9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 73


__ADS_3

Pagi ini, Yulia dimakamkan tepat disebelah makam Dennis. Banyak sekali pelayat yang datang kecuali Nuri tentunya. Meski statusnya istri sah, tapi tak ada yang tahu tentang itu. Sabda maupun Nuri, sepakat untuk tidak membuat publik bertanya tanya. Apalagi itu saat berduka, jadi memang lebih baik, Nuri tidak menampakan batang hidunganya.


Fasya ada disana, berdiri disamping Sabda meski tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Bahkan setelah prosesi pemakaman selesai, keduanya pulang menggunakan mobil masing masing.


Selama 3 hari, Nuri yang tinggal dihotel hanya bisa melihat dan bicara dengan Sabda melalui video call. Dan hari, ini hari keempat kematian Yulia, Sabda datang menemui Nuri di hotel.


"Maaf aku baru bisa datang mengunjungimu." Ujar Sabda saat dia baru masuk kedalam kamar.


"Tidak masalah." Nuri menggandeng lengan Sabda menuju ranjang. "Kakak pasti sangat lelah." Terlihat jelas lingkaran hitam disekitar mata Sabda.


Nuri lebih dulu naik keatas ranjang, duduk berselonjoran lalu menepuk pahanya. "Tidurlah disini."


Sabda yang memang sangat lelah, langsung naik keatas ranjang dan merebahkan kepalanya dipaha Nuri. Dia menghadap perut buncit Nuri dan menciumnya. "Hai Boy, maaf papa baru bisa menjengukmu. Papa rindu sekali padamu." Sekali lagi, Sabda mencium perut yang ada dihadapannya.


Nuri menyandarkan bahu dikepala ranjang. Perut buncitnya membuat dia kesusahan duduk tegak. Tangannya bergerak mengusap kepala Sabda.


Usapan lembut Nuri membuat Sabda langsung mengantuk. Dia merasa sangat nyaman tidur dipangkuan Nuri. Tapi dia terpaksa bangun karena teringat satu hal. Sabda merogoh saku celana dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Saat Ibu mengalami kecelakaan, cincin ini ada didalam saku bajunya." Sabda menyodorkan cincin tersebut pada Nuri.


Air mata Nuri menetes saat menatap cincin tersebut. Dia jadi teringat obrolan terakhirnya dengan Yulia. Tak ada seorangpun yang tahu datangnya kematian. Bahkan seseorang yang sehat walafiatpun, bisa tiba-tiba meninggal.


"Bagaimana cincin pernikahanmu bisa ada pada Ibu?"

__ADS_1


"Ceritanya panjang," Nuri menyeka air matanya. "Tapi sudahlah, beliau sudah tidak ada. Tapi satu hal yang pasti, hari itu, dihari Ibu mengalami kecelakaan, harusnya kami bertemu di Oceano cafe."


"Kalian janjian ketemu?" Sabda mengerutkan kening.


"Hem," Nuri mengangguk. "Hari itu alm. Ibu meneleponku. Beliau minta maaf. Selain itu, Ibu juga menitipkan amanah padaku."


"Amanah?"


"Iya, amanah." Nuri mengangguk. "Ibu menyuruhku untuk menjaga Kakak. Entah Ibu sudah punya firasat atau apa. Tapi satu hal yang pasti, Ibu sangat menyayangi Kakak."


Sabda tersenyum, tapi dari sudut matanya, keluar cairan bening. Tangan Nuri terulur, menyeka air mata Sabda dengan sebelah telapak tangannya.


"Apa kau mau memaafkan Ibu?" tanya Sabda.


Sabda meraih kedua tangan Nuri lalu menggenggamnya. "Terimakasih." Air mata Sabda kembali menetes. Dia tahu jika ibunya punya banyak sekali salah pada Nuri. Dan semoga dengan maaf dari Nuri, ibunya bisa pergi dengan lebih tenang.


Sabda memperhatikan cincin yang sedang dipegang Nuri. "Apa kau tidak mau memakainya?"


Nuri menggeleng. "Tidak sekarang."


"Kenapa begitu."


"Aku akan mengenakan jika si pemberi cincin ini," Nuri menatap nanar cincin yang ada ditanganya. "Dia benar benar ingin aku menjadi istrinya selamanya, bukan hanya 9 bulan."

__ADS_1


Sabda merasa tertampar dengan ucapan Nuri barusan. Kalau ingat, jahat sekali dia. Menikahi seorang wanita hanya demi mengambil anaknya saja. Situasi seperti berpihak padanya, menjadikannya seoalah olah adalah pahlawan yang menutupi aib si wanita. Tapi sejatinya dia bukan pahlawan, karena justru dia yang diuntungkan dengan pernikahan itu.


Sabda mengambil cincin yang ada ditangan Nuri. "Maukah kau menikah denganku?"


Nuri menatap Sabda bingung. Menikah, bukankah mereka memang sudah menikah?


"Aku akan menghapus perjanjian itu." Sabda menggenggam tangan kanan Nuri. "Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menemani pria tak sempurna ini menjalani sisa hidup? Nuri, menikahlah denganku."


Mata Nuri berkaca-kaca. Rasanya seperti mimpi. Sabda melamarnya.


"Aku bebaskan kamu dari perjanjian kita Nuri. Bahkan saat kau menolak menikah denganku, aku tak akan mengambil anakmu jika kau ingin mengasuhnya sendiri."


Nuri menunduk, menyeka air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


"Aku mau Kak. Aku mau menikah denganmu." Ucap Nuri sambil mengangguk.


"Apa kau yakin? Aku bukan pria sempurna. Aku tak akan pernah bisa memberimu keturunan." Mata Sabda berkaca kaca. Sampai saat ini, dia belum bisa berlapang dada menerima kekurangannya.


"Aku tidak mencari kesempurnaan, tapi mencari kebahagiaan. Dan aku yakin, Kakak bisa membuat aku bahagia." Sabda seketika langsung memeluk Nuri.


"Terimakasih. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu." Sabda melepas pelukannya lalu mengecup kening Nuri lama. Setelah itu, dia menyematkan cincin pernikahan itu dijari Nuri. "Aku ingin kita menikah ulang setelah kamu melahirkan."


Nuri langsung mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2