9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 41


__ADS_3

Sabda terbangun dipagi hari. Saat menoleh kesamping dia mendapati ibunya yang masih tertidur diranjang ektra yang ada di ruang rawatnya.


Pelan pelan Sabda mencoba untuk bangun. Tangannya yang retak digips, membuat dia kesulitan untuk bergerak. Dia berusaha meraih ponsel yang ada dinakas. Sengaja tak membangunkan ibunya karena hendak menelepon Felix.


Saat pertama kali membuka ponsel. Dia langsung melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Felix. Sepertinya efek obat membuat tidurnya tadi malam sangat nyenyak, sampai sampai, dia tak mendengar saat ponselnya berdering. Tapi untungnya ibunya tak menjawab panggilan tersebut.


Sabda membuka pesan dari Felix. Seketika dia bernafas lega saat Felix memberitahu jika dia telah berhasil menemukan Nuri.


Segera dia menghubungi Felix untuk mengetahui kondisi Nuri saat ini.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Sabda begitu panggilannya terjawab.


"Dia baik Pak. Maaf, semalam karena Bapak tak menjawab telepon. Jadi saya mengambil keputusan sendiri."


"Maksud kamu?" Sabda tak bisa bicara kencang karena takut ibunya mendengar.


"Saya sudah mengantar Nuri pulang ke kampung halamannya. Maaf jika keputusan saya salah. Tapi semalam, Nuri menangis dan bersikeras mau pulang. Takut dia kenapa napa jika naik bus, jadi saya putuskan untuk mengantarnya sampai rumah."


Lega sekali Sabda mengetahui jika sekarang, Nuri sudah ada di rumah orang tuanya dalam kondisi baik baik saja. Setidaknya, dengan tahu dimana Nuri berada, dia masih bisa memantaunya. Mungkin disana memang lebih baik daripada dirumahnya.


"Lalu kau, dimana sekarang?"


"Saat ini saya ada di hotel. Kami sampai dini hari tadi. Setelah mengantarkan dia, saya langsung pamit." Sebenarnya ibu Nuri menawarinya untuk istirahat dirumahnya, tapi Felix merasa sungkan.


"Suruh seseorang untuk selalu mengawasi Nuri. Aku mau dia selalu dalam jangkauanku. Dan sewaktu waktu, aku bisa tahu seperti apa kabarnya."


Setelah selesai urusan Nuri. Sabda mencoba menghubungi Fasya. Dia merasa bersalah pada wanita itu. Tapi seperti yang ibunya katakan semalam, ponsel Fasya tidak aktif.


.


.


.

__ADS_1


Dirumahnya, Nuri masih merasa takut saat harus bertatap muka dengan bapaknya. Tadi malam, saat dia baru datang, masih terlihat kekecewaan diwajah pria paruh baya itu saat dia mencium tangannya.


"Nur, kita sarapan yuk," ajak ibunya.


Dulu, makan bersama didepan tv yang digelari tikar, menjadi momen yang sangat menyenangkan bagi Nuri. Tapi tidak untuk saat ini. Dia malu, malu pada bapak dan kedua adiknya. Dia sudah membuat semua orang dirumah ini kecewa. Dan sekarang, kehadirannya entah masih diharapkan atau tidak.


"Kenapa?" tanya sang ibu sambil menyentuh kepalanya.


"Nuri sarapan nanti saja Bu."


"Hei, bukankah dulu kau paling suka saat makan bersama? Apa kau tak ingin mencuri kerupuk Fatma lagi?" Nuri tersenyum saat ingat kebiasaannya dulu. Dia suka sekali mencuri kerupuk adiknya saat gadis itu sibuk makan sambil membaca buku karena ada ulangan harian.


"Ayo keluar, kita sarapan bersama."


Nuri mengangguk. Keduanya lalu keluar kamar. Didepan tv, sudah tampak bapak, Fatma dan Hilma yang sedang menunggu.


"Teh Nuri." Hilma, adik bungsunya yang saat ini duduk dibangku kelas 3 SD, berlari menyambutnya lalu memeluknya.


"Pelan-pelan Hilma, ada dedek bayinya."


"Ish onty, bibi kali Hil," ledek Fatma sambil menyebikkan bibir.


"Heh, sudah sudah. Teteh kalian lapar. Ayo kita sarapan."


Mereka bertiga lalu bergabung. Duduk diatas tikar dimana sudah ada hidangan sederhana diatasnya.


Nuri menatap nanar hidangan didepannya. Sayur daun singkong, sambal dan tempe goreng. Astaga, kakak macam apa dia. Bukannya kuliah yang bener dan membantu perekonomian keluarga, dia malah hamil duluan.


"Kenapa?" tanya Bapak saat melihat Nuri meneteskan air mata. "Makanannya tidak enak? Nanti sore bapak gajian. Bapak belikan ikan agar anakmu ada gizinya."


Nuri menggeleng cepat dengan air mata bercucuran. "Bu, bukan seperti itu Pak." Dia tak mau bapaknya salah paham. "Nuri hanya merasa ber_"


"Sudah sudah, lebih baik kita makan saja," ibu memotong ucapan Nuri.

__ADS_1


Mereka lalu bergantian mengambil serapan. Hanya lauk seadanya, tapi terasa sangat nikmat bagi Nuri. Bahkan mengalahkan kenikmatan makanan dirumah Sabda.


Nuri terlihat sangat lahap, sampai sampai makanan dipiringnya habis lebih dulu daripada yang lain.


"Tambah lagi Nur." Ibu mengambilkan lagi makanan kepiring Nuri. Nuri yang memang masih merasa kurang, segera lanjut makan lagi.


"Suami Teh Nuri gak ikut?" tanya Fatma.


Seketika Nuri kesulitan menelan makanan mendapat pertanyaan seperti itu. Dini hari tadi saat Nuri datang, kedua adiknya memang masih tidur.


"Suami tetehmu kerja," jawab ibu.


"Oh..." Hilma membulatkan bibirnya.


"Padahal aku pengen banget ketemu sama suaminya Teteh," ujar Fatma. "Hari itu pas Teteh nikah, aku mau ikut tapi gak boleh sama Bapak."


"Aku juga gak dibolehin," Hilma menyahuti. "Selain, itu Bapak dan Ibu juga tak punya foto pernikahan Teteh. Jadi sampai sekarang, aku gak tahu gimana wajah suami Teteh."


"Teteh ada fotonya, nanti aku lihat ya?" tanya Fatma.


Nuri bingung menjawabnya. Dia tak punya foto Sabda sama sekali. Apa yang harus dia tunjukkan pada Fatma dan Hilma.


"Eh...kok malah ngobrol. Cepat habiskan sarapannya lalu berangkat sekolah," titah ibu. Dia tak mau Nuri sedih karena pertanyaan-pertanyaan dari adiknya.


Setelah sarapan, kedua adiknya berangkat sekolah. Nuri membantu ibumu membereskan sisa sarapan. Sedangkan bapak, dia masih duduk sambil meminum kopi.


"Gimana cucu bapak, dia sehat?"


Air mata Nuri kembali meleleh mendengar pertanyaan bapaknya. Dia pikir pria itu marah dan tak peduli padanya. Nyatanya, pria itu masih sangat peduli.


Nuri mengangguk. Dia lalu menghampiri bapaknya. Bersimpuh dihadapannya sambil mencium punggung tangannya.


"Maafkan Nuri Pak."

__ADS_1


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Dulu kita juga sudah membahas tentang ini. Harusnya jika sudah tak betah disana, kamu langsung pulang. Buat apa bertahan jika merasa berat," ujar Bapak. Pria itu bisa melihat kesedihan diwajah Nuri. Selain itu, putrinya juga terlihat sangat tertekan. "Kamu tetap putri bapak."


Tangis Nuri makin meledak mendengarnya.


__ADS_2