
Siang hari, Sabda dan Nuri sampai di Jakarta. Karena tak ada tempat yang bisa dituju, Sabda membawa Nuri kesebuah hotel yang tak jauh dari kantornya.
"Maaf, untuk beberapa hari, kita tinggal dulu disini. Apartemen milikku sedang disewa orang. Kalau rumah lain, terlalu jauh dari kantor. Nanti setelah aku dapat tempat tinggal, kita pindah."
Nuri mengangguk sambil tersenyum. Jangankan tinggal dihotel berbintang seperti ini, diajak tinggal di kos kosan satu petak, dia juga tak masalah.
Sabda melihat jam ditangannya. Sebenarnya dia letih setelah menempuh perjalanan jauh. Tapi dia tak punya waktu untuk sekedar istirahat sejenak. Dia harus segera ke kantor karena klien akan datang sekitar 1 jam lagi. Sabda tipe orang yang tepat waktu, lebih suka menunggu daripada ditunggu.
"Aku harus segera ke kantor. Kamu tak apa- apakan aku tinggal sendirian?"
"Aku sudah besar, bahkan sebentar lagi sudah disebut ibu. Mana mungkin aku takut sendirian dikamar hotel sebagus ini."
Sabda tersenyum sambil mengusap puncak kepala Nuri. "Makasih sudah mau ikut denganku ke Jakarta."
"Cepat pergi, ntar telat." Nuri tertawa ringan sambil mendorong punggung Sabda menuju pintu.
"Heis, kenapa kau malah mengusirku," sewot Sabda.
"Karena Kakak bilang, klien ini sangat penting. Jadi jangan sampai dia kesal karena menunggu Kakak."
"Ya sudah aku pergi dulu. Kamu segera istirahat. Bye bye boy." Sabda mengecup perut Nuri lalu keluar.
Nuri berdiri didepan pintu. Menatap punggung Sabda hingga pria itu hilang dari pandangannya.
.
Sesampainya dikantor, Sabda langsung disambut oleh Felix. Asisten pribadinya itu sudah menyiapkan apa saja yang dibutuhkan Sabda untuk meeting siang ini. Masih ada waktu 30 menit untuk bersiap siap. Sabda yang merasa sangat lelah, menyandarkan punggung sambil memijat tengkuk yang terasa pegal.
"Apa ada hal penting yang terjadi saat aku tidak ada?"
"Nyonya Fasya beberapa kali kesini untuk mencari Bapak."
Sabda membuang nafas kasar. Sepertinya Fasya masih belum menyerah. "Hanya dia yang mencariku?" Tanya Sabda sambil membuka berkas yang tadi dibawa Felix.
"Bu Yulia, beliau juga datang mencari anda."
"Tapi kau tidak mengatakan apapunkan?"
Felix menelan ludahnya susah payah. Dia memang tak memberitahu dimana Sabda berada. Tapi barusan, dia memberi nomor telepon Nuri pada Yulia.
"Maafkan saya Pak."
"Apa maksud kamu?" Sabda yang awalnya menatap berkas, langsung mengalihkan tatapannya pada Felix.
Tatapan Sabda membuat Felix sedikit gemetaran. "Sa, saya memberikan nomor telepon Nuri pada Bu Yulia."
Sabda langsung melotot sambil mengumpat. Bisa bisanya Felix melakukan hal tanpa minta izin dulu padanya.
"Sekali lagi saya minta maaf Pak." Felix menunduk dalam saking takutnya. "Bu Yulia hanya ingin minta maaf pada Nuri. Saya pikir, dengan memberi nomor teleponnya, Bu Yulia bisa meminta maaf via telepon pada Nuri. Sekali lagi saya minta. Saya kasihan melihat beliau yang sepertinya sangat ingin meminta maaf pada Nuri."
Sabda menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Menyandarkan punggung dikursi sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Untuk kali ini, percayalah pada Ibu anda. Dia terlihat sangat menyesal dan tulus ingin meminta maaf pada Nuri."
Suara ketukan dipintu menghentika obrolan mereka. Ternyata sekretaris Sabda masuk untuk memberitahu jika klien sudah datang.
Felix bernafas lega. Setidaknya, Sabda tak ada waktu untuk memarahinya sekarang.
.
.
.
Dering ponsel mengganggu tidur nyenyak Nuri. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, dia meraih ponsel yang ada diatas nakas dan langsung menekan tombol hijau.
"Hallo." Ucapnya dengan suara serak, khas bangun tidur.
"Nuri."
Deg
Mata Nuri langsung terbuka lebar saat mendengar suara Yulia. Padahal tadi, dia pikir yang menelepon adalah Sabda. Segera di melihat layar ponsel. Mulutnya menganga saat melihat nomor tak dikenal yang menelepon, bukan Sabda. Gara gara bangun tidur dan nyawanya belum kumpul, dia jadi kurang fokus.
"Hallo, Nuri." Yulia kembali berbicara karena Nuri hanya diam saja.
"Iya Bu." Meski merasa tak nyaman, Nuri tidak memutus sambungan begitu saja.
"Kamu pasti terkejut ibu meneleponmu? Maafkan Ibu, Nuri."
"Ibu tahu, kesalahan ibu sangat fatal dan tak pantas dimaafkan. Tapi ibu akan tetap minta maaf. Ibu menyesali semua yang ibu lakukan padamu." Yulia terdiam sesaat. "Dan pada cucu ibu."
Air mata Nuri langsung menetas. Setelah sekian lama, akhirnya Yulia mau mengakui anak yang dia kandung sebagai cucunya.
"Ibu menyesal telah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Dan yang paling membuat ibu merasa bersalah," terdengar suara isakan Yulia. "Ibu hampir saja mencelakai cucu ibu sendiri. Ibu ingin sekali bertemu denganmu. Meminta maaf secara langsung dan mengembalikan cincin pernikahanmu."
"Cincin? Bukankah cincin itu sudah dijual?"
"Tidak." Yulia menggeleng meski Nuri tak bisa melihat. "Sebenarnya Tutik tidak menjual cincin tersebut, dia memberikannya padaku. Aku sengaja bilang dijual agar kau tak memaksa meminta balik cincin itu."
Ada notif pesan masuk diponsel Nuri. Saat dia melihat, ternyata Yulia mengirim foto cincin pernikahan Nuri yang ada padanya.
"Bisa beritahu ibu alamatmu di kampung? Ibu ingin kesana untuk mengembalikan cincin dan minta maaf."
Nuri hanya diam, membuat Yulia sadar diri jika untuk memaafkan dirinya apalagi percaya jika dia sudah berubah, tentu bukan hal yang mudah. Sudah terlalu banyak perlakuan buruknya pada Nuri.
"Tidak masalah jika kau keberatan. Aku akan memberikan cincin itu pada Sabda," pungkas Yulia. Entah kenapa, nada suara Yulia yang terdengar pasrah itu membuat Nuri iba. Dan sejak tadi saat mertuanya itu bicara, terdengar sangat tulus. Sepertinya, ibu mertuanya sudah benar benar menyesal.
"Saya ada di Jakarta Bu."
"Jakarta?" Yulia pikir Nuri masih dikampung. "Sabda?"
"Kak Sabda juga ada di Jakarta. Tapi dia tak bersama saya, dia ada dikantor."
__ADS_1
Yulia bernafas lega. Jadi tebakannya benar, selama ini, Sabda ada bersama Nuri.
"Nuri, ibu tahu jika selama ini, ibu sudah jahat sekali padamu. Tapi bolehkah ibu minta satu hal?"
"Apa?"
"Jaga Sabda." Tangis Yulia pecah saat mengatakannya. "Sabda sendirian, Nuri. Dia kehilangan orang orang disisinya. Saat ini, hanya kamu yang dia punya."
Mendengar Yulia menangis, Nuri jadi ikut menangis karena baper. Meski masih akan menjadi ibu, dia paham apa yang Yulia rasakan. Kasih sayang ibu yang tak akan pernah terputus, sepanjang hayat. Sejahat apapun Yulia padanya, wanita itu sangat menyayangi Sabda.
"Sebenarnya, ibu ingin bertemu langsung dan meminta maaf padamu. Tapi jika kau tak berkenan, tak apa apa."
Nuri turun dari ranjang, membuka korden dan melihat sebuah cafe yang tepat berada didepan hotel.
"Oceano cafe, saya tunggu disana, jam 5 sore." Sekarang masih belum jam 4, masih ada waktu untuk dia dan Yulia bersiap siap. Dan mungkin Sabda sudah pulang dijam itu. Jadi dia bisa menemui Yulia bersama Sabda.
"Terimakasih Nuri, ibu akan datang." Sambungan telepon diakhiri setelah itu.
.
.
Yulia, wanita itu sangat senang karena Nuri akhirnya mau diajak bertemu. Setelah bersiap-siap, dia memasukkan cincin Nuri kedalam tas, tapi sesaat kemudian, dia ambil lagi dan taruh di saku celananya. Benda itu kecil, dia takut terselip didalam tas dan malah hilang.
"Mau kemana Bu?" tanya Fasya yang tak sengaja berpapasan dengan Yulia yang baru keluar kamar.
"Bukan urusan kamu," sinis Yulia lalu pergi begitu saja.
Fasya berdecak sebal sambil mengepalkan kedua tanganya. Ingin sekali dia robek mulut pedas mertuanya itu.
"Wah, Nyonya cantik sekali." Puji Bi Diah yang sedang membersihkan meja diruang tamu. Beberapa saat yang lalu, ada tamu, teman Fasya.
"Emang biasanya gak cantik?"
"Cantik sih, tapi hari ini terlihat gimana gitu. Auranya kayak keluar, jadi terlihat lebih cantik dari biasanya."
"Halah, bisa saja kamu." Yulia tersipu malu sambil menepuk lengan Bi Diah. "Jok, mobil sudah siapkan?" teriaknya pada supir yang ada diteras.
"Sudah Nyonya."
"Saya pergi dulu Bi, nitip rumah ya." Setelah mengatakan itu, Yulia langsung keluar dan berjalan menuju mobil. Dia langsung mengajak Joko berangkat agar tak telat sampai di Oceano cafe.
Sementara dihotel, Nuri tengah bersiap siap untuk bertemu dengan Yulia. Ternyata hingga hampir jam 5, Sabda tak kunjung pulang. Mungkin meetingnya belum selesai, pikir Nuri. Dia akhirnya mengirim pesan pada Sabda. Memberitahu jika jam 5, dia akan ke Oceano cafe untuk bertemu Yulia.
15 menit sebelum pukul 5, Nuri keluar dari kamar. Tak butuh waktu lama untuk sampai didepan hotel. Nuri menatap tulisan Oceano cafe diseberang jalan. Setelah beberapa bulan tak bertemu, sebentar lagi, dia akan bertemu lagi dengan Yulia.
BRAKKK
Terjadi benturan yang sangat keras.
"Ada kecelakaan." Orang orang yang berada tak jauh dari TKP langsung datang untuk melihat sekaligus memberikan pertolongan.
__ADS_1