
Melihat Sabda masuk kedalam kamar, Fasya yang sedang rebahan diatas ranjang langsung turun. Menghampiri, lalu memeluk Sabda.
"Mas, tolong maafkan aku. Aku khilaf Mas. Aku janji gak akan mengulanginya lagi."
Sabda menguraikan pelukan Fasya. Memegangi kedua bahunya sambil menatapnya dalam.
"Aku bersumpah akan jadi istri yang setia. Aku tak mau berpisah. Aku sangat mencintaimu." Fasya mulai meneteskan air mata.
Sabda menghela nafas lalu menyeka air mata Fasya dengan kedua ibu jarinya.
Fasya merasa senang karena ternyata, Sabda masih memperlakukannya dengan manis. Itu semua pasti karena Sabda yang masih mencintainya. Ya, pria itu pasti tak akan sanggup berpisah dengannya.
"Berhentilah menangis karena tak ada gunanya," ujar Sabda dingin.
Deg
Fasya tercengang mendengar itu. Ternyata perkiraannya salah.
"Tolong maafkan aku Mas. Semua itu terjadi karena aku ingin hamil. Aku takut kehilanganmu, aku takut Nuri merebutmu. Aku mencintaimu Mas. Aku sangat mencintaimu."
Sabda mundur saat Fasya hendak memeluknya.
"Berhenti bilang mencintaiku. Aku muak mendengarnya Fasya. Kau bilang mencintaiku tapi kau tidur dengan pria lain." Sabda tersenyum getir. "Pernahkah kau mengingatku saat kalian sedang bercinta? Atau jangan jangan, kau sudah lupa segalanya karena kenikmatan yang diberikan pria itu."
__ADS_1
Fasya tertunduk malu. Dia tak menyangka jika Sabda akan membahas hal ini.
Sabda pergi dari hadapan Fasya. Berjalan menuju almari lalu memasukkan beberapa baju kedalam koper.
"Mas, kau mau kemana?" Fasya menahan tangan Sabda yang sedang mengemas baju. "Kamu tidak akan pergi karena menghindarikukan?"
"Baguslah kalau kau tahu." Sabda menarik tangannya lalu melanjutkan mengemas barang barangnya.
"Jangan pergi Mas, aku mohon. 5 tahun lebih kita bersama sejak pacaran. Pikirkan lagi tentang itu mas, tolong jangan terburu buru mengambil keputusan untuk berpisah." Ujar Fasya sambil sesenggukan.
Sabda berhenti memasukkan baju lalu menoleh kearah Fasya. "Harusnya kau malu mengatakan itu. Kalimat itu lebih cocok ditujukan untukmu. 5 tahun lebih kita bersama, tapi kau tak bisa menjaga hatimu. Apa kebersamaan kita selama itu tak ada artinya, hingga dengan mudah kamu berpaling kehati yang lain?"
Fasya menggeleng cepat. "Aku tak pernah berpaling darimu Mas. Cintaku tetap untukmu."
Satu kalimat menohok yang mampu membuat lidah Fasya langsung kelu.
"Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi dalam rumah tangga kita Fasya." Sabda menutup kopernya lalu berdiri. "Silakan tinggal disini hingga hakim memutuskan kita bercerai. Dan aku masih akan memberikan nafkah lahir untukmu hingga saat itu. Untuk pembagian harta gono gini, pengacara yang akan mengurusnya. Berhenti membujukku agar berubah pikiran dan tak menceraikanmu. Karena keputusanku sudah bulat. Urusan pencurian sertifikat, aku bisa memaafkan, tapi tidak untuk perselingkuhan. Kalau saja kau tak sedang nifas, aku sudah menjatuhkan talakku sejak kemarin."
Sabda menyeret kopernya keluar dari kamar.
"Mas, aku mohon jangan pergi Mas." Fasya belum putus asa. Dia masih mengekor dibelakang Sabda, berusaha mencegahnya pergi.
Yulia terkejut melihat Sabda menuruni tangga sambil membawa koper. Dibelakangnya, Fasya meraung raung memintanya jangan pergi. Yulia pikir Sabda pulang untuk mengusir Fasya, tapi kenapa malah Sabda yang mau pergi?
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" Yulia menghadang jalan Sabda.
"Aku tidak bisa tinggal seatap dengan Fasya lagi Bu."
"Tapi bukan berarti kamu yang pergi. Ini rumah kita." Yulia yang geram langsung melemparkan tatapan nyalang pada Fasya. "Hei ja lang, keluar dari rumahku," bentaknya.
Sabda menahan tubuh Yulia yang hendak mendorong Fasya. "Sudahlah Bu. Dia masih ada hak untuk tinggal disini sebelum kami resmi bercerai. Jadi biarkan saja dia tinggal disini."
"Tidak bisa begitu Sabda," protes Yulia.
"Tidak akan lama Bu."
"Tapi Ibu tak sudi tinggal seatap dengannya."
"Kalau begitu, anggap saja dia tidak ada disini. Aku pergi dulu Bu." Sabda mencium punggung tangan ibunya lalu pergi.
"Kau mau kemana?"
"Kemanapun asal tak perlu lagi melihat dia."
Fasya tak lagi mengejar. Karena percuma, Sabda pasti tak akan mendengarkan apapun yang keluar dari mulutnya.
"Baiklah, tinggalah disini. Tapi kupastikan, rumah ini akan terasa bagai neraka bagimu," ancam Yulia.
__ADS_1