
Dua minggu sudah Yulia pergi. Dan hari ini, untuk pertama kalinya Sabda mengajak Nuri mendatangi makam ibunya. 3 hari yang lalu Ringgo sudah berhasil ditangkap. Karena itu Sabda mulai merasa lebih tenang membawa Nuri keluar rumah. Bagaimanapun, kematian ibunya masih membawa trauma bagi Sabda. Dia takut jika Nuri akan mengalami nasib yang sama.
Nuri datang dengan buket lily putih. Dia meletakkan masing masing 1 diatas makam Yulia dan Dennis. Sabda berjongkok, mendoakan alm.ibu dan adiknya. Sementara Nuri, dia terpaksa berdiri karena tak bisa jongkok dengan perut besarnya.
Aku akan mendampingi Kak Sabda Bu. Tak akan pernah membuatnya merasa sendirian ataupun sakit hati lagi.
Nuri berkata dalam hati sambil menyeka air matanya.
Sabda memegang tangan Nuri, menatap lurus kearah nisan Dennis dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan menikahi Nuri. Aku akan menggantikanmu menjadi ayah untuk anak kalian. Aku janji akan berusaha membahagiakan mereka."
Nuri menggigit bibir bawahnya, menahan agar air matanya tak semakin deras mengalir. Dia tak menyangka jika Tuhan telah menyiapkan rencana yang indah untuknya. Ternyata dibalik kecelakaan yang menimpa Dennis, dia mendapatkan ganti kakaknya.
Setelah dari makam, mereka lanjut ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Hari perkiraan melahirkan Nuri semakin dekat, sekitar seminggu lagi.
Mereka menatap ke layar USG. Melihat janin yang sudah terlihat seperti bayi. Tak seperti awal awal dulu yang hanya berupa bulatan kecil.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Sabda yang tak sabar ingin tahu keadaan anaknya. Padahal tanpa bertanyapun, Dokter akan tetap menjelaskan.
"Semuanya bagus Pak. Berat badannya cukup, air ketubannya juga jernih. Dan kepala janin sudah masuk kepanggul."
"Maksudnya Dok?" Sebagai pria yang masih baru akan menjadi ayah, Sabda tak paham penjelasan dokter.
"Kepala janin sudah masuk kepanggul, artinya waktu persalinan sudah dekat."
__ADS_1
Mendengar itu, perasaan Sabda langsung membuncah. Dia tak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya.
"Apa itu artinya istri saya sudah harus berada dirumah sakit? Maksud saya, apakah kami sudah harus bersiap siap, menginap di rumah sakit? Astaga, bagaimana saya harus menjelaskan."
Dokter tersebut sampai tertawa melihat kebingungan Sabda, begitu pula dengan Nuri. Meski ini kehamilan pertamanya, Nuri sering membaca artikel tentang kehamilan, jadi dia sedikit banyak sudah paham.
"Tidak perlu menunggu dirumah sakit Pak. Nanti baru jika mengalami kontraksi dan terjadi pembukaan, ibu bisa menunggu dirumah sakit. Untuk saat ini, bisa pulang dulu. Dan jika sampai 7 hari kedepan belum mengalami tanda tanda mau melahirkan, bisa kembali kesini untuk periksa."
Sabda dan Nuri mengangguk paham.
"Untuk mempermudah dan mempercepat proses persalinan, usahakan tubuh selalu bugar. Perbanyak minum air putih, makan makanan yang bergizi, jalan kaki, latihan pernafasan dan rutin melakukan hubungann suami istri."
Sabda dan Nuri saling menatap saat mendengar kata terakhir dokter. Hubungann suami istri, mana mungkin mereka melakukan itu. Meski status mereka suami istri, jelas mereka tak boleh melakukan itu.
"Apakah melahirkan normal itu sangat sakit Dok?" Bukan Nuri yang bertanya, melainkan Sabda. Beberapa kali dia melihat adegan di tv dan mendengar cerita orang jika melahirkan itu sangat sakit. Bahkan taruhannya nyawa.
Sabda menatap Nuri. Kenapa rasanya dia tak tega jika Nuri harus merasakan itu.
Dokter wanita itu lalu memegang tangan Nuri yang terasa dingin. "Tidak perlu merasa takut Bu. Itu hanya perumpamaan. Fokuslah pada kebahagiaan menjadi ibu daripada rasa sakitnya. Sehingga perasaan senang itu, bisa mengalihkan rasa sakit anda. Melahirkan sudah menjadi kodrat wanita. Dan lihatlah, tak ada yang kapok melahirkan. Mereka akan terus menambah anak meski melahirkan itu sakit. Ibu tahu kenapa? Karena kebahagiaan memiliki anak melebihi sakit saat melahirkan."
"Bolehkah jika kami langsung meminta operasi caesar?" tanya Sabda. Menurutnya itu adalah jalan pintas agar Nuri tak perlu merasa sakit.
"Boleh Pak. Tapi jika tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan, dianjurkan untuk normal."
"Tapi_"
__ADS_1
"Aku ingin berusaha normal dulu Kak." Nuri memotong ucapan Sabda.
"Lihatlah, istri anda sangat bersemangat. Sebaiknya anda dukung dia." Dokter tersebut tersenyum pada Nuri. Senang melihat semangatnya yang mau berusaha normal dulu.
.
.
Hari ini, Sabda dan pengacaranya mengunjungi Ringgo yang ada ditahanan. Tujuannya datang karena ingin tahu apa motif Ringgo melakukan tabrak lari pada ibunya.
Sabda mencengkram erat bangku yang dia duduki saat melihat polisi membawa Ringgo untuk bertemu dengannya. Rahang Sabda mengeras. Kalau saja tak ingat ini kantor polisi, sudah pasti dia akan menghajar Ringgo.
"Kenapa kau melakukan itu pada Ibuku? Apa salahnya?" Tanya Sabda sambil menatap Ringgo tajam.
Tapi anehnya, Ringgo malah tertewa. Pria itu benar benar psikopat yang tak ada takut takutnya.
Brakk
Sabda berdiri sambil menggebrak meja karena emosi melihat Ringgo yang tersenyum puas.
"Tolong jaga sikap anda Pak." Pengacara yang mendampingi Sabda mengingatkannya.
Sabda menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Setelah merasa lebih tenang, dia kembali duduk.
Tapi sekarang, justru Ringgo yang berdiri. "Nyawa dibayar dengan nyawa." Ujarnya sambil menatap Sabda tajam. "Pak kami sudah selesai." Ringgo memanggil polisi. Dia merasa tak ada yang ingin dia bicarakan dengan Sabda. Setelah itu, polisi kembali membawanya masuk ke sel tahanan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Sabda memikirkan arti dari perkataan Ringgo tadi. Nyawa dibayar dengan nyawa, apa maksudnya? Sampai akhirnya, dia ingat penyebab Fasya keguguran. Ya, ibunya yang mendorong Fasya hingga keguguran. Jadi itu yang dimaksud Ringgo. Dia membalas dendam untuk kematian anaknya yang ada dirahim Fasya.