
Sabda menatap takjub bayi mungil yang ada dalam gendongannya. Dia sangat tampan seperti Dennis. Kulitnya kemerah merahan dan hidungnya sudah terlihat mancung karena kedua orang tuanya memang berhidung mancung. Alisnya tebal, begitupun dengan rambutnya.
Tak henti henti Sabda menyeka air mata bahagia yang meleleh dari sudut matanya. Perasaannya membuncah, tak bisa lagi diungkapkan dengan kata kata. Rasanya seperti mimpi, dia menjadi seorang ayah sekarang.
Nuri, wanita itu masih terbaring diatas ranjang. Karena efek anestesi, dia masih merasa lemas. Ya, akhirnya Nuri melahirkan secara caesar sesuai permintaan Sabda.
Ingin sekali Nuri melihat wajah putra yang baru dia lahirkan, tapi matanya susah sekali untuk dibuka.
"Apakah putraku tampan?" tanya Nuri.
Sabda mendekatkan bayi mungil itu pada Nuri. Sayangnya Nuri belum bisa melihat dengan jelas, pandangannya masih terlihat buram.
"Dia sangat tampan Sayang. Mirip sekali dengan Dennis."
Reflek Nuri membayangkan Dennis. Air matanya menetes saat teringat pria itu. Dennis, bisa dibilang dia salah satu pria paling tampan di kampus. Bagaimana dia tak tergila gila pada pria itu. Meski banyak wanita yang menyukai Dennis, tapi Dennis memilihnya. Dennis adalah cinta pertama sekaligus pria pertama yang merenggut kesuciannya. Bukan karena paksaan, tapi suka sama suka. Efek pergaulan dan tidak adanya kontrol orang tua membuat dia lupa daratan saat itu.
"Hei, kenapa menangis?" tanya Sabda. "Kau merindukan Dennis?"
"Apakah boleh?"
"Boleh, asal jangan melebihi rindumu padaku."
Sudut bibir Nuri tertarik keatas. Dia tersenyum dengan mata setengah terbuka. Matanya sungguh tak bisa diajak bekerja sama, berat sekali untuk dibuka.
"Lihatlah Boy, mamamu tersenyum. Cantik sekali bukan?" Sabda berbicara pada bayi dalam gendongannya. "Kita berdua adalah guardian angelnya. Jadi kita harus memastikan jika mama selalu tersenyum. Jangan pernah membuat dia menangis, kecuali tangis bahagia."
Bagaimana mengkin Nuri tak baper mendengar kalimat Sabda barusan. Pandai sekali Sabda membuatnya tersanjung dengan kata kata manisnya.
"Beruntung sekali dia, memiliki ayah pengganti seperti Kalak."
"Aku yang beruntung karena memiliki kalian berdua." Sabda ingin menggenggam tangan Nuri. Sayang tak bisa karena kedua tangannya masih sibuk menggendong baby boy. "Makasih Nuri, kau telah membuatku merasa sempurna ditengah ketidak sempurnaanku."
"Stop bicara seperti itu Kak, aku tidak suka. Tidak ada manusia sempurna dimuka bumi ini. Jadi berhenti menganggap, jika hanya dirimu yang tidak sempurna."
"Hatimu sangat luas Nuri."
__ADS_1
"Ya, luas sekali. Sayangnya, tempat yang luas itu hanya dipenuhi oleh seseorang saja, yaitu pria bernama Sabda Mahendra."
Sabda tak bisa menahan senyum. Kalimat Nuri memang terdengar seperti candaan belaka, tapi tetap saja, dia merasa senang.
"Apa Kakak tak lelah menggendongnya terus. Letakkan saja dia didalam box," ujar Nuri.
"Aku tak akan pernah lelah menggendongnya. Hanya sekali ini aku menjadi ayah Nuri. Jadi aku ingin menikmati masa masa ini. Masa yang akan aku kenang seumur hidup." Sabda mencium kening dan pipi baby boy, membuat bayi mungil itu menggeliat. Untung tidak sampai bangun.
"Papa tak sabar melihatmu tumbuh besar. Nanti kita akan bermain bola bersama. Tidak, tidak, bukan bola. Ayahmu adalah pemain basket yang handal, kau pasti menuruni bakatnya itu."
Basket? Astaga, Nuri benci sekali dengan basket. Bukan karena oleh raganya, tapi karena saat Dennis beraksi dilapangan basket, para wanita lebih banyak fokus padanya dan meneriakkan namanya. Dan hal itu, tentu saja membuat Nuri sangat kesal.
.
.
.
Sore hari, keluarga Nuri dari kampung datang. Bapak, Ibu dan Hilma. Fatma tak bisa ikut karena dia ada kegiatan disekolah dan tak mungkin izin.
"Hilma, gak boleh pegang dedek bayi. Cuci tangan dulu," Ibu memperingatkan.
Tanpa menjawab, Hilma langsung menuju toilet untuk cuci tangan.
Bu Titin dan bapak langsung mendekati Nuri yang berbaring di atas brankar. Bu Titin, dia langsung mencium kening Nuri sambil menangis sesenggukan.
"Ibu kenapa nangis?" tanya Nuri.
"Kamu sehatkan Nak?" tanya Bapak.
"Alhamdulillah Pak."
"Ibumu nangis terus sejak dengar kamu dioperasi. Maklumlah, mendengar kata operasi, dia langsung membayangkan yang tidak tidak," lanjut bapak.
"Nuri baik baik saja Bu, jangan menangis."
__ADS_1
"Maaf kalau sudah membuat Ibu dan Bapak cemas. Sabda yang meminta Nuri dioperasi. Melihat Nuri kesakitan, Sabda tidak tega," terang Sabda.
"Tidak apa apa," sahut Bapak. "Yang penting ibu dan anak sehat, selamat. Pakai cara apapun tak masalah."
"Apakah sakit sekali? Kata orang orang, setelah caesar, sakit mau ngapa ngapain." Ibu masih terlihat cemas. Apalagi jika ingat cerita tetangganya yang bilang, jika operasi caesar sangat sakit. Setelah anestesi hilang, tubuh akan terasa panas. Tak bisa bergerak, jangankan duduk, miring saja susah.
Nuri menggeleng sambil tersenyum. "Tidak sakit Bu. Kak Sabda pilih yang paling bagus, jadi tidak sakit."
"Pasti mahal sekali." Ibu menoleh ke arah Sabda. "Terimakasih ya Nak."
"Sudah kewajibab saya Bu."
Disaat para orang dewasa tengah berbincang dan sibuk menanyakan kondisi Nuri. Hilma yang sudah keluar dari toilet langsung fokus ke dedek bayi.
"Teh, namanya siapa?" tanya Hilma.
"Belum dikasih nama," sahut Nuri.
"Gimana kalau dikasih nama Danu saja. Singkatan dari Sabda, Nuri."
Perkataan Hilma langsung disambut tawa oleh semua orang. Bisa bisanya di kepikiran sampai kesitu. Danu? Apa nama itu terdengar keren?
"Ngasih nama itu tidak boleh ngasal," jelas Bapak. "Seperti nama tetehmu, Nurida, artinya cahaya pertolongan Allah. Dan kamu Khilma, artinya kemuliaan. Nama harus dipikirkan baik baik."
"Terus dikasih nama apa dong?" Hilma mengetuk ngetuk telunjuknya dipelipis. Gayanya sudah seperti orang yang lagi mikir keras.
"Ngapain kamu yang sibuk mikir." Ibu berjalan mendekati Hilma, melihat cucunya yang ada didalam box. "Biar Aa yang nyariin nama." Beliau lalu ke toilet untuk cuci tangan, tak sabar ingin segera menggendong cucu pertamanya.
"Bu, aku juga mau gendong," rengek Hilma saat melihat ibunya menggendong bayi kakaknya.
"Jangan sekarang. Dia masih sangat kecil. Nanti kalau udah agar besar, kamu boleh gendong."
"Tapi kalau cium, bolehkan Bu?"
Melihat ibunya mengangguk, Hilma langsung mencium pipi yang masih kemerah merahan tersebut.
__ADS_1