
Fasya yang sakit hati dengan perlakuan Sabda, datang menemui Ringgo. Disana, di apartemen pria itu, Fasya mengungkapkan segala isi hatinya sambil bercucuran air mata. Berkali kali dia menepuk dadanya yang sesak karena sakit hati Sabda mengabaikannya dan lebih memilih mencari Nuri.
"Sudahlah, anggap saja wanita itu menang sekarang. Tapi sebentar lagi, saat kau hami. Aku yakin Sabda akan kembali padamu. Kembali menjadikanmu prioritasnya," Ringgo coba menghibur. "Tapi kalau tidak, tinggalkan saja dia. Aku akan menikahimu."
Fasya memijat kepalanya yang terasa pusing. Dia pikir setelah Nuri pergi dari rumah itu, semuanya akan kembali seperti semula. Tapi sayangnya, dia keliru. Dan sekarang, jalan satu satunya untuk mengukuhkan posisinya hanya dengan hamil.
"Aku harap, wanita itu tidak ditemukan." Ujar Fasya dengan kedua telapak tangan mengapal.
"Sudahlah sayang, lebih baik kita usaha lagi bikin anak. Semakin sering usaha, semakin besar kemungkinan untuk jadi."
Tanpa menunggu persetujuan Fasya, Ringgo langsung mengulum bibir wanita itu. Setelah di Jepang waktu itu, mereka memang belum pernah melakukannya lagi.
"Biarkan aku memuaskanmu sayang. Akan kubuat kau melupakan semua masalahmu. Terima saja kenikmatan yang akan aku berikan." Ringgo makin memperdalam ciumanya. Tangannya menyingkap kaos yang dikenakan wanita itu lalu menguasai dadanya.
Mendapat rangsangan dari dua arah, Fasya tak bisa menahan desa hannya. Tapi tiba-tiba, ponselnya berdering. Membuat kegiatan panas itu terhenti sejenak.
"Siapa?" tanya Ringgo.
"Mertuaku."
"Matikan saja. Palingan dia mau menanyakan kenapa kamu belum pulang? Besok saat dia tanya kenapa kau tak pulang? Bilang saja jika kau menginap dirumah temanmu karena masih marah dan kecewa pada Sabda."
"Kau benar." Tanpa pikir panjang, Fasya langsung mematikan ponselnya.
.
.
__ADS_1
.
Yulia berjalan tergesa gesa dilorong rumah sakit. Wanita paruh baya yang baru beberapa saat lalu mendapat kabar jika putranya kecelakaan, merasa saat cemas. Air matanya tak berhenti mengalir. Belum hilang trauma kehilangan Dennis karena kecelakaan, sekarang ditambah Sabda pula kecelakaan.
Sesempainya didepan UGD, dia melihat ada 2 orang polisi.
"Dimana Sabda, dimana anak saya?" tanya Yulia sambil berurai air mata.
"Anda ibunya Pak Sabda?" tanya salah seorang polisi.
"Benar, saya ibunya."
"Anak Ibu sedang ditangani didalam."
Yulia meraung raung didepan UGD, sampai sampai polisi tersebut bingung untuk menenangkannya. "Kondisinya tak terlalu parah, Ibu tak perlu cemas seperti ini."
Bagaimana kondisi Sabda Dok?" tanya Yulia saat seorang dokter keluar dari UGD.
"Dia tidak apa-apa Bu. Lengannya mengalami retak sedikit dan hanya luka ringan saja," jawab dokkter.
"Boleh saya melihatnya?"
"Silakan."
Sementara Yulia masuk kedalam. Seorang polisi ikut masuk dan satunya lagi meminta keterangan pada dokter.
"Aku tidak apa-apa Bu." Ujar Sabda saat melihat ibunya menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Ibu takut Nak, ibu takut. Ibu takut kau akan meninggalkan ibu seperti Dennis." Meski sudah melihat kondisi Sabda yang tidak terlalu parah, Yulia masih saja belum bisa berhenti menangis.
"Aku tidak apa-apa Bu, hanya luka ringan saja. Ibu tak perlu khawatir."
Polisi lalu meminta keterangan Sabda. Setelah itu mengembalikan barang pribadi milik Sabda termasuk ponsel yang polisi ambil dari dalam mobilnya.
Sampai Sabda dipindah keruangan rawat, Fasya belum menampakkan batang hidungnya.
"Dimana Fasya Bu?"
Yulia menghela nafas berat ditanya seperti itu.
"Kenapa Bu?"
"Fasya belum pulang. Setelah kalian bertengkar dan kau pergi, dia juga pergi. Sampai Ibu dapat kabar dari polisi jika kau kecelakaan, Fasya belum pulang juga. Ponselnya juga tidak aktif."
Sabda merasa bersalah. Sepertinya dia sudah sangat melulai hati Fasya hingga perempuan itu pergi dan menonaktifkan ponselnya.
"Dia pasti sangat kecewa padamu. Bisa bisanya kau pergi mencari Nuri tanpa memikirkan perasaannya." Yulia terlihat kesal. "Coba kau bayangkan jika berada diposisinya. Bagaimana jika istrimu lebih mementingkan pria lain, coba bayangkan Sabda."
"Kalau saja Ibu tak berbuat nekat hingga Nuri pergi, semua juga tak akan seperti ini Bu."
Yulia langsung terdiam. Dia pikir Sabda sudah lupa apa yang terjadi sore tadi. Tapi sepertinya tidak.
"Seperti apa aku harus menjelaskan pada Ibu jika aku sangat menginginkan anak tersebut."
"Kau bisa punya anak sendiri. Untuk apa kau menginginkan anak itu? Dan lihat apa yang terjadi padamu sekarang? Kalau saja kau tak nekat mencarinya, kau tidak akan mengalami kecelakaan."
__ADS_1
Sabda menghela nafas berat. Kepalanya makin sakit mendengar ocehan ibunya. "Sudahlah Bu, aku ingin istirahat." Saat ini tubuhnya sangat lelah. Ditambah efek obat, matanya terasa sangat berat.