
Nuri dan Sabda, keduanya berdansa diiringi lagu yang sangat romantis. Sambil menikmati indahnya sunset dan suara deburan ombak yang menenangkan, keduanya hanyut dalam rasa yang sulit untuk diungkapkan.
Kedua lengan Sabda berada dipinggang Nuri, sementara lengan Nuri, mengalung mesra dileher Sabda. Keduanya saling menatap penuh cinta. Mengabaikan orang orang yang menatap iri kearah mereka.
"I love you, Sayang." Sabda berkata sambil menatap kedua netra Nuri.
"I love you more."
Sabda lalu mengecup kening Nuri lama. Rasanya, dunia milik berdua. Dan semua orang yang ada disekitar mereka, hanya figuran yang tak penting sama sekali.
"Aku tak sabar ingin menghabiskan malam panjang bersamamu." Bisik Sabda didekat telinga Nuri.
Nuri terkekeh pelan. Dia bisa maklum, Sabda sudah sangat lama tidak mendapatkan kepuasaan batin. Dan malam ini, pasti akan sangat panjang karena dia harus mengobati dahaga Sabda.
Ketika Sabda hendak menyatukan bibir mereka, buru buru Nuri menahan dadanya. "Tahan, nanti dulu. Ada anak kecil." Nuri melirik kearah Hilma yang sedang asyik makan.
Sabda langsung terkekeh pelan. Hampir saja dia lepas kendali dan mengotori mata suci Hilma dengan adegan yang belum pantas ditonton.
Setelah semua rangkaian acara selesai, semua keluarga Nuri kembali ke hotel. Jika yang lainnya merasa lelah dan ingin langsung istirahat, beda dengan pasangan pengantin baru. Keduanya tak sabar ingin merasakan indahnya malam pertama, terutama Sabda.
Saat keluar dari lift, dia langsung membopong Nuri ala bridal style.
"Kak, malu." Nuri menyembunyikan wajahnya didada bidang Sabda. "Gimana kalau ada yang lihat?"
"Emangnya kenapa kalau ada yang lihat? Kita pakai baju pengantin. Dan siapapun yang melihat, pasti akan paham dengan apa yang kita lakukan.
__ADS_1
"Tapi aku malu."
"Jangan tampakkan wajahmu jika malu."
Mereka berpapasan dengan beberapa tamu hotel dan juga pegawai. Sabda, sedikitpun dia tak merasa malu. Dia yakin orang orang akan memaklumi kegilaan pengantin baru.
Sesampainya didalam kamar, Sabda langsung mencium Nuri yang masih ada dalam gendongannya. Sambil berjalan menuju ranjang, mereka saling berpagutan.
Wajah Nuri memerah saat pagutan bibir mereka terlepas. Sabda menurunkannya diatas ranjang pelan pelan sambil terus menatap kedua mata Nuri.
Sabda hendak kembali mencium tapi dadanya didorong oleh Nuri. "Aku bersihin badan dulu."
"Ok, tapi sebelum itu, berikan aku sebuah ciuman yang panas," goda Sabda sambil mengedipkan sebelah mata.
Nuri tersenyum menggoda. Menarik tengkuk Sabda lalu menciumnya. Suara kecipak dan deru nafas mereka memenuhi seisi kamar pengantin. Setelah ciuman berakhir, Nuri mengecup pipi Dabda lalu turun dari ranjang. Gaun pengantin dengan resleting didepan, membuatnya tak kesusahan untuk melepas. Dia menjatuhkan gaunnya ke lantai lalu berjalan menuju kamar mandi hanya dengan memakai pakaian dallamm.
"Dasar nakal. Berani kau menggodaku sayang." Sabda tersenyum menatap Nuri. Adik kecilnya sudah berontak karena dihadapkan dengan pemandangan yang luar biasa indah. Merasa tertantang, dia menyusul Nuri ke kamar mandi.
"Kok masuk?" Nuri kaget melihat Sabda masuk kedalam kamar mandi sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Karena kau barusan menggodaku." Setelah melepaskan kemeja, Sabda mendekati Nuri lalu memeluknya dari belakang. Dia menciumi bahu Nuri yang terbuka lalu menggunakan gigi untuk menurunkan tali penutup dada. Satu persatu hingga benda itu terlepas dan membuat bagian atas tubuh Nuri polos.
"Kak..." Nuri merasa sangat geli. Nafasnya memburu seiring gerakan bibir Sabda yang mulai menggila. Seperti tak ingin melewatkan satu incipun, Sabda menyium seluruh permukaan tubuh Nuri bagian atas.
"Aww.." Pekik Nuri yang kaget saat Sabda mengangkat tubuhnya. Reflek kedua lengannya langsung berpegangan pada badan Sabda.
__ADS_1
"Aku tak tahan jika harus menunggumu membersihkan badan dulu. Satu ronde, ok?" Ujar Sabda sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi aku tak percaya diri sebelum membersihkan diri." Nuri menggigit bibir bawahnya. Malam pertama ini, dia ingin memberikan yang terbaik untuk Sabda. Dia tak ingin Sabda kecewa.
"Baiklah, kita mandi sama sama agar lebih cepat."
Nuri langsung mengangguk setuju. Dan Sabda, pria itu kembali menurunkan tubuh Nuri.
Karena malu, Nuri mandi sambil menghadap dinding. Meski dibelakangnya Sabda terdeangar sedang mandi, tapi dia yakin jika suaminya itu pasti sedang memperhatikannya.
Tubuh Nuri meremang saat Sabda memegang pundaknya. "Berputarlah menghadapku. Aku ingin menyaksikan sesuatu yang indah." Bisik Sabda ditelinga Nuri.
Nuri menggeleng, Sabda ada dibelakangnya saja, dia sudah malu, apalagi menghadap kearahnya.
"Padahal aku suamimu, tapi sepertinya kau tak ingin suamimu ini menikmati sesuatu yang sudah halal." Sabda melepaskan bahu Nuri lalu sedikit menjauh.
"Bukan begitu." Tak enak hati, akhirnya Nuri membalikkan badan. "Maaf, aku hanya malu, bukan tak mengizinkanmu melihat."
Glek
Sabda langsung menelan ludah. Jakunnya naik turun menyaksikan kemolekan serta kemulusan tubuh istrinya. Dia melangkahkan kaki, mendekat kearah Nuri.
Nuri menggigit bibir bawahnya. Sementara jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Tapi tiba tiba air shower mengucur membuat Nuri kaget.
"Segera bersihkan tubuhmu, aku sudah tak sabar ingin menyantap hidangan utama."
__ADS_1
Nuri segera membilas badannya yang penuh dengan sabun. Sementara Sabda yang sudah selesai, keluar lebih dulu dengan hanya memakai kimono mandi.