


.


Sementara di mall, Nuri kaget saat melihat saldo diatm. Waktu dia mengambil bulan lalu, tak sebanyak ini. Tapi sekarang, saldonya bahkan sudah menjadi 2x lipat.


"Teteh kenapa, kok malah bengong?" tanya Hilma yang ikut Nuri masuk kebilik atm. "Uangnya gak ada ya Teh?" Hilma seketika lemas. Sepertinya mimpi untuk punya sepatu baru harus dia kubur dalam dalam.


"Ada kok." Nuri lalu menekan nekan tombol dimesin atm.


Mata Hilma melotot melihat uang berwarna merah keluar dari mesin atm. Dengan semangat tinggi, dia segera menarik uang tersebut. "Wah, banyak sekali uangnya Teh." Hilma yang tak pernah melihat uang sebanyak itu, tak berkedip melihat uang ditangannya. Belum hilang kekagumannya pada uang itu, tiba tiba keluar lagi uang yang sama banyaknya dengan tadi dari mesin atm.


"Te, Teteh ngambil uang lagi?"


Nuri mengangguk sambil mengambil uang tersebut lalu memasukkan kedalam tas. Dia juga mengambil uang ditangan Hilma lalu menyimpannya kedalam tas.


Setelah keluar, Hilma tak sabar untuk menceritakan pada ibu dan Fatma tentang uang tetehnya yang banyak.


"Hilma, udah ayo. Ini udah sore, ntar kemalaman pulangnya," potong Nuri.


Hilma tak jadi bercerita. Mereka lalu lanjut kesebuah toko sepatu. Hilma yang sudah tak sabar, langsung menghambur lebih dulu untuk mencari sepatu idamannya.


Bu Titin hanya bisa menelan ludah susah payah saat melihat harga sepatu disini yang jauh lebih mahal daripada di pasar.


"Kita pulang aja Nur. Besok pagi aja ke pasar. Disini harganya mahal mahal," bisik Bu Titin.


"Teh, ini bangus gak?" Belum sempat Nuri menjawab, Hilma sudah datang sambil menunjukkan sepasang sepatu.


"Iya bagus, cobain atuh."


Hilma langsung mencoba sepatu tersebut. Dia yang terbiasa dengan sepatu murahan dipasar, langsung jatuh cinta pada sepatu yang dicobanya, rasanya sangat nyaman dikaki.


"Empuk banget Teh, enak dipakai." Hilma mondar mandir sambil sesekali berpose ala model.


Bu Titin bingung sendiri. Dia takut penjaga toko akan marah jika Hilma mencoba terlalu lama tapi tak jadi dibeli.


"Hilma, buruan dilepas, entar dimarahin orangnya." Bu Titin menaik lengan Hilma kesebuah bangku lalu melepas sepatunya.


"Yah, padahal belum puas mencobanya," celetuk Hilma.

__ADS_1


"Gak papa, kan besok dan seterusnya, bisa dipakai."


Bu Titin yang baru melepas sebelah sepatu langsung menatap Nuri. Apa ini artinya, Nuri akan membelikan sepatu itu untuk Hilma?


"Jadi aku boleh beli yang ini Teh?"


"Hem, tentu saja."


Hilma langsung bersorak kegirangan. Sekali lagi, Bu Titin menatap harga yang ada disepatu itu. Kalau beli di pasar, bisa dapat 4 pasang.


"Kamu gak mau beli sekalian Fat?" tanya Nuri pada Fatma yang hanya diam saja.


"A, aku juga boleh beli Teh?"


"Boleh. Kamu pilih aja yang kamu suka."


"Bebas milih yang manapun Teh?"


"Iya."


"Kamu mau beli tas juga gak?" Nuri bertanya pada Hilma.


"Tas? Mau Teh mau."


Nuri menahan air matanya. Hanya sebuah tas dan sepatu, adiknya sudah sebahagia ini.


Sementara Fatma memilih sepatu, Bu Titin langsung mendekati Nuri.


"Nur, apa tidak apa apa mengeluarkan uang sebanyak ini?"


"Tidak apa apa Bu. Ini uang nafkah yang diberikan Kak Sabda, jadi aku bebas menggunakannya."


"Tapi sebentar lagi kamu lahiran. Apa tak lebih baik, uangnya disimpan buat lahiran?"


Nuri menyentuh perutnya. Sebentar lagi, anaknya akan lahir. Melihat Sabda yang tak pernah datang menemuinya, mungkin dia sudah tak menginginkan bayi itu. Tapi kalau ingat Sabda menambah saldo direkeningnya, sepertinya pria itu masih menginginkan anak itu. Nuri tak bisa menebak apa yang ada dipikiran Sabda.


Rasanya Nuri berat untuk memberikan anaknya pada Sabda. Selain karena sudah sayang, dia juga takut anaknya diperlakukan buruk oleh Yulia dan Fasya. Tapi dia sudah telanjur menandatangani perjanjian pra nikah. Dia tak punya hak atas anaknya setelah Sabda menceraikannya.


Ingin melawan Sabda, rasanya percuma. Pria itu terlalu kuat untuk dilawan. Dengan uang dan kekuasaannya, Sabda bisa melakukan apapun. Bahkan menemukannya yang bersembunyi dilubang semutpun. Dia sadar, dia bukan lawan yang seimbang untuk seorang Sabda.


Selesai membeli sepatu, mereka lanjut ke toko tas lalu berakhir disebuah restoran ayam goreng.


"Teh, Teteh kenal orang berbaju hitam dibelakang Teteh gak?" tanya Fatma.


Nuri menoleh, melihat orang yang dimaksud Fatma. "Enggak, teteh gak kenal."


"Perasaan, sejak tadi dia ngikutin kita. Aku juga pernah beberapa kali melihatnya disekitar rumah."

__ADS_1


Nuri mengerutkan kening. Jangan-jangan, pria itu adalah orang suruhan Sabda.


__ADS_2