9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
Extra part


__ADS_3

Sabda yang baru memasuki kamar tak bisa menahan tawanya. Bagaimana tidak, tingkah White saat menyuusu sangat membagongkan. Bayi gembul berusia 2 tahun itu menyusu dengan posisi terbalik, pantatnya berada dikepala sang sama. Dan herannya, sang mama yang sedang main ponsel sama sekali tak ambil pusing dengan tingkah putranya. Mungkin karena setiap hari selalu seperti itu.


Tak berhenti sampai disitu, tingkah White makin tak karuan. Bocah itu sama sekali tak bisa diam. Berputar kesegala arah, tapi meski badannya berputar tak karuan, bibir tetap menempel pada puncak dada Nuri.


"Sibuk apa sih, suami pulang sampai gak tahu?"


Mendengar itu, Nuri langsung menoleh. Dia tersenyum absurd mendapati Sabda sudah berdiri didekat ranjang. Entah kapan masuknya, yang pasti dia tak tahu sama sekali.


"Papa, papa." White yang sudah bisa memanggil papa segera bangun lalu berjalan ke arah Sabda sambil merentangkan kedua tangan minta gendong.


Takut White terjatuh dari ranjang, buru-buru Sabda menghampirinya dan menggendongnya.


"Anak papa kangen banget nih kayaknya." Sabda meraih pinggang White lalu mengangkatnya tinggi. Diciuminya wajah dan leher bocah itu sampai tertawa cekikikan karena geli. "Tapi mamanya kayaknya gak kangen?" Sabda melirik Nuri yang sedang membenarkan pakaiannya. Dia duduk diatas ranjang lalu menurunkan White disana.


"Apaan sih ngomong gitu." Nuri beringsut mendekati Sabda lalu bergelayut dilengannya. "Mamanya kangen juga." Dikecupnya pipi Sabda sebagai ungkapan jika dia juga merindukan suaminya tersebut. "Jam segini kok udah pulang?"


"Kerjaan dikit, jadi mending pulang, diselesaiin di rumah. Dikantor gak seru, gak ada kalian berdua." Sahut Sabda sambil menarik pelan pipi gembul White. White, bocah itu berdiri didepan Sabda sambil menarik narik rambutnya.


"Sayang, entar Papanya botak loh." Nuri menahan tangan White agar tak kembali menarik narik rambut Sabda. Dia raihnya pinggang baby gembul itu lalu dia dudukkan dipangkuan. Dan White, bocah itu langsung mencari nen nya. Kalau dekat dengan Nuri, dia memang selalu seperti itu, maunya nen terus.


"White, kayaknya udah saatnya disapih deh," ujar Sabda sambil mengusap kepala White.


"Aku juga mikir begitu. Fapi lihat sendiri, dia maunya nen terus kalau dekat aku. Padahal menurutku, dia gak serius loh nyedotnya. Entah keluar atau enggak asinya."

__ADS_1


"Mending nanti malem coba mulai disapih, jangan dikasih nen lagi. Kasih susu di gelas aja. Lagi pula, beberapa bulan lagi, kamu udah mulai kuliahkan?"


Nuri sudah mendaftar disalah satu universitas. Dia tak melanjutkan yang dulu, tapi memulai lagi dari awal sebagai mahasiswa baru.


"Aku nanti pasti kangen banget sama White kalau kuliah."


"Kangen White boleh boleh aja. Yang gak boleh itu, kangen mahasiswa di kampus."


"Ish, apaan sih Kak," Nuri mencubit lengan Sabda sambil cemberut. "Emang dikira aku wanita apaan."


"Iya, iya, maaf." Sabda mengecup bibir Nuri sekilas. "Istri aku ini gak mungkin macem macem." Sebenarnya, dalam relung hati Sabda yang terdalam, dia sedikit gelisah saat Nuri memutuskan untuk kuliah lagi. Dia takut kejadian Fasya kembali terulang. Dikampusnya nanti, Nuri pasti akan bertemu dengan pria yang jauh lebih muda dan tampan daripada dia. "Aku percaya sama kamu, tapi tak percaya sama mereka. Kamu itu cantik, pasti banyak senior yang naksir."


Nuri membuang nafas berat sambil memutar kedua bola matanya malas. "Mana ada sih Kak yang mau sama emak emak kayak aku."


Nuri langsung cekikikan dikatakan mirip anak SMA. "Usia udah mau 23, masa kayak anak SMA. Jadi maba aja, kayaknya udah gak pantes."


"Masih pantes banget. Yakin deh, nanti pasti bakalan banyak senior yang caper sama kamu. Apalagi sebelum mereka tahu jika kamu udah nikah dan punya anak."


Nuri menyandarkan kepalanya dibahu Sabda. Semakin dekat hari pertama kuliahnya, dia bisa melihat kegelisahan suaminya. "Kalau Kakak gak yakin ngelepas aku buat kuliah, aku gak usah kuliah gak papa kok."


Sabda mengecup puncak kepala Nuri. Sebenarnya bukannya tak mengijinkan. Hanya saja, pengalaman diselingkuhi membuatnya takut hal itu terjadi lagi. Tapi melihat semangat belajar Nuri yang tinggi dan keinginan wanita itu untuk membantunya diperusahaan, membuat Sabda tak kuasa untuk melarangnya.


"Gak papa kok kuliah. Asal tetap ingat prioritas utama."

__ADS_1


"Suami dan anak, itukan?" sahut Nuri.


"Bagus." Sabda mengacak pelan puncak kepala Nuri sambil tersenyum. "Dan peraturannya, pulang pergi, aku yang antar jemput."


"Siapp Bos." Sahut Nuri bersemangat.


Sabda mendekatkan wajah mereka lalu mengcup bibir Nuri. Tapi saat hendak memperdalam, Nuri mendorong dadanya. "Nanti White lihat."


"Lihat? Gimana bisa lihat kalau udah kayak gitu." Sabda menunjuk dagu kearah White yang ada dalam gendongan Nuri.


"Cepet banget tidurnya." Nuri melihat kedua mata White sudah terpejam.


Sabda mengambil alih White dari gendongan Nuri lalu memindahkannya kedalam ranjangnya sendiri. White tidur satu kamar dengan Nuri dan Sabda, hanya diranjang berbeda saja. White tidur diranjang yang berukuran kecil dan dikelilingi pembatas agar tidak jatuh.


Setelah memastikan White terlelap, Sabda kembali mendekati Nuri. Tanpa aba aba, dia segera mencium bibir Nuri. "Datang bulannya udah selesaikan?" tanyanya setelah pagutan bibir mereka terlepas. Tapi pagi, dia melihat Nuri sudah menunaikan sholat subuh.


Nuri tergelak, sebegitu beratnya menahan untuk tidak berhubungan bagi laki laki. Puasa seminggu aja, tiap hari nanyak udah selesai belum?


"Jadi pulang awal karena mau itu?"


Sabda terkekeh pelan. Salah satu yang membuatnya pulang cepat adalah ingin segera buka puasa. Rasanya terlalu lama jika harus menunggu nanti malam.


Nuri mengalung kedua lengannya dileher Sabda lalu berbisik. "Udah bersih, siap dieksekusi."

__ADS_1


Sabda mendorong tubuh Nuri hingga telentang lalu mencium bibirnya. Puasa seminggu membuatnya sedikit tidak sabaran.


__ADS_2