9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 55


__ADS_3

Yulia duduk sendirian diruang makan. Memakan sepotong roti yang terasa hambar. Terlalu banyak masalah yang dia pikirkan sehingga tak ada selera makan.


Sejak kemarin, dia tak nampak batang hidung menantunya. Entah dia pulang atau tidak semalam, dia tak peduli lagi. Saat ini, dia hanya sedang menunggu Sabda. Tak sabar menunjukkan bukti perselingkuhan Fasya.


Saat sedang mengunyah sandwich, tiba tiba Fasya datang. Wajahnya masih kusut dan sedikit pucat, sepertinya baru bangun tidur.


"Pagi Bu," sapa Fasya. Dia lalu duduk didepan Yulia.


"Kirain semalam tak pulang?"


"Pulang, tapi agak larut. Ada acara dirumah temanku, jadi bantu bantu dikit."


"Oh..bantu bantu ya. Kirain sekalian nememin dia tidur?" sindir Yulia.


"Enggak, aku tidur dirumah." Fasya masih belum sadar jika mertuanya menyindir.


Fasya mengambil roti. Tapi saat hendak mengoles selai, dia tak menemukan selai buah diatas meja. Dia berteriak memanggil Bi Diah agar membawakannya dari dapur.


Beberapa saat kemudian, Bu Diah datang dengan setoples kecil selai nanas. Dia lalu meletakkan didepan Fasya.


"Sekalian bikinin saya wedang jahe ya Bi." Bi Diah mengangguk lalu kembali ke dapur.


"Kenapa, mual ya?" tanya Yulia.


"Iya Bu. Gak tau nih, masuk angin apa lambung?"


"Apa hamil?" Yulia menyahut cepat.

__ADS_1


Deg


Fasya kaget mendengar mertuanya bicara seperti itu. Selain itu, nada bicaranya juga tak seperti biasanya, terdengar lebih ketus.


"Hamil? Ya gak mungkinlah Bu." Fasya tertawa ringan, berusaha terlihat tenang didepan Yulia. Kemarin saat dia periksa ke dokter bersama Ringgo, hasilnya positif, dia hamil. "Ibu udah denger sendirikan penjelasan Mas Sabda. Jadi tak mungkin saya hamil."


"Ya kali aja ada yang nitip benih dirahim kamu." Ujar Yulia sambil menyeringai tipis.


Fasya yang sedang mengoles selai seketika berhenti. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ibu mertuanya itu, terasa sangat menyebalkan pagi ini. Apapun yang keluar dari mulutnya sangat tidak enak didengar dan seperti menyudutkannya.


"Kenapa langsung diam? Jangan jangan benar ya, kamu hamil?"


"Ibu itu kenapa sih? Pagi pagi omongannya udah gak ngenakin banget. Ibu belum lupakan, anak Ibu itu MANDUL," Fasya sengaja menekankan kata mandul agar Yulia ingat kekurangan anaknya. "Jadi gak usah bahas tentang hamil." Fasya berdiri sambil membawa rotinya. Terlihat sekali raut kesal diwajahnya.


Yulia mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia sakit hati saat Fasya dengan jelas mengatai Sabda mandul. Anaknya memang memiliki kekurangan, tapi tak bisa dijadikan alasan Fasya untuk selingkuh.


"Bi, nanti wedang jehenya antar kekamar ya," teriak Fasya. Dia malas mau menjawab pertanyaan Yulia.


"Ke kamar? mau tidur lagi?" Yulia ikut berdiri.


Fasya menghela nafas kasar. Dia semakin yakin ibu mertuanya tahu sesuatu. Sikapnya sangat berbeda.


"Enak banget jam segini mau tidur lagi. Kamu gak lihat rumah berantakan? Pembantu baru sudah berhenti. Sekarang tak ada Tutik ataupun Nuri yang bersih bersih. Jadi daripada tidur, mending kamu bersih bersih rumah."


Fasya langsung melotot. Bersih bersih rumah, apa gak salah?


"Selama jadi menantu dirumah ini, belum pernah aku melihatmu memegang sapu. Mungkin sekarang saatnya, kamu mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Biar ada gunanya jadi menantu."

__ADS_1


Fasya seketika naik darah. Sampai kapanpun, dia ogah menyentuh pekerjaan pembantu.


"Ngapain bengong, buruan," hardik Yulia..


Fasya tersenyum miring. "Saya dinikahi Mas Sabda untuk dijadikan istri, bukan pembantu."


"Siapa juga yang bilang kamu jadi pembantu. Saya cuma nyuruh kamu bantu bersihin rumah sebelum ada art baru. Lagian, hampir semua ibu rumah tangga itu melakukan pekerjaan rumah. Dan mereka tak merasa dijadikan pembantu. Sepertinya kau terlalu berlebihan."


"Kenapa gak Ibu aja?"


Yulia langsung kicep mendengar Fasya membalikkan kalimatnya.


"Ibu juga gak ada kerjaankan? Jadi daripada Ibu nganggur, mending ibu yang bersihin rumah. Biar ada gunanya."


"Kurang ajar." Yulia mengahampiri Fasya. Tangannya terangkat hendak menampar, tapi Fasya tapi lebih dulu berhasil mencekal pergelangan tangannya.


"Saya bukan Nuri yang bisa Ibu tindas." Fasya menghempas kasar tangan Yulia.


Nafas Yulia makin memburu. "Aku akan mengadukanmu pada Sabda."


"Silakan, aku tidak takut. Ingat, Ibu sudah terlihat buruk dimata Mas Sabda karena kelakuan Ibu pada Nuri. Jadi jangan harap Ibu bisa menjelekkanku didepan Mas Sabda. Dia tidak akan percaya pada Ibu. Dia sudah terlalu kecewa pada wanita busuk seperti Ibu. Wanita yang tega membunuh cucunya sendiri." Puas mamaki mertuanya, Fasya pergi begitu saja.


Tubuh Yulia bergetar. Air matanya luruh. Dia teringat dengan semua kelakuan jahatnya pada Nuri. Dan yang paling membuatnya merasa menyesal, dia hampir saja menghilangkan nyawa cucunya. Satu satunya penerus keluarga ini.


Yulia menatap pungung Fasya yang berjalan menaiki tangga. Dia bersumpah akan menendang wanita itu secepatnya dari rumah ini.


"Sekarang, kau boleh tersenyum dan merasa menang. Tapi saat bukti perselingkuhanmu aku berikan pada Sabda, kau akan menangis darah saat itu."

__ADS_1


__ADS_2